Aku Mulai Lelah

135 12 3
                                        

Happy Reading

~

~

Di minggu-minggu berikutnya, Aldi justru bertingkah semakin parah. Biasanya, ia selalu mengirimkan bunga atau puisi,tapi kali ini ia mengirimkan kecoa mainan dengan jumlah yang tak sedikit, foto Rey yang disobek-sobek, boneka yang diberi foto Rey dan Rain kemudian ditusuk dan yang terakhir adalah cicak kurang lebih berjumlah 5 ekor.

Rain semakin tertekan dibuatnya. Setelah mendapat kiriman terakhir Rain sampai tidak masuk sekolah selama dua hari. Ia sangat geli dengan hewan sejenis cicak, apalagi saat kotaknya dibuka, cicak itu langsung berlarian hingga ke lengan baju Rain. Hal itu tentu membuat Rain pingsan seketika. Beruntung karena waktu itu sekolah sudah cukup ramai.

Dan karena kejadian itu, kasus peneroran yang menimpa Rain sampai ke telinga dewan guru hingga kepala sekolah SMA Satu Bangsa. Pihak guru juga mengadakan razia dadakan hingga pemeriksaan cctv yang ada di seluruh penjuru sekolah. Namun nihil, tak ada satupun hal yang bisa menguak kasus ini.

"Terus sekarang kita harus pake cara apalagi?? " Ucap Dodit frustasi.

"Gue juga bingung Dit, kenapa Aldi bisa sepinter ini sih. " Sahut Rain seadanya.

"Kok gue jadi curiga sama Tino ya?? " Ucap Manda tiba-tiba.

ucapan Manda membuat Rain dan Dodit menoleh ke arahny dengan raut wajah tak mengerti.

"Iya... Semenjak Tino berantem sama Kak Rey, dia langsung menjauh gitu nggak sih? Bukan cuma dia, Reza sama Ilham juga" Jelas Manda.

"Bener juga sih.... " Rain menghela napasnya kasar.

"Kalo dihitung-hitung, hari ini tepat satu bulan Tino dihajar sama Rey. Dan semenjak dari UKS, Tino nggak pernah ngumpul sama kita lagi" Ucap Dodit.

"Apa mungkin, pelakunya salah satu dari mereka?? " Rain menunjuk Tino dan teman-temannya yang sedang asik bersenda gurau di depan kelas.

"Tino!! Gue yakin, ini semua ulah Tino. Karena cuma dia yang berpotensi buat balas dendam sama lo" Balas Dodit.

"Bener Rain, gue yakin Tino yang ngelakuin semua ini. Bisa ajakan, dia sakit hati sama lo terus dia nekat ngelakuin ini semua?? " Manda mengangguk setuju.

Rain menggelengkan kepalanya cepat.
"Nggak mungkin. Pelakunya bukan salah satu dari mereka. Gue kenal Tino sama Reza dari SMP, apalagi Reza itu tetangga gue"

"Lo taukan, Joker itu berasal dari orang baik yang disakiti dan Maleficent itu berasal dari orang baik yang dihianati. Jadi, bisa ajakan Tino berubah jadi salah satu dari mereka." Ucap Dodit dengan pandangan menerawang.

"Nggak mungkin!! "

Tiba-tiba Rey dan Dimas datang dari arah tangga. Rey berjalan sedikit tergesa-gesa, entah apa yang membuatnya seperti itu. Dimas sendiri hanya mengekori Rey dengan raut wajah yang tak kalah tegang.

"Gimana Kak?? "

"Gue nggak dapat apa-apa Rain. Rekaman cctv minggu lalu juga nggak ada, seolah-olah ada yang sengaja matiin cctvnya" Jelas Rey seraya mengatur napasnya.

"Bener Rain. Gue juga udah tanya sama Pak Mamat siapa yang ngambil kunci loker lo, tapi Pak Mamat nggak tau, dia bilang kuncinya tiba-tiba hilang. " Kali ini Dimas ikut memberi laporan.

"Ya Allah, berilah hambamu ini petunjuk.... " Rain menundukkan kepalanya pasrah.

"Udah tenang aja, kan ada aku. Aku akan selalu jagain kamu" Ucap Rey seraya mengusap bahu Rain.

Akhir-akhir ini Rey memang jadi lebih pengertian. Dia selalu menemani Rain kemanapun ia mau pergi. Bahkan ia selalu mengantar jemput Rain selama satu bulan ini. Menjaga dengan sepenuh hati, Rey juga tak membiarkan seorang pun menyentuh Rain terutama Tino.

RAIN IN THE SUMMERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang