Chapter Thirty One

5.1K 530 277
                                        

Halo~
Tiga chapters untuk minggu ini bakalan sweet sih. Gak nyangka aku tuh mereka bisa sweet dan mulai honest juga sama perasaan masing-masing. Huhu... dah ah itu a lil bit spoiler sebenernya. Selamat membaca dan oh please leave some comments cause I just need some motivations and sweet words from you guys. Thank you 💗💗💗



"My feelings will not be repressed. You must allow me to tell you how ardently I admire and love you."
—Jane Austen, Mr. Darcy in
Pride and Prejudice—

Rose terbangun oleh dering ponsel yang terus berputar sejak beberapa menit lalu. Tangannya melepas pelukan Jaehyun dengan enggan, sedikit bergeser untuk meraih ponsel yang diletakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Batinnya bertanya-tanya siapa yang cukup rajin untuk menelpon pada Minggu pagi padahal jarum jam saja belum tepat menunjuk angka tujuh.

"Halo?" kata Rose dengan suara parau. Ia hanya langsung menjawab tanpa melihat siapa yang tengah bicara dengannya.

"Rose, sayang, apa aku membangunkanmu?"

Kesadarannya seketika terkumpul begitu mendengar suara Irene yang ramah dan manis tengah berbicara. Kendati mereka bicara melalui telpon, Rose yang panik tiba-tiba merasa perlu untuk merapatkan selimut yang menutupi tubuh polosnya dan Jaehyun. Setelah merasa agak tenang, ia berdehem sebelum menjawab dengan suara yang lebih jelas dan sopan. "Ah, maaf, aku bangun kesiangan pagi ini."

"Kemarin kau ada shift malam?"

Iya. Dengan putramu.

Tapi ia tidak bisa mengatakan itu. Tentu saja. Sambil mengamati dan memainkan rambut Jaehyun, Rose menyahut dengan sebuah tawa pelan sebelum masuk ke kalimat sangkalan. "Tidak. Aku hanya merasa sedikit lelah akhir-akhir ini," katanya halus. "Bagaimana kabarmu, Tante Irene? Maafkan aku karena selama seminggu terakhir belum sempat mengunjungimu. Jadwal di rumah sakit benar-benar padat."

"Tidak apa-apa sayang, aku bisa memahaminya. Kau harus memperhatikan kesehatanmu. Apalagi ini sudah masuk musim gugur."

Irene selalu memberikan kasih sayang dan perhatian yang membuat Rose tersenyum senang. Wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik—bahkan jauh lebih baik daripada Jessica yang merupakan ibu kandungnya sendiri. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati.

"Aku punya teh detox premium yang baru datang dari Jepang kemarin. Sengaja kupisahkan beberapa kotak untukmu. Ah iya, Jaehyun sudah pulang tadi malam kan? Apa dia masih tidur? Anak itu selalu mengabaikan panggilan dariku." Irene sedikit menggerutu. Intensitas mengobrolnya dengan sang anak bahkan tidak sampai setengah dari waktu bicaranya dengan Rose. Lagipula, pikir Irene, Rose selalu jadi teman mengobrol yang jauh lebih menyenangkan dari siapapun. Perihal minimnya intensitas bicara dengan putranya tidak lagi jadi persoalan.

"Jaehyun masih belum keluar dari kamarnya. Dia pasti kelelahan," jawab Rose tanpa dusta. Perihal lelah mana yang dimaksud, itu hanya Rose dan Jaehyun yang tahu. "Ada hal penting yang mau dibicarakan dengannya? Biar aku bangunkan kalau begitu."

"Ah, tidak." Jawaban Irene membuat dahi Rose berkerut. "Aku tidak ada urusan dengan anak itu—atau mungkin ada tapi tidak secara langsung berurusan dengannya. Sebenarnya, aku mau mengajakmu menghandiri sebuah event. Tapi karena status pertunangan kalian, kurasa aku tetap perlu meminta persetujuan dari Jaehyun. Rose, kalau ada waktu, datanglah berkunjung ke sini bersama Jaehyun. Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dan membicarakan semuanya denganmu. Kutunggu secepatnya ya. Tolong tendang saja bokong bocah pemalas itu kalau dia tak kunjung bangun. Sampai jumpa nanti, sayang."

Rosé ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang