Chapter - 57

3.1K 206 95
                                        

Teng tong!!!!! 4700 guys!!!!
Akhirnya selesai dalam waktu 2 malam.
Aku belakangan ini sibuk banget karna kantor banyak bgt kerjaan karna bentar lg uda mau liburan natal jadi semuanya numpuk, uda gt kerjaan aku di luar kantor juga banyak, tp syukur deh aku bisa sempet nulis sampe sebanyak gini.

Aku harap kalian suka ya sama chapter kali ini, dan semoga ga ada yang demo lagi, ihuii..
Oke deh kalau begitu langsung aja ke ceritanya ya.
Jangan lupa VOTE dan KOMENNYA.

Happy Reading.
Love L.K

Candice POV

Aku terus melangkahkan kakiku.
Jika kalian berfikir aku sedang pergi ke suatu tempat itu adalah hal yang salah.
Aku hanya berjalan mondar mandir di apartement Shawn, memegang ponselku sambil terua berfikir dari tadi.

Berfikir bagaimana caranya untuk mengatakan semua ini pada Shawn.
Berfikir bagaimana jika Shawn tidak menerima kehamilanku.
Itu lah hal yang selalu melintas di pikiranku.

"Kau harus mengatakannya Candice, kau mau menunggu berapa lama lagi?cepat lambat ia harus mengetahui ini semua. Bagaimanapun ia adalah ayah dari anak yang kau kandung, ia harus mengetahuinya."

Kata-kata Mike terngiang di kepalaku.
Benar katanya. Bagaimanapun ia harus mengetahui semua ini.
Meskipun aku takut ia akan menolak anak ini karna melihat prilakunya selama beberapa hari ini tetapi tetap saja ia harus tau.

Beberapa hari sebelumnya Shawn memang kembali ke penthouse hanya saja ia akan selalu langsung pergi ketika mendapat panggilan telpon dari Jessica.

Ia juga sudah tidak terlalu banyak berbicara padaku, bahkan ia juga sudah tidak pernah menyentuhku sama sekali meskipun itu hanya sebuah belaian lembut di rambutku atau yang lainnya.
Bahkan ini juga sudah memasuki hari ke 3 setelah terakhir kalinya ia pulang ke penthousenya dan kembali pergi dengan membawa beberapa buah bajunya yang ia taru di dalam tas.

Berita-berita di televisi dan media cetak juga semakin marak dengan kebersamaan Jessica dan Shawn.
Mereka sering tertangkap sedang bepergian bersama dan melakukan hal-hal mesra lainnya.

Aku kembali menghembuskan nafas beratku.
"Haruskah aku memberi taunya?"
Tanyaku pada diriku sendiri.

Setelah berfikir lama akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya.
Aku menarik nafasku lalu menghembusmannya kembali sebelum akhirnya menelpon Shawn.

Tut...
Tut...
Tut...

"Halo."

"Ha-halo Shawn."
Kataku sedikit gugup.

"Ya Candice."

"Shawn, bisakah kita bertemu?"
Tanyaku dengan hati-hati.

"Ada hal yang harus ku bicarakan denganmu." Lanjutku.
Namuan hanya keheningan di beberapa detik berikutnya hingga kufikir panggilan itu terputus.

"Halo."

"Shawn, apa kau masih di sana?"
Tanyaku dan akhirnya aku mendapat sebuah jawaban.

"Ya, maaf."

"Jadi, apakah kita bisa bertemu?"

"Sure. Aku akan kembali ke penthouseku malam ini.Mungkin ada beberapa hal juga yang harus ku bicarakan."

"Bisakah kau menemuiku di Riveside park saja? Aku akan menunggumu di sana pukul 8.30."
Kataku lalu memutuskan panggilan itu setelah Shawn menyetujuinya.

Aku kembali membuang nafas beratku.
Aku sengaja tidak ingin menemuinya di penthouse karna ku fikir akan lebih baik jika aku mengatakannya di luar, setidaknya mungkin pemandangan di sana akan sedikit menghilangkan kegugupanku.

Trouble With SuperstarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang