Chapter Forty Three

3.5K 451 179
                                        

Haloooo... kubilang apa, bakal balik sesuai jadwal kan. Meski telat satu jam sih karena harus workout supaya bisa tidur dan badannya enak.

To be honest, I feel so tired lately but I'm happy to see you all here. Okay, gak mau emo dulu. Nanti aja emonya di bawah. Selamat membaca~



“If I had a flower for every time I thought of you... I could walk through my garden forever.”
—Alfred Tennyson—

Membiarkan June dan Lisa tahu tentang kehamilannya benar-benar terasa seperti berkah. Keduanya tidak bersikap sebagai teman, tapi orang tua. Ini memang terdengar lucu—terutama kalau mengingat ketiganya lahir di tahun yang sama.

“Aku akan datang ke rumah sakit,” kata Lisa dari seberang telpon. Dia datang hampir tiap hari selama seminggu ini. Pertama karena ia ingin bertemu Rose dan calon keponakannya; kedua karena ia ingin menemui June, tentu saja.

“Datang saja, kami akan sangat senang. Asal jangan bertengkar lagi dengan Bambam seperti kemarin lusa.” Rose menjawab sambil melangkah keluar dari NICU.

“Apa sayangku mau minta sesuatu?” tanya Lisa.

Kening Rose mengeryit. “Maksudmu June? Atau Bambam?”

Lisa tertawa pelan. “Tidak, bukan mereka berdua. Maksudku bayimu, apa dia menginginkan sesuatu?”

“Ah,” desah Rose pelan. “Kurasa tidak. Kami sudah sarapan dua jam yang lalu.”

“Aku bawakan baked salmon saja ya? Kau harus makan dengan baik. Ini sudah masuk minggu ke-18, tapi perutmu masih kelihatan sama seperti minggu kemarin. Ah, aku juga baru dapat kiriman beberapa jenis beri dari Portland. Aku tidak begitu suka beri-berian, jadi kubawakan untukmu saja ya? Kau suka kan?” Lisa langsung tersenyum sumringah begitu Rose menjawab dengan sebuah ‘ya’ yang cerah dan antusias. “Baiklah! Aku mau siap-siap dulu. Sampai bertemu satu jam lagi!”

Rose hanya tersenyum sambil menaruh ponsel ke dalam saku jas. Ia kelihatan sangat cantik dengan gaun biru tua selutut yang lima bulan lalu masih agak kebesaran di tubuhnya—tapi hari ini ukurannya jadi sangat pas. Hatinya merekah. Malaikat kecilnya tumbuh dengan baik.

Langkahnya terhenti saat melihat seorang anak perempuan berusia lima tahun yang ia kenal dengan baik sedang duduk di luar Children’s ICU. Ekspresi wajahnya ditekuk sangat dalam. Raut kesedihan tergambar jelas memenuhi wajahnya yang mungil dan kelihatan sembab. Perlahan ia mendekati si gadis cilik—mendudukan diri dengan nyaman sebelum melempar sapaan, “Hai Jieun. Kenapa duduk sendirian di sini? Kau tidak masuk untuk melihat Little Naeun? Di mana mamah dan papah?”

Jieun menggeleng lemah. Kedua tangannya ia simpan di atas paha. Kaki mungilnya menggantung saat ia duduk di atas bangku yang agak tinggi untuk anak seumurnya. Dengan suara parau ia berkata, “Mamah dan papah di dalam sedang menjaga Little Naeun. Katanya dia harus diperiksa oleh Dokter Lim. Dan aku diminta duduk di sini sambil menunggu kakek.”

Rosé ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang