Halo, selamat malam Jumat. I just watched and read some news and it squeezes my heart to see the situation in Beirut right now. Let's pray for Beirut first, may everything gets better soon.
Okay, this chapter is rather short. But please having some snacks or simply lying on your bed so you can enjoy it more. Selamat membaca~
❄
❄
❄
“Everybody’s got a different way of telling a story—and has different stories to tell.”
—Keith Richards—
“Oh ya? Kelihatan sangat bagus buatmu,” kata Rose pada Bambam. Pria itu sedang menunjukkan sepasang sepatu limited edition yang dibeli langsung oleh Lisa dari London sekitar empat hari lalu. Rose hanya melihatnya sekilas lalu kembali berbalik untuk menulis catatan medis pasiennya.
Bambam tidak berhenti menggerutu selama lima minggu tinggal di Pocheon. Mulai dari kota yang minim hiburan sampai sikap Direktur Kim yang sangat tegas sehingga membuat Bambam kesusahan dan tidak punya waktu untuk bermalas-malasan. Rose sama sekali tidak menganggap itu sebagai kesulitan. Malahan dia sangat suka karena suasananya lebih tenang. Terkait Direktur Kim, dia memang pria tua yang sangat tegas tapi handal. Kemampuannya yang mumpuni justru membuat Rose jatuh hati sehingga membuatnya banyak bertanya dan belajar pada dokter bedah veteran tersebut.
Hari ini Rose kelihatan sangat cantik dan elegan dengan gaun putih selutut dan rambut yang diikat ponytail. Tangan kirinya menuliskan beberapa catatan yang rampung lebih cepat daripada yang diperkirakan. Ia menutup catatannya kemudian tersenyum dan berbalik untuk melakukan sedikit peregangan. Penampilan dan sikapnya yang sedikit tak biasa membuat June yang baru datang langsung termanggu. Saking herannya, pemuda itu bahkan sampai menyentuh pundak Bambam—dan si pendek cerewet di sampingnya sama sekali tak mengajukan protes.
“Tidakkah dia kelihatan agak aneh?” gumam June sangat pelan.
“Iya. Sejak datang dia memang sudah kelihatan aneh.” Bambam mengamini pertanyaan June lengkap dengan sebuah anggukan yang datang secara spontan.
“Kira-kira apa alasannya?” June kembali mengajukan sebuah pertanyaan yang dibalas gelengan oleh Bambam. Ia menarik tangannya, kemudian melipatnya di depan dada sambil bergumam, “Noa juga bertumbuh sangat cepat. Anak itu membuat perut ibunya kelihatan semakin besar.”
Mendengar penuturan June membuat Bambam menengok dan menatap kekasih kakaknya dengan mata agak menyipit. “Usianya sudah 25 minggu, wajar saja kalau dia kelihatan sebesar itu. Malahan kalau Noa tidak bertambah besar, Kak Rose akan jadi stress. Hei, kebodohanmu itu benar-benar sudah mendarah daging ya?”
“Meskipun bodoh, tapi nilaiku masih jauh di atasmu,” sahut June dipenuhi unsur sarkastik yang membuat ekspresi Bambam berubah masam. Tangannya kembali menepuk pundak Bambam sambil berkata, “Direktur Kim memintamu datang ke ruangannya. Katanya hasil ujianmu minggu lalu benar-benar kacau. Kurasa dia akan memarahimu lagi.”
Keringat dingin meluncur membasahi pelipis Bambam. Ia menelan ludah saat melihat Direktur Kim yang baru keluar dari UGD. Pria tua penuh wibawa itu sedang berjalan ke arah mereka. June tersenyum mencemooh. Dia tak punya masalah apapun dengan pria di pertengahan 70-an itu, sehingga sikapnya terbilang sangat santai bahkan cenderung menyebalkan. Ia menunduk sangat dalam sambil berdesis pelan, “Ya Tuhan, jangan membuatnya datang ke sini, jangan membuatnya datang ke sini aku mohon.”
“Terlambat Bam, dia sudah mengarahkan pandangannya padamu.” June hanya memanas-manasi dan membuat Bambam semakin gemetar. Batinnya tertawa riang saat Direktur Kim langsung berhenti tepat di depan calon adik iparnya. Ini terasa seperti sebuah bencana bagi Bambam; dan hiburan bagi June.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosé ✔
Fanfiction[COMPLETED] Jaehyun does sleeping with girls but he will never date. Meanwhile Rose is being too focus on pursuing her career and wanna use Jaehyun for a revenge. They make a complete crazy couple. "For the rose, though its petals be torn asunder...
