Holaaa~
I'm back! Bosen gak tuh ketemu lagi ketemu lagi sama saya? Haha... but well, I'll give you some contents this week. Sebelum ada urusan lain yang lebih urgent dan nguras banyak waktu dan pikiran juga.
Untuk pembaca lama, I wanna say thank you thank you and I lafyu. Buat pembaca baru, selamat datang dan thank you for showing me your overwhelming support. Words cannot describe how grateful I am for having you all here. Okay... selamat membaca. Wish you love it~
❄
❄
❄
“There comes a time in your life when you have to choose to turn the page, write another book or simply close it.”
—Shannon L. Alder—
“Kak! Di sebelah sini!”
Rose mengedarkan pandangannya ke penjuru kafe, mencari si pemilik suara yang selama satu bulan belakangan menjadi semakin sering ia temui dan semakin dekat dengannya. Itu Junghwan. Anak itu sedang duduk di meja tengah sambil melambai dengan wajah cerah dan antusias. Melihat anak laki-laki dalam balutan mantel putih agak kebesaran dan rambut berponi itu membuat senyum di wajah Rose praktis mengembang. Ia melangkahkan kakinya—sama sekali tidak berusaha menyembunyikan senyum di wajah cantiknya yang kelihatan semakin merona dan elegan.
Tangannya menarik kursi di depan Junghwan, kemudian mendudukan diri dengan perlahan. Hari Minggu pertama di bulan November yang dingin membuat Rose ingin memesan minuman hangat dan makanan berkuah. Tapi kafe ini mungkin tidak menyediakan terlalu banyak jenis makanan. Pada akhirnya ia hanya akan memesan kopi dengan sedikit gula dan sepotong kue Red Velvet.
“Kau mau makan apa?” tanya Rose sambil menatap Junghwan yang belum bisa memutuskan makanan atau minuman apa yang mau dia pesan.
“Aku mau pesan spicy ramen dan tteokbokki. Aku sangat suka makanan pedas.”
Sesuatu tentang rasa pedas membuat Rose mengeryitkan dahi. Junghwan sama seperti papahnya. Keduanya sama-sama penggemar makanan pedas. Dulu sekali, Rose juga sempat menyukai makanan pedas. Tapi ia pernah tersedak bubuk cabai saat usianya tujuh tahun, sehingga sejak saat itu segala sesuatu yang pedas menjadi musuhnya. Rose hanya memasak makanan pedas karena Jaehyun menyukainya. Kalau bukan untuk Jaehyun, ia tidak akan mau menyentuh bubuk cabai dan memasukannya ke dalam makanan yang ia buat.
Mengamati Junghwan yang kelihatan aktif dan ceria memberikan perasaan tenang dan teduh di hati Rose. Ia bisa melupakan dosa-dosa yang dibuat kedua orang tua anak ini hanya dengan melihat senyuman penuh kelembutan yang selalu Junghwan berikan. Anak-anak tidak terlahir membawa dosa. Mereka adalah lempung suci tak berbentuk yang tumbuh dan menyesuaikan dengan lingkungan yang menaunginya. Junghwan tumbuh sebagai anak yang baik kendati latar belakang keluarganya—yang menurut Rose tidak seberapa baik dan menyenangkan. Maksudnya, bagaimana mungkin keluarganya baik dan menyenangkan padahal ada Han Mina di dalamnya? Untunglah Junghwan cukup pintar sehingga tidak meniru sikap tak pantas bibinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosé ✔
Fanfiction[COMPLETED] Jaehyun does sleeping with girls but he will never date. Meanwhile Rose is being too focus on pursuing her career and wanna use Jaehyun for a revenge. They make a complete crazy couple. "For the rose, though its petals be torn asunder...
