Chapter - 42

3.1K 142 1
                                        

Hello teman-teman, mau info kalau chapter kali ini agak pendek soalnya aku lagi kurang enak badan dan otakku agak ngandet buat nulis.

Semoga suka ya, jangan lupa VOTE, KOMEN & ADD TO YOUR READING LIST.
Jangan lupa juga untuk cek ceritaku yang judulnya HALF OF ME.

Happy Reading.
Love L.K

Seperti biasa Candice sedang berada di cafe untuk bekerja hari ini.
Pagi ini ia berangkat ke cafe dari apartementnya dengan bus.
Belakangan ini Shawn sedikit sibuk karna ia sedang melakukan proses pembuatan album barunya yang berkolaborasi dengan Jessica.

Malam tadi Candice sengaja memutuskan untuk tidur di apartementnya, mengingat ia harus mengecek pekerjaan kantor yang sudah beberapa hari lalu di kirimkan oleh Michael.

Candice belum memberi tau Shawn siapa dirinya yang sebenarnya karna memang ia merasa belum menemukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semua itu pada Shawn.

Krincing...
Krincing...
Bunyi bel yang berada di pintu cafe menandakan jika ada customer yang datang, namun Candice menghiraukannya karna ia sedang berada di dapur untuk menghias beberapa kue yang baru saja matang.

'Biar saja toh ada Natalie, Miranda, dan juga Anne yang bisa melayaninya.' Batinnya lalu melanjutkan pekerjaannya itu.

"Candice, apa hazelnut muffin sudah selesai?" Tanya Miranda menghampiri Candice yang masih berkutik di dapur.

"3 menit lagi baru akan siap." Kata Candice melihat timer yang berada di oven.

"Baiklah, panggil aku jika sudah siap tetapi kau santai saja, tidak usa terburu-buru."
Candice sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Miranda, biasanya Miranda selalu menyuruhnya untuk lebih cepat karna takut customer itu menunggu terlalu lama.

Miranda yang mengerti akan pandangan Candicepun sedikit terkekeh.
"Aku mengerti, kau pasti heran kan kenapa aku bilang untuk tidak terburu-buru? Kau tau kali ini tamu yang datang adalah seorang pengusaha muda terkenal yang sering masuk majalah itu." Jelas Miranda.

"Ia sangat tampan Candice, biar saja ia menunggu sedikit lama, hitung-hitung aku bisa cuci mata bukan?" Katanya membuat Candice terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.

Muffin yang di pesan oleh Miranda sudah siap dan Candice juga sudah memberikannya pada Miranda.
Karna pekerjaannya di dapur sudah selesai maka Candice memutuskan untuk membantu yang lainya untuk melayani para customer yang datang.

"Candice." Panggil seseorang dengan suara baritonnya ketika Candice melewati sebuah meja.

"Mike?Kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya Candice ketika ia menyadari jika yang memanggilnya itu adalah Mike.

"Aku kebetulan lewat tadi, dan kufikir tidak ada salahnya mencoba mampir ke cafe ini." Kata Mike.

"Duduklah, kau tidak sedang repot bukan?" Tanya Mike membuat Candice menggelengkan kepalanya lalu duduk di hadapan Mike.

"Aku baru tau jika cafe yang beberapa kali kau ceritakan ternyata adalah cafe ini." Kata Mike membuat Candice terkekeh.

"Kau ini tidak berubah, kau pasti juga tidak tau apa nama cafe ini sebenarnya, makanya kau tidak tau bahwa ini adalah cafe dimana tempatku bekerja padahal aku sudah sering menyebutkan namanya saat bercerita di rumahmu." Kata Candice yang membuar Mike tertawa.

Candice memang sudah sangat hapal dengan sifat Mike, lelaki itu tidak pernah menghafal nama-nama tempat yang ia anggap tidak terlalu penting tetapi jika kau tanya nama perusahaan-perusahaan maka ia sangat amat menghafalnya bahkan alamatnya pun ia sangat hafal.

"Apa kau selalu memiliki waktu kosong di jam seperti ini?" Tanya Mike.

