Cannot believe that the last time I published Rosé was Thursday like dude it feels long enough. Heuheu
Chapter 45 will be published tomorrow night—I promise and I try hard too. You all better prepare for the next chapter cuz it will be sweet and sour at the same time. Okay, happy reading then~
❄
❄
❄
“But nothing makes a room feel emptier than wanting someone in it.”
—Calla Quinn—
Tidak ada hal yang membuat Rose lebih senang belakangan ini selain pengajuan kepindahannya disetujui oleh pihak rumah sakit. Meskipun tidak dipindahkan ke rumah sakit di Taebaek, tapi kepindahan yang menjauhkannya dari hiruk pikuk kota besar cukup untuk membuatnya bisa bernapas lega.
Memasuki minggu ke-19, Rose tetap melakukan rutinitas yang sama setiap pagi: menyapa bayinya yang masih suka malu-malu. Ia akan melakukan dialog singkat dengan bayinya—atau menyanyikan beberapa lagu yang menenangkan jiwa keduanya. Rasa rindu terhadap Jaehyun masih merambat kuat. Tiap kali menyentuh perutnya, dorongan untuk memberitahu Jaehyun selalu muncul; tapi sebisa mungkin selalu Rose tekan sampai hatinya merasa ngilu sendiri. Ia harap bayinya tidak merasakan perih di hatinya yang terus-terusan merindu.
Kenapa aku tidak memberitahu Jaehyun? Jadi pertanyaan yang paling sering ia ajukan. Sederhananya, Rose sudah tidak memiliki penghalang apapun sehingga kembali pada Jaehyun merupakan pilihan yang sangat mungkin. Mereka saling mencintai; dan mereka juga akan memiliki anak bersama. Lantas apa yang membuatnya selalu ragu?
Aku tidak pantas untuk jadi istri Jaehyun. Hanya itu jawaban yang Rose miliki saat ini. Masa lalu benar-benar membelenggu, membungkus dirinya dengan rapat dan menyiksa. Ketakutan kalau status dan latar belakangnya bakal menarik turun reputasi Jaehyun yang semakin baik membuat segala niat Rose untuk kembali urung. Ia bisa melahirkan dan membesarkan anak Jaehyun, tapi menjadi istrinya merupakan sebuah pengecualian. Bahkan, ia sesekali berpikir kalau membiarkan Jaehyun dan keluarganya tidak tahu sama sekali mungkin bisa pilihan yang paling tepat. Kadang Rose khawatir kalau mereka bakal memintanya kembali; atau yang paling buruk meminta anaknya karena bayi itu merupakan pewaris sah yang sangat berarti untuk Keluarga Choi. Itu kedengaran sangat buruk.
Setelah pertimbangan singkat, Rose memutuskan untuk pindah dan tinggal di Pocheon sampai akhir Agustus tahun ini—atau sebelum kepindahannya ke Baltimore karena ia akan mengambil Pediatric Surgery sebagai bidang spesialiasinya di Johns Hopkins University. Ini terdengar sangat gila dan mustahil. Rose harus mengurus bayinya yang baru lahir dan menjalani masa residensi yang gila-gilaan. Tapi ia merasa agak lega karena Lisa menawarkan diri untuk jadi pengasuh bayinya. Oh, semuanya selalu mungkin bagi Lisa. Perempuan itu tidak harus mengkhawatirkan tentang uang dan benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk bersenang-senang dan melakukan kebaikan.
Terkait kepindahannya ke rumah sakit cabang di Pocheon dan kehamilannya, Lisa sempat menyarankan untuk memberitahu Bambam. Dia bilang kalau adik kembarnya kadang bisa sangat membantu. Gadis itu khawatir kalau ia tidak bisa datang ke Pocheon tiap waktu karena jarak dari Seoul terbilang agak jauh. Selain itu, kalau Bambam tahu tentang kehamilannya, pria itu akan langsung ikut pindah ke Pocheon karena merasa berkepentingan untuk menjaga mentor dan calon bayinya. Mungkin Bambam juga bisa membawa June—dan itu lebih baik karena Rose tidak akan merasa kesepian di tempat baru yang sepenuhnya asing. Dan saran itu disetujui.
Rose hanya bilang kalau ia mau bertemu dengan Bambam lewat grup chat, tapi Jungkook langsung merespon dan melakukan reservasi restoran Jepang di hotelnya. Dan pria itu tidak mau menerima penolakan. Rose menyerah, setuju untuk menemui keduanya—bahkan June, Lisa, dan Eunwoo juga ikut datang di restoran yang sudah Jungkook pesan. Dia memang tidak punya jiwa pegusaha seperti Jaehyun. Caranya mengatur waktu dan uang benar-benar berantakan. Ah, lagi-lagi Jaehyun. Rose bahkan tidak bisa memikirkan Mark Zuckerberg ketika ia memiliki Jaehyun sebagai pilihan paling kuat dalam benaknya. Sambil berjalan memasuki restoran Jepang di lantai lima, Rose menarik napas dalam, berusaha menetralisir pikiran yang dipenuhi oleh Jaehyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosé ✔
Fanfiction[COMPLETED] Jaehyun does sleeping with girls but he will never date. Meanwhile Rose is being too focus on pursuing her career and wanna use Jaehyun for a revenge. They make a complete crazy couple. "For the rose, though its petals be torn asunder...
