HAPPY READING!!!
~
~
Bagaimana bisa, Rey yang biasanya bisa menahan amarah tiba-tiba jadi orang yang ringan tangan. Ia bukan hanya memberikan satu pukulan kepada Tino, tapi bertubi-tubi. Tubuh Tino dibanting ke lantai kemudian Rey memukulnya secara terus-menerus, bahkan ia tak memberi Tino ruang untuk bernapas.
Tidak ada satupun yang berani menghentikan atau setidaknya melerai keduanya. Bahkan Reza dan Ilham yang notabennya adalah sahabat Tino hanya menonton dengan raut wajah takut.
Rain yang masih tertegun berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Ia berlari secepat yang ia bisa kemudian mendorong tubuh jangkung Rey dengan sisa tenaga yang ia punya. Rey tentu saja tak terjatuh karena dorongan Rain, tubuhnya hanya sedikit terhuyung kebelakang. Beberapa detik setelah Rain menatap Rey dengan tatapan tidak suka, kini ia beralih menatap Tino kemudian membantu Tino yang kini tengah dipapah teman-temannya.
"Kak Rey keterlaluan, terlalu kekanak-kanakan tau nggak!!" Ucap Rain sinis. Ia memilih mengekori Tino yang akan dibawa ke ruang UKS.
Sesampainya di ruang uks, dengan lihai tangan Rain bergerak kesana-kemari. Ia bergegas menuju lemari kemudian mengambil kotak yang pertuliskan P3K . Tanpa permisi, Rain langsung membersihkan ujung bibir Tino yang mengeluarkan darah akibat pukulan dari Rey.
Tino merintih kesakitan, namun usapan tangan kiri Rain mampu membuat rasa sakitnya mereda. Ia berusaha tersenyum sambil terus menyadarkan dirinya bahwa Rain sudah dimiliki orang lain. Hanya itu yang selalu ia ingat-ingat bahkan sebelum tidur, Tino selalu mengulang kalimat itu.
"Gimana, udah enakan?? " Tanya Rain khawatir.
"Ehmm kayaknya gue mau beliin Tino minum deh, kasian soalnya. Gue tinggal dulu ya!! " Ucap Manda, kemudian ia menarik Dodit keluar dari ruangan itu.
"Hmm gue juga deh, mau nyusulin Reza ke wc. " Ilham yang merasa mulai ada kecanggungan juga memilih keluar.
Sementara Tino dan Rain hanya menatap heran kelakuan teman-temannya.
"Tino, maafin Kak Rey ya. Gue nggak tau kenapa dia bisa punya pikiran kayak gitu. " Ucap Rain dengan suara lirih.
"Udah nggak pa-pa, gue ngerti kok. Kalo gue ada di posisi Rey, mungkin gue akan ngelakuin hal yang sama." Tino tersenyum lemah.
"Jadi lo nggak marah? "
"Buat apa gue marah, Rey nggak sengaja kok. Santai aja lagi, gue kan tahan banting. " Tino mengacak puncak kepala Rain dengan gemas.
"Tahan banting tap--"
"Jadi ini yang namanya sahabatan!! Berduaan di dalam ruang, tanpa mikirin perasaan pacarnya" Rey tiba-tiba memukul pintu ruang UKS, tentu saja membuat Tino dan Rain terkejut.
"Apaan sih Kak?? Kenapa kamu jadi kayak gini, tiba-tiba marah. Main hajar anak orang gitu aja lagi!! " Decak Rain seraya bangkit dari sebelah Tino.
"Lo lebih belain dia?? "
"Apa?? Lo?? " Ucap Rain tidak percaya.
"Iya, Lo Rain!! Lo lebih belain dia ketimbang gue, yang masih pacar jadi pacar lo!! " Tegas Rey, kali ini emosinya benar-benar meluap.
Rain sampai dibuat gemetar oleh kalimat Rey barusan. Rey terlihat begitu emosi, bahkan ia sampai lupa memanggil Rain dengan sebutan aku-kamu.
"Kak please, jangan kayak anak kecil gini dong. Aku kesini cuma mau ngobatin luka Tino sekaligus minta maaf atas apa yang udah Kak Rey lakuin ke dia. Apa aku salah??" Ucap Rain dengan bibir yang mulai bergetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN IN THE SUMMER
Short Story"Aku layaknya hujan yang turun saat kau tengah menikmati hangatnya sinar mentari. Aku tau, saat itu kau benci diriku. Namun aku yakin, esok atau lusa saat peluh di dahimu mulai menetes, kau akan mencariku. Kau akan mencari diriku, sebagai hujan yang...
