Chapter Sixty

5.5K 451 138
                                        

Hai~

We are getting so close to an end for this season (I actually decided to make a sequel to show how sweet Jaehyun and Rosé as husband and wife plus as parents as well). So please, leave your vote and comment here. I will really appreciate if you wanna do that my luvs~

(Note: I don't own those edit. It belongs to blackcitytown on IG. She's so talented, I'm crying)



“Your children are the greatest gift God will give to you, and their souls the heaviest responsibility He will place in yout hands. Take time with them, teach them to have faith in God. Be a person in whom they can have faith. When you are old, nothing else you’ve done will have mattered as much.”
—Lisa Wingate—

Five Years Later
Baltimore: Tuesday, February 11th 
Satu senyum kembali terukir di wajah Rose saat mendengarkan Jaehyun bercerita. Secangkir kopi dan beberapa cerita tentang Noa membuat pagi hari keduanya lebih ceria—sangat berbanding terbalik dengan langit kelabu di luar sana.

“Tadi malam Noa sangat lucu,” kata Jaehyun. Ia masih memegang cangkir kopi yang hampir habis seluruhnya—istrinya selalu membuat makanan dan minuman terasa lebih enak. “Dia menahan kantuk karena mau jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Katanya, ‘Papa, let me be the first one that say happy birthday to mama. You hold the cake meanwhile me saying happy birthday and kiss her multiple times. Is that okay for you?’. Kau tahu sayang, dia benar-benar sangat antusias. Kami membeli beberapa bahan untuk membuat kue saat kau pergi ke Rumah Sakit kemarin pagi. Noa agak khawatir kalau kau tidak menyukai kue buatannya. Beberapa kali dia mengatakan kalau kue buatanku kelihatan buruk. Ya, dia tidak berbohong. Tapi pada akhirnya, Noa harus menerima semua saran dan membuat kue bersama papahnya yang tidak punya bakat memasak sebaik mamahnya. Noa mengaduk adonan kue sambil melengguh beberapa kali. Dia tidak menunjukkan keluhan secara eksplisit. Kurasa dia agak khawatir kalau itu mungkin akan menyinggung perasaanku.”

“Noa memang sangat perasa dan pengertian. Sulit dipercaya kalau semua sikap dewasa itu ditunjukkan oleh anak berusia empat tahun lebih lima bulan. Putra kecil kita bertumbuh terlalu cepat.” Rose bicara sambil memegang kedua tangannya. Rambutnya yang kembali dicat pirang diikat di belakang—Noa bilang dia lebih suka warna pirang ketimbang hitam atau cokelat. Dia selalu menyuarakan pendapatnya dengan cara yang sangat sopan dan penuh penghargaan. Suaranya yang manis akan mengalun, mengucapkan sejumlah hal baik yang membuat kedua orang tuanya merasa sangat bangga dan bersyukur karena telah memiliki anak sebaik dirinya.

“Sebenarnya Noa menyiapkan beberapa hadiah untukmu—seperti mainan dan beberapa permen, tapi dia melupakannya karena mengantuk dan terlalu fokus untuk memberi kejutan padamu. Dia anak yang sangat manis dan pandai,” puji Jaehyun untuk kesekian kalinya pagi ini.

Seolah jadi rutinitas harian, Jaehyun akan memuji—atau sesekali menegur—Noa selama tahun-tahun yang dilewatinya bersama. Putranya memang banyak bertanya karena rasa penasarannya sangat tinggi—bagi beberapa orang ini bisa jadi agak menyebalkan karena dia tak akan berhenti kecuali sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Untungnya, Jaehyun dan Rose selalu memiliki jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaran Noa. Anak itu biasanya akan duduk, kembali bermain, atau membaca setelah penjelasan singkat hingga panjang lebar yang diberikan kedua orang tuanya.

Ada tujuh hal yang sangat disukai Noa di dunia: mamahnya, papahnya, Nana, Dada, berkebun, buku, dan belajar. Pada usianya yang baru menginjak empat tahun, Noa sudah membereskan The Little Prince dan To Kill a Mockingbird. Rose sangat terkejut mengetahui putra kecilnya memahami hampir seluruh buku yang pernah dibacanya sejauh ini. Maksudnya, The Little Prince agak sulit untuk dipahami apalagi oleh anak seumur Noa. Dia juga sangat menyukai aljabar dan kemampuan verbalnya jauh di atas anak seumurnya. Oleh sebab itu, Noa sangat jarang bermain dan mengobrol dengan teman-temannya. Noa akan mengeluh karena teman-temannya tak memahami apa yang dia bicarakan—tentu saja, Noa terlalu banyak membicarakan tentang matematika dan sejarah negara dunia ketiga, teman-temannya tidak akan paham. Noa hanya merasa senang ketika bisa bermain—atau lebih tepat dikatakan ‘mengasuh’ putra kembar Lisa dan June yang baru berusia dua tahun. Koo Seungjae dan Koo Seunghee memang belum bisa berbicara dengan lancar, tapi Noa menyukai keduanya karena mereka sangat menggemaskan.

Rosé ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang