XXXV

50 10 13
                                        

HAPPY HALLOWEEN!!!

👻🎃👻🎃👻🎃👻🎃👻🎃

***

"Lo sama Dayana masih ribut?", tanya Haikal begitu Ujian Akhir Semester mereka berakhir. Arin hanya menghela napasnya kasar.

"Baikan sana! Ributin apa sih kalian sampe diem-dieman nyaris sebulan?", tanya Yovita.

"Akunya yang jahat, makanya Dayana marah sama aku"

"Ya udah lo minta maaf sana"

"Nah iya, bener kata Haikal. Coba kamu samperin"

"Gimana aku mau minta maaf? Setiap aku deketin, dianya langsung pergi"

"Lagi sibuk dia, Rin. Berkas PKL nya dihilangin sama dosbimnya. Makanya dari sebelum UAS dia ngurus berkas lagi. Tahu sendiri, bapendik kampus kalau ngurus berkas ga bisa diajak cepet", jelas Yovita.

"Coba nanti malem kamu samperin dia. Minggu depan kalian udah mulai PKL, jangan sampe PKL kalian masih ribut", saran Haikal.

Oleh karena itu, malamnya Arin menghampiri Dayana di rumahnya. Tentu saja Dayana kaget karena Arin menghampirinya malam begini.

"Kenapa, Rin?"

"Maafin aku, aku tahu aku bukan sahabat yang baik. Tapi aku juga bener-bener bingung harus cerita kaya gimana. Maafin aku ya, Day. Aku janji ga akan nutupin apapun ke kamu. Maafin", mohon Arin, wajahnya sudah ditundukkan dalam. Siap menangis kapanpun juga.

"Apa sih?", tawa Dayana. Arin mengangkat kepalanya, melihat Dayana tertawa.

"Kok ketawaaa?", rengek Arin.

"Aduuuhh. Emang iya aku kesel sama kamu. Jahat banget ga cerita apapun. Udah gitu, ini perkara Jeremy lagi! Gimana ga kesel?". Arin hanya diam, kembali menundukkan kepalanya.

"Tapi aku juga ga bisa diemin kamu lama-lama. Cuma karna kamunya lucu kalo lagi sedih gitu, ya udah aku usilin. Eh tapi aku langsung kena karma, berkas PKL aku dihilangin. Jadi akunya sibuk banget ngurus berkas"

Arin menatap Dayana tidak percaya. Jadi selama ini, hanya dirinya yang diliputi rasa bersalah?

"Jahat banget siiih", tangis Arin.

"Hey! Lebih jahat siapa ya?", tanya Dayana, lalu memeluk Arin yang menangis.

"Udah ya, abis ini jangan main rahasia-rahasiaan lagi. Kalau ada apa-apa, kita harus terbuka ya! Maaf juga ya, kalau aku ngomong ga enak ke kamu, sampe kamu jadi ga nyaman cerita ke aku", ujar Dayana setelah sesi berpelukan mereka. Kini mereka sedang duduk di ruang tamu rumah Dayana.

"Iyaaaa", jawab Arin. Kemudian Arin menceritakan pada Dayana tentang keputusannya memaafkan Jeremy. Dari perasaan bersalahnya, saran dari Mark, pertemuan dengan Jeremy, hingga mobil Benz yang diduga milik Haikal.

"Rin.."

"Apa?"

"Bang Jona... belum tahu?"

Arin menghela napasnya kasar. Ada guratan khawatir di wajah Arin. Dayana tahu jawabannya.

"Rin, aku tahu Bang Jona sayang banget sama kamu. Bang Jona juga udah cerita tentang kejadian lima tahun itu ke aku. Lengkap. Lebih lengkap dari cerita kamu waktu itu"

"Kamu sanggup ribut sama Bang Jona?", tanya Dayana.

Arin hanya terdiam. Dirinya masih tidak berani untuk jujur pada ketiga kakaknya, terutama pada Bang Jona.

Blooms in AutumnCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang