[COMPLETED]
Jaehyun does sleeping with girls but he will never date. Meanwhile Rose is being too focus on pursuing her career and wanna use Jaehyun for a revenge. They make a complete crazy couple.
"For the rose, though its petals be torn asunder...
"Do you know what friendship is... it is to be brother and sister; two souls which touch without mingling, two fingers on one hand." —Victor Hugo—
"Tidurmu nyenyak?" tanya Rose pada Jaehyun yang berjalan ke arahnya dengan langkah sempoyongan. Gadis itu menyiapkan toasted berry oatmeal untuk sarapan mereka pada Kamis pagi di penghujung April yang cerah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku akan jujur dengan bilang tidak." Jaehyun menjawab sambil mendudukan diri di kursi depan Rose. "Kau bisa lihat lingkar hitam ini kan? Beberapa hari ini jadwal tidurku berantakan sekali."
Mata Rose memicing mengamati lingkar hitam yang Jaehyun tunjuk dengan jarinya. "Hm. Tapi tidak begitu parah kok."
Desah napas Jaehyun terdengar berat. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian memejamkan matanya sesaat. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya. Ia sesekali menceritakan masalah hariannya pada Rose. Gadis itu adalah pendengar yang baik. Ia tahu bagaimana menempatkan diri tiap kali Jaehyun menumpahkan kekhawatiran dan kegelisahan yang memenuhi kepalanya. Rose akan menunggu sampai Jaehyun selesai, kemudian memberikan respon tanpa penghakiman yang membuatnya terlihat seperti seorang psikolog profesional.
Jaehyun hanya enggan mengakui kalau gadis itu beberapa kali terlihat seperti seorang pacar yang baik dan pengertian. Bahkan Rose selalu membuatkan sarapan untuknya. Ia menyukai hampir seluruh masakan gadis itu—kecuali saat Rose memasukkan terlalu sedikit bubuk cabai ke dalam masakannya. Jaehyun suka pedas, sementara Rose tidak. Ia biasanya menambahkan bubuk cabai secara terpisah sehingga membuat Rose sedikit menggerutu karena Jaehyun tidak menerima masakan yang ia buat apa adanya. Biasanya Jaehyun hanya akan membalas dengan kekehan—Rose kelihatan manis kalau marah. Dan ia ingin melihat ekspresi itu untuk beberapa saat.
Tubuh Jaehyun sedikit terkesiap saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kelopak matanya. Spontan tangannya bergerak, kemudian secara tak sengaja menangkap tangan gadis itu di sana. Katanya, "Kalau menaruh sendok dingin seperti ini, matamu akan merasa lebih tenang dan lingkar hitamnya juga akan berkurang. Peganglah, aku mau sarapan. Oh, punyamu aku taruh di sini ya."
Alih-alih memegang sendok di atas kelopaknya, Jaehyun justru membiarkan benda itu terjatuh naas di atas lantai. Tangannya malah meraih pinggang Rose, menarik jatuh gadis itu ke atas pangkuannya. Dengan usil tangannya menelusup dan mulai bergerak pelan di balik kaos yang dikenakan Rose, membuat gadis itu menggeliat.
"Hari ini kau libur kan?" kata Jaehyun. "Kenapa harus bangun sepagi ini? Ini masih jam setengah delapan."
"Aku harus bertemu dengan Bambam. Kemarin dia tidak datang ke Rumah Sakit karena ada urusan mendadak dengan ayahnya. Ganti belajarnya hari ini." Rose sedikit kesusahan untuk bicara dengan stabil terutama saat tangan Jaehyun bergerak semakin atas hampir mencapai pundaknya.