Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku atau mengistirahatkan otakku, bayangan berjumpa kembali dengan wanitaku membuatku sangat bersemangat. Alhasil aku sama sekali tidak bisa tidur seharian. Ketika pagi menjelang aku langsung menarik koperku yang sudah kuisi sebelumnya dan merapihkan diri agar terlihat tampan di depan wanitaku nanti. Selama perjalanan menuju bandara aku tidak bisa menahan rasa yang sangat membucah ini.
Setibanya di bandara aku langsung mencari Fahri yang memegang tiketku dan secara tidak sabaran menunggu lepas landasnya pesawatku. Entah sedang sial atau sedang di permainkan oleh takdir, pesawatku mengalami delay hingga 2 jam sebelum akhirnya menerbangkanku ke sisi wanitaku. Di dalam pesawat pun aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku dan hanya bisa bergerak gelisah hingga membuat Fahri kesal.
"Lu itu gelisah banget... dia gak akan kemana-mana gak usah gelisah gitu lahh.." sindir Fahri ketika sudah kesal melihatku yang seperti cacing kepanasan
"Gak sabar gue buat meluk dia Ri... dia sehat-sehat aja kan?? Gak akan terluka sedikit pun kan.. karena kalau dia terluka sedikit aja, gue bakalan nyesel seumur hidup gue..." ucapku berusaha menenangkan hati ini.
"Tenang aja lahh... muka udah kayak zombie gitu... lu pasti gak tidur kan beberapa hari ini... gimana mau ketemu kalau lu lagi gak didalam zona lu.." ledeknya mungkin melihat lingkar hitam dibawah mataku serta kantung mata yang semakin besar itu.
"Gak bisa tidur.." jawabku pelan dan dia kembali mengacuhkan ku kembali kedunia mimpinya. Meninggalkanku yang gelisah seorang diri.
Dua setengah jam yang serasa sangat lama itu akhirnya berakhir dengan mendaratnya pesawatku di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Bergegas dan gelisah aku mengantri pengambilan bagasi dan menunggu mobil sewaan Fahri datang. Benar-benar penantian yang menghabiskan banyak energy. Gelisah, ragu, dan semua emosi yang tidak pernah aku rasakan mengusik ketenanganku. Aku bersyukur Fahri ikut denganku, karena aku ragu mampu berpikir dengan tenang bahkan untuk berkendara.
Kembali waktu menyiksaku dengan durasinya yang tidak kunjung berkurang. Kegelisahan ini semakin tinggi ketika perjalanan tidak selancar yang direncanakan sebelumnya. Hingga akhirnya penantianku terbayar ketika mobil menghentikan lajunya di depan dekorasi pelaminan yang lumayan mewah itu.
"Assalamualaikum..." sapa Fahri yang langsung dibalas oleh segerombolan suara.
"Waalaikumsalam..." seru beberapa suara menjawab sekaligus
"Ehhh ada Fahrii.. kok bisa disini???" tanya Deby yang ternyata lebih dulu keluar.
"Mau nganter seseorang yang udah berubah jadi zombie 5 hari terakhir ini..." jawabnya sambil memiringkan badannya dan memperlihatkan ku yang bersembunyi di balik badannya.
Belum sempat aku menyapa mereka, Deby sudah menamparku dengan sangat keras. Bahkan lebih keras dari tamparan Mba Ika waktu itu. Aku tidak membalasnya dan hanya bisa merutuki kebodohanku sekali lagi.
"Kalau lu disini, berarti Fahri yang ngebocorin info tentang keberadaan Airin kan..." ucap Deby dengan menatap nyalang kea rah Fahri
"Bukan salah dia Deb.. gue yang memohon padanya.." ucapku memohon pengertiannya
"Apapun alasannya, Fahri udah mengkhianati kepercayaan gue... tapi itu urusan gue sama dia nanti... sekarang yang mau gue tanya, lu mau ngapain disini??" tanyanya dengan sangat judes. Aku tidak tahu kalau teman wanitaku itu bisa sejudes ini.
"Mau ketemu Airin dan minta maaf..." jawabku
"Huh... sebenarnya ini bukan hak gue buat ngelarang kalian supaya gak ketemu lagi... tapi ingat ya Yo.. kelakuan lu ini udah masuk daftar hitam di daftar kami... sekali lagi lu nyakitin dia jangan harap kami akan diam-diam aja..." kali ini Ivon yang berbicara dengan ketusnya.
"Hanya sekadar informasi, Airin belum sampe.. dia masih di Pekan, baru jalan besok pagi bareng teman-temannya.." ucap Icha yang sepertinya baru keluar.
"Gue pikir ada ribut-ribut apaan.. ternyata Rio sama Fahri datang... lu nyesel gak sama sikap lu ke Rin??" tanya Ojan menatapku sengit
"Nyesel, dan gue gak bisa tidur kalau ngebayangin apa yang bakalan dia lakuin pas ketemu nanti..." jawabku menantang matanya.
"Good.. gue suka ngeliat mata lu... udah mulai gue liat rasa sayang dan cinta darisana..." ucap Ojan sambil menggiring Icha masuk kedalam rumahnya.
"Huh... untung aja Rezka sama Retno lagi di hotel... kalau gak kalian bisa diceramahin berjam-jam sama mereka.... Udah dapat tempat nginep??" ucap Ivon sambil menggendong Leo yang terlelap.
"Udah.. satu hotel sama kalian.." jawab Fahri dengan percaya dirinya. Membuatku heran dengan segala kesiapannya. Sungguh aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia.
つづく
KAMU SEDANG MEMBACA
My Wedding Blues (END)
Roman d'amour"apakah dia akan menjadi cinta sejati sekaligus suamiku?" adalah apa yang aku pikirkan setelah menerima lamaran dadakannya malam itu, tapi semakin ku pikirkan semakin aku menjadi takut akan pernikahan. sanggupkah aku menjalani perjalanan menuju kes...