"Ya, cafe memang cenderung lebih sepi di saat pukul 3 seperti ini." Jawab Candice lalu mereka mulai berbincang mengenai banyak hal hingga Mike memutuskan untuk meninggalkan cafe itu.

Candice berdiri dari kursi namun tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang karna merasa pusing.
Mike yang masih berada di dekat Candice langsung menahan tubuh Candice karna takut ia terjatuh.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Mike kahwatir.

"Tidak Mike, kepalaku sedikit pusing, mungkin karna kelelahan." Jawab Candice dengan senyum yang sedikit ia paksakan.

"Kau terlihat sedikit pucat Can." Ucap Mike masih dengan kekahwatirannya.

"Aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan, tenanglah Mike." Kata Candice meyakinkan Mike dan akhirnya Mike mengalah karna ia juga tau sifat keras kepala Candice.

"Baiklah, telpon aku jika kau merasa tidak enak badan. Aku akan menjemputmu, kantorku hanya berbeda beberapa blok dari sini. Mengerti?" Tanya Mike sambil mengusap lembut pipi Candice seperti biasanya lalu dijawab dengan anggukan oleh Candice.

Setelah kepergian Mike, Candice kembali memegangi kepalanya yang masih sedikit terasa pusing.
Ia sadar bahwa dirinya pasti kelelahan karna ia harus bekerja di cafe dan juga menyelesaikan pekerjaan yang Michael kirimkan untuknya, terlebih lagi karna ia belum memberi tau Shawn siapa dirinya sebenarnya, oleh sebab itu ia harus mengerjakan pekerjaan yang di berikan oleh Michael saat ia berada di cafe.

"Candice, kau tidak apa-apa?" Tanya Miranda menghampiri Candice.

"Tidak apa, hanya sedikit pusing."
Jawab Candice memaksakan senyumnya.

"Duduklah, aku akan membuatkanmu teh panas." Kata Miranda lalu meninggalkan Candice.

Tak butuh waktu lama, Miranda sudah membawa secangkir teh panas untuk Candice.

"Minumlah selagi hangat, siapa tau bisa membantu."

Candice menerima teh itu dan mengatakan terimakasih pada Miranda.

"Ngomong-ngomong, kau mengenal lelaki pengusaha itu?" Tanyanya membuat Candice menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Miranda mengerurkan keningnya karna penasaran.

"Mike dan aku sangat dekat, bahkan kami sudah seperti saudara sendiri karna sejak kecil kami sudah berteman baik bahkan aku dan adiknya satu kelas sejak kami berumur 7 tahun. Mike dan keluarganya dulu tidak tinggal di NYC, dulu dia tinggal di Indonesia bahkan jarak rumah kami hanya terpisah oleh 2 rumah dan kebetulan ayahnya dan ayahku adalah teman dekat, dari situ lah aku mulai kenal dengannya."
Jelas Candice membiat Miranda ber o ria.

"Apa dia sudah memiliki kekasih?" Tanya Miranda dengan antusias membuat Candice tertawa.

"Kenapa memangnya? Apa kau mau memintaku untuk menjadikanmu kekasihnya?" Tanya Candice sambil sedikit tertaw.

"Bukan begitu, tetapi aku penasaran karna selama ini berita tentang dirinya tak pernah menunjukkan kalau dia memiliki kekasih, kalaupun ia terlihat bersama wanita ya itu hanya sekedar 1 kali saja, esoknya dia sudah tidak pernah terlihat bersama wanita itu lagi." Katanya membuat Candice mengerutkan keningnya.

"Apa benar? Tetapi setauku Mike memang sosok yang susah di tebak dan tidak suka mengumbarkan urusan pribadinya, mungkin itu lah sebabnya ia tidak pernah diberitakan memiliki kekasih." Jawab Candice yang lagi-lagi membuat miranda ber o ria.

Krincing...
Krincing...
Pintu cafe terbuka dan beberapa orang mulai memasuki cafe.

"Waktunya kembali bekerja." Kata Candice lalu bangkit dari tempat duduknya.

"Oh ya by the way terimakasih untuk tehnya Miranda, aku sudah merasa baikan berkat teh panasmu." Kata Candice lalu meninggalkan Miranda dan memulai pekerjaannya.

Trouble With SuperstarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang