Seungwoo menarik nafasnya dalam-dalam, menetralkan detak jantungnya yang tidak pernah berdetak secara normal begitu ia keluar dari rumahnya pagi ini sampai ia berdiri di depan rumah seseorang dan memencet bel rumah tersebut.
Bagaimana pun juga ia harus mengambil tindakan yang tepat. Meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi.
Jangan sampai ia menyesal untuk ke depannya, istilahnya jangan sampai nasi menjadi bubur, walaupun nanti dia bisa rubah menjadi nasi kembali dengan roti tawar.
Setidaknya itu yang sering di nonton oleh Wonjin di youtube.
"Kak Seungwoo" Seorang bocah kira-kira seumur Wonjin tersenyum begitu ia membuka pintu,
"Ngapain pagi-pagi kesini kak? Ayo masuk, biar aku panggil kak Seungsiknya" Seungwoo tersenyum lalu memberikan bungkusan kecil berisi roti kesukaan Subin di dalamnya.
"Padahal baru kemarin aku tanyai kakak ke kak Seungsik, udah hampir satu tahun aku nggak ketemu kakak" Subin berbicara lagi sambil memeriksa bungkusan yang di berikan oleh Seungwoo,
"Eh? Roti kacang? Lo? Kak Seungwoo nggak salah kasih? Kan kakak tau aku alergi kacang?" Seungwoo terdiam saat Subin membuka bungkusan yang ia bawa dan melihatkan roti yang yang di bawa Seungwoo tadi.
"Kamu mau roti rasa apa chan? Beomgyu juga suka roti kan?"
"Ambil yang itu aja woo, Beomgyu suka roti kacang"
"Oke"
Seungwoo berdecak sebal ketika membicaraannya dengan Byungchan kembali lewat, sialnya ia malah membeli roti kesukaan Beomgyu bukan roti kesukaan Subin.
"Astaga, kakak lupa bin. Kayanya tadi waktu beli mikirin Wonjin dulu. Maaf ya" Seungwoo mencubit pipi Subin gemas.
"Kok kamu nggak bilang kamu bakal kesini?" Seungsik turun dari lantai atas dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya dan rambut warna coklat khas seorang Kang Seungsik basah sehabis ia keramas, sebuah kebiasaan Seungsik yang tidak pernah mau mengeringkan rambutnya dengan hairdayer, karena baginya itu akan dengan cepat merusak rambutnya.
"Sini biar aku keringin" Seungwoo membawa Byungchan untuk duduk di ujung ranjangnya dan mulai mengeringkan rambut Byungchan.
Seungwoo menghela nafas ketika banyangan ia mengeringkan rambut Byungchan malam itu dan bagaimana aroma shampo dan tubuh Byungchan yang seperti memabukan untuknya,
"Woo.. Seungwoo." Seungwoo tersentak kaget ketika Seungsik sudah berdiri di depannya dengan bercacak pinggang, "pagi-pagi udah ngelamun. Apa sih yang ngebuat kamu ngelamun?" Ucap Seungsik dan anaknya langsung pergi ke arah dapur untuk membuat sereal, karena ia belum sarapan.
"Kamu udah sarapan belum? Kalo belum aku cuma punya sereal, ayah ibuku lagi pergi ke Jeju" Seungwoo menoleh ke arah Seungsik lalu menggeleng pelan.
"Tadi sudah sarapan. Nggak papa kamu aja, aku tunggu" Seungsik mengangguk samar, ia memperhatikan gerak-gerik Seungwoo yang mengeluarkan ponselnya dan beberapa Seungwoo mengerutkan keningnya.
🍑🍑🍑
"Nggak mau, nggak mau.. nggak mau... ntar gue jadi obat nyamuk.." Byungchan berteriak sambil menggelengkan kepalanya, sudah sekitar 10 kali Sejin membujuknya untuk ikut ke festival bunga bersama dengan Seungyoun.
"Ya udah ajak Gookheon aja.." ucap Sejin lagi dan Byungchan masih berguling-guling di kasurnya.
"Gookheon lagi liburan sama orang tuanya ke Peru"
"Ayolah chan, lo sama gue sama-sama suka bunga. Kalo gue ajak Seungyoun aja ntar yang ada gue emosi lagi" Sejin membaringkan tubuhnya di samping tubuh Byungchan, "ntar kita bikin Seungyoun yang jadi nyamuknya" Sejin masih ngelihat Byungchan yang menutup matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IPA VS IPS | PDX 101
Fanfiction[ END ] Kata orang masa paling enak itu masa SMA ya?? bxb produce x 101
