XLI

85 10 31
                                        

"Rem, sebelum ke Panti, boleh ke rumah temenku dulu ga?"

Hari ini, Arin dan Jeremy kembali mengunjungi Panti Asuhan. Sejak Arin bersedia mengikuti jadwal Jeremy ke Panti Asuhan, Jeremy jadi aktif mengunjungi Panti Asuhan. Padahal, biasanya Jeremy hanya akan datang sebulan sekali dan saat ada acara-acara tertentu.

"Temen?"

"Iya, temen aku"

"Ada apa emangnya?"

"Kemarin dia buru-buru pulang, sampai ninggalin handphonenya"

Jeremy mengangguk paham. Ia pun mengemudikan mobilnya menuju rumah teman Arin.

"Nah, itu yang ada tulisan Autum Florist", tunjuk Arin. Jeremy pun dengan segera menepikan mobilnya.

"Kamu tunggu sini ya", ujar Arin sambil melepaskan seat belt-nya.

"Aku ikut ya"

"Boleh. Yuk"

***

Mark benar-benar ingin menyumpah serapahi Mike begitu Mike menghubunginya via email. Mengapa Mike mesti menyuruh Arin untuk mengantarkan handphonenya? Mark merasa tidak enak karena harus merepotkan Arin. Ditambah lagi, hari ini Papanya sedang bersantai di rumah sambil menonton siaran televisi di Minggu pagi. Pasti Papanya akan menggodanya seperti duu.

"Kamu mau pergi Mark?", tanya Thomas begitu melihat anaknya berpakaian rapi, lalu duduk di sampingnya. Memakai jeans dan kaos polo. Bukan kaos rumahan dengan celana pendek yang biasa anaknya gunakan di Minggu pagi.

"Engga"

"Terus?"

"Terus kenapa?"

"Ya itu pakaianmu. Kalau ga mau pergi, kenapa rapi banget. Biasanya cuma baju rumahan?"

"Temen aku mau dateng, Pa"

"Oh... Kalvin sama Mike?", tebak Thomas. Mark menggeleng. Thomas pun malas bertanya, ia lebih memilih melanjutkan menonton siaran televisi. Sesekali melihat anaknya yang gusar.

"Ada apa sih kamu? Daritadi Papa lihat kaya lagi kebingungan?", tanya Thomas yang merasa terganggu dengan Mark yang dari tadi duduk – melihat ke arah toko – melihat jam di dinding – duduk di sampingnya – kembali melihat ke arah toko – dan selanjutnya.

Mark kembali menggeleng, lalu duduk di sampingnya. Tapi Thomas tahu, Mark sedang gelisah.

Sebuah suara mesin mobil terdengar berada di depan rumahnya. Dengan cepat, Mark langsung berdiri dan berlari menuju toko. Thomas yang tadinya tidak ingin tahu, jadi penasaran, kini mengintip dari ruang televisi.

Tanpa disadari, kedua ujung bibir Thomas tertarik ke atas begitu melihat siapa yang datang.

***

"Maarrkk", panggil Arin. Tubuh Jeremy mendadak menegang. Mark? Siapa itu?

Belum ada lima detik sejak Arin memanggilnya, Mark sudah berada di hadapan mereka, membukakan pintu.

Jeremy menatap pria yang berada di hadapan Arin. Begitu pula Mark menatap Jeremy yang berdiri di belakang Arin. Tatapan keduanya terasa tidak bersahabat.

"Mark!", panggil Arin, menyadarkan Mark yang menatap tidak suka pada Jeremy. Bagaimana tidak suka? Walaupun Mark mendukung Arin untuk memaafkan Jeremy, tetap saja Mark tahu kejadian enam tahun yang lalu.

"I.. iya?"

"Nih, handphonemu", ujar Arin sambil menyodorkan handphone Mark. Mark menerimanya.

"Makasih ya. Maaf ngerepotin".

Blooms in AutumnCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang