"Sorry ya kak. Gue tadi lupa... " Ucap Rain yang terlihat sangat menyesal.
"Nggak penting. Gue mau to the point aja. Gue mau lo jadi temen duet gue buat kompetisi bulan depan." Ucap Rey serius.
Rain yang terkejut hanya bisa mematung.
Sumpah demi apa... Kak Rey milih gue ya ampun. Mimpi apa gue semalem. Gumam Rain seraya mematung.
"Lo mau kan? " Tanya Rey sambil menatap tajam ke arah Rain.
"Mau kak, mau banget.... "
"eh, hmm mak-maksud gue i-iya mau.
Jawab Rain yang terlihat tidak bisa menutupi rasa gugupnya.
"oke sekarang kita temuin Bu Rissa."
Tanpa meminta persetujuan dari Rain, Rey langsung menarik pergelangan tangan Rain dan berjalan menuju ruang ekstrakulikuler.
***
Rain berjalan menuju parkiran bersama Manda dan Dodit. Seperti biasanya mereka selalu bersenda gurau seakan-akan semua hal di dunia ini lucu.
Tiba-tiba Manda teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu, dimana Rey dengan terburu-buru menarik Rain.
"Oh iya Rain, tadi tu lo diapain sama kak Rey? Kek ada something yang penting gitu ga sih."
"Oh iya gue lupa belum cerita sama kalian. Jadi gini, tadi kak Rey minta gue buat jadi pasangannya waktu kompetisi bulan depan. Sumpah deh gue hampir pingsan tadi dengernya." Jawab Rain yang kembali salting ditambah dengan terus-menerus memegangi tangan yang tadi dipegang oleh Rey.
"Hah!! Lo serius Rain? " Ucap Manda dan Dodit bersamaan.
"kalian nggak percaya ya? Sama, gue juga sampe sekarang masih nggak percaya. Rasanya kek mimpi disiang bolong." Sahut Rain yang tak berhenti senyum-senyum sendiri.
"Gila sih lu Rain, lo udah berhasil naklukin hati kak Rey yang sekeras dan sedingin es bat--".
"Siapa yang keras dan dingin?" Ucap Rey yang entah sejak kapan ia berdiri di balik tembok perpustakaan itu.
"Eh Kak Rey, ini kak hmm... Anu Kak Rey pasti ada perlu sama Rain kan, kalo gitu kita nggak mau ganggu. Duluan ya kak. " jawab Manda yang terlihat sedikit panik langsung melarikan diri bersama Dodit.
Rain tersenyum segan melihat Rey yang menatap tajam kearahnya. Bahkan keheningan tengah menyelimuti keduanya. Tidak ada yang mau membuka mulut terlebih Rain yang tidak mau kepedean dengan mengartikan tatapan Rey terhadap dirinya itu bukan tatapan biasa.
"Ayo balik" Ucap Rey yang akhirnya mau membuka balon obrolan.
"Hah??" Rain yang tadinya mematung hanya bisa menganga.
"Iya balik, PULANG. Lo mau disini sampe besok?"
"Kunci motor lo mana?" Lanjut Rey lagi.
"Hah kunci motor? Bu-buat apa kak?" Tanya Rain semakin kebingungan namun memberikan kunci motornya kepada Rey.
"Gue mau nebeng lo, nggak papa kan? Pasti nggak papa, motor lo disana ya? Lo tunggu sini biar gue ambil motor lo dulu." Rey kemudian berjalan melewati beberapa sepeda motor lainnya yang sebagian pemiliknya masih belum ada.
Sedangkan Rain hingga kini masih mematung dan menatap lurus ke arah Rey.
***
Sepeda motor Rain yang kini dikendarai Rey sudah melesat dan melebur diantara kendaraan lain. Hari ini ada yang sedikit berbeda karena Rey mengendarai sepeda motor hanya dengan kecepatan 40 km/jam. Rain yang tampak masih tidak percaya hanya bisa terdiam, menunggu Rey membuka obrolan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN IN THE SUMMER
Short Story"Aku layaknya hujan yang turun saat kau tengah menikmati hangatnya sinar mentari. Aku tau, saat itu kau benci diriku. Namun aku yakin, esok atau lusa saat peluh di dahimu mulai menetes, kau akan mencariku. Kau akan mencari diriku, sebagai hujan yang...
