"Tangan lo masih sakit? Gue denger-denger kemarin tangan lo terkilir." tanya Rey sambil memandang santai wajah Rain.
"Udah enakan sih kak, cuma belum bisa digerakin terlalu berlebihan." Jawab Rain sambil memegang lengan kirinya. Rey mengangguk paham.
Kring kring kring kringgg
Bell berbunyi sebanyak 4 kali, itu berarti waktu istirahat telah habis. Mereka harus kembali bergelut dengan mata pelajaran yang mampu menguras tenaga dan pikiran.
"Udah bell tu, ayo balik ke kelas. Gue anterin." Ajak Rey kepada Rain.
Lagi-lagi Rain hanya mengangguk kecil sembari tersenyum. Entah mengapa, menurut Rain setiap kata yang diucapkan Rey adalah mutiara . Karena itulah Rain hampir tak bisa bernapas ketika berbicara dengan Rey.
Mereka kembali berjalan bersama, menyusuri koridor kelas XI. Seperti sebelumnya, mereka masih menjadi pusat perhatian orang-orang. Rey tentu sudah biasa akan hal itu. Apa pun yang berhubungan dengan Rey akan menjadi bahan perbincangan wajib bagi kalangan penggosip.
Rain tentu saja agak risih dengan hal itu. Mengingat dirinya yang memang tidak terlalu populer seperti Rey.
Mereka berdua berpisah setelah Rain berbelok ke pintu kelasnya, sedangkan Rey terus berjalan tanpa mengucap satu kata pun.
"Ciee yang seharian bareng Kak Rey." Ejek Dodit dengan ujung kata yang dibuat-buat.
"ihh apaan sih lo dit. Kalo bukan karena ekskul musik mana mau sih Kak Rey bareng gue dari tadi." Jawab Rain menjelaskan.
"Nah berarti bener dong, lo dari tadi bareng Rey?" Tanya Dodit jail.
"hmm iya sih--" Jawaban Rain menggantung seraya Bu Rosi datang.
"Selamat siang" Ujar Bu Rosi ketika memasuki kelas XI-IPA 2.
Kelas berubah menjadi hening seketika. Bu Rosi adalah guru Matematika yang bisa dibilang galak. Beliau tak akan membiarkan siswanya masuk ke kelasnya apa bila ada yang belum menyelesaikan tugas. Bu Rosi tidak menyukai kebisingan, maka dari itu seluruh penghuni kelas diwajibkan diam ketika beliau sedang menjelaskan.
***
Rain berjalan menyusuri koridor kelas yang ramai. Wajar saja karena ini sudah waktunya pulang. Semangat murid SMA Satu Bangsa tentu sudah terkumpul kembali ketika mendengar bell berbunyi.
Dia menatap sedih ponselnya yang kini sudah tak bernyawa. Dia kebingunan harus pulang dengan cara bagaimana. Dia tidak bisa memesan taxi online atau pun menelpon Mama dirumah.
Rain berjalan dengan menatap lantai yang ia pijak. Dia terus berjalan dan berhenti ketika sampai di pos satpam. Dia terduduk pada bangku yang biasa Pak udin tempati. Memandang risau teman-temannya yang melaju dengan kendaraan pribadi. Pasalnya Rain tidak punya teman akrab yang rumahnya searah dengannya. Dodit tentu saja pulang bersama sepupunya, Anis.
Dia terus melamun, entah apa yang ada dipikiran Rain, tapi dia terlihat sangat menikmati lamunannya.
"Woy, nggak balik lo?" Tanya Rey yang menghentikan sepeda motornya tepat di depan Rain. Sontak membuat lamunan Rain buyar.
"Eh. Lagi bingung kak, nggak ada temen pulang." Jawab Rain lemah.
"Yaudah balik bareng gue aja." Rey menawarkan dengan dingin.
Bagi Rain, tawaran Rey adalah penawaran emas yang sayang untuk dilewatkan. Rain mengiyakan tawaran Rey karena memang tidak ada solusi lain untuk dia sampai kerumah. Angkot pun jarang ada yang lewat ketika siang hari.
Rain bingung ketika Rey tidak melewati arah rumahnya.
" loh Kak, rumah gue kan belok kiri." Tanya Rain kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN IN THE SUMMER
Historia Corta"Aku layaknya hujan yang turun saat kau tengah menikmati hangatnya sinar mentari. Aku tau, saat itu kau benci diriku. Namun aku yakin, esok atau lusa saat peluh di dahimu mulai menetes, kau akan mencariku. Kau akan mencari diriku, sebagai hujan yang...
