Happy Reading!!!
-
-
-
Pagi ini murid-murid SMA Satu Bangsa dihebohkan dengan adegan baku hantam yang terjadi di parkiran. Perkelahian ini melibatkan Rey dan Tino. Dua cowok tampan yang sama-sama mempunyai banyak penggemar. Entah apa yang membuat mereka berkelahi yang jelas tidak ada yang berani melerai mereka.
Mereka sama-sama liar pagi ini. Wajah mereka sudah sama-sama bonyok dan lebam. Pelipis Rey tampak mengeluarkan darah sementara Tino, ujung bibirnya terlihat sobek. Karena masih pagi jadi belum banyak guru yang datang. Apalagi, parkiran itu cukup jauh dari ruang guru.
Rain yang baru saja sampai cepat-cepat memarkirkan motornya. Kemudian ia berlari menuju tempat berkelahinya Rey dan Tino yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Dengan sisa keberanian yang ada Rain berusaha melerai dua orang yang sama-sama berpengaruh besar dalam hidupnya ini. Ia tidak mungkin menengahi, jadi Rain hanya bisa berteriak sekeras mungkin.
"STOOPPP!!!!!! "
Hening seketika. Perkelahian Rey dan Tino juga mendadak berhenti. Mereka sadar ada Rain di sini. Ada gadis yang selama ini mereka cintai. Mungkin pikir mereka, jika perkelahian ini tetap dilanjutkan Rain akan sangat kecewa.
"Udah berantemnya?? Puas?? Atau kurang lama?? " Tegas Rain, tampak raut kemarahan di wajahnya.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir keduanya. Mereka sibuk mengusap luka masing-masing.
"Keterlaluan kalian berdua!! " Lanjutnya, "muka kalian luka. Kalo mau, ikut gue ke UKS"
Semarah-marahnya perempuan, tetap saja jiwa keibuannya tidak akan tega melihat dua orang babak belur seperti ini. Rain berjalan di depan, sementara Rey dan Tino mengekorinya.
Sesampainya di ruang UKS, Rain langsung mengambil kotak P3K. Dengan cekatan ia membersihkan luka di wajah Rey dengan kapas yang sudah diberi alkohol. Sementara Tino, ia hanya memberinya kapas tanpa membantu untuk membersihkan luka pada ujung bibirnya.
"Kenapa kalian berantem? " Ucap Rain setelah memastikan kedua cowok ini selesai mengobati lukanya.
"Nggak pa-pa" Jawab Rey dan Tino.
Rain mengernyitkan kening. Dalam hal seperti saja mereka bisa kompak, namun mengapa tadi berkelahi. Seakan-akan pokok permasalahannya itu besar, jadi harus diselesaikan dengan kekerasan.
"Nggak ada yang mau jelasin? Kak Rey? Tino? " Tanya Rain lagi.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Hanya gelengan lemah dari keduanya yang menunjukkan ketidakpastian. Rain menghela kasar, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
"Terserah!! " Seru Rain seraya keluar dari ruang UKS.
Masih terdiam. Seakan tidak ada hal yang perlu dijelaskan. Sekarang Rey dan Tino saling menatap. Tatapan yang sama berapinya. Sepertinya ada hal besar yang sedang terjadi. Di detik berikutnya ada suara langkah kaki mendekat.
Muncul di ambang pintu seorang gadis yang kini menatap mereka kesal. Sangat kesal sepertinya. Terlihat dari deru napasnya yang memburu.
"Kok nggak ada yang ngejar sih!! " Protes Rain.
Dasar perempuan, ia yang memutuskan pergi tapi dia juga yang minta dikejar. Rey dan Tino terkekeh samar. Sebenarnya mereka sedang berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.
"Jadi kamu mau dikejar? Bilang dong!! " Ucap Rey seraya berdiri.
"Nggak!! Nggak usah. Udah telat!! " Rajuk Rain yang langsung berbalik meninggalkan ruangan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN IN THE SUMMER
Cerita Pendek"Aku layaknya hujan yang turun saat kau tengah menikmati hangatnya sinar mentari. Aku tau, saat itu kau benci diriku. Namun aku yakin, esok atau lusa saat peluh di dahimu mulai menetes, kau akan mencariku. Kau akan mencari diriku, sebagai hujan yang...
