Chapter Fifty Seven

5.2K 503 130
                                        

Aloha~
Do you miss me? Hehehe... Selamat malam Rabu wahai temen-temen tersayang. Maaf baru publish chapter baru sekarang, there are some things that I have to deal with last Saturday.

Sementara kalian baca chapter ini, aku juga mau bacain komentar dari kalian. Makasih banyak yaaa udah jadi pembaca yang sangat baik T.T ... Well, happy reading then ♡♡♡



“He’s more myself than I am. Whatever our souls are made of, his and mine are the same.”
—Emily Brontë—

Baltimore: Semptember, Saturday 5th
Pintu dibuka, membuat Rose yang tengah mengganti bunga di dalam vas putih lantas berbalik—mendapati Eunwoo yang merapatkan kembali pintu di belakangnya dengan hati-hati. Pria itu memasuki ruang rawat inap Jaehyun dengan langkah pelan sementara wajahnya mengukir senyum lebar. Ini masih pukul lima pagi, tapi Eunwoo kelihatan sudah rapih dengan sweater putih yang dipadukan dengan jeans hitam. Dia kelihatan tampan dengan gaya apapun—kendati itu tak cukup kuat untuk menarik perhatian wanita di hadapannya yang membalas senyum dan sapaan dari Eunwoo dengan hangat dan lembut.

“Tidakkah ini terlalu pagi untuk berkunjung?” kata Rose. Ia mengintip ke luar dari celah gorden, hanya mendapati langit gelap dengan sedikit sekali orang yang berlalu-lalang di luar sana. Pandangannya kembali terarah pada Jaehyun, kemudian pada Eunwoo yang menyentuh punggung tangan sahabatnya sekilas.

“Dia masih belum bangun?” bisik Eunwoo sebelum mendorong kursi di belakangnya—lantas mendudukan diri dengan nyaman. Matanya terangkat untuk mengamati Rose, kemudian segera membuang muka atau ia tak akan bisa berhenti mengaguminya. Perempuan itu kelihatan cantik kendati ia hanya mengenakan gaun merah muda salmon yang menambah kesan hangat pada pembawaannya yang berkelas.

“Mungkin Jaehyun akan bangun hari ini.” Rose menyahut dengan nada positif. Ia tersenyum, tak sadar kalau senyumnya masih mampu membuat jantung Eunwoo berdebar kencang kendati pria itu sudah memutuskan untuk menyerah dan mencintainya dalam diam. Tangannya menyentuh pipi Jaehyun, mengelusnya penuh kasih sayang. “Keadaannya sudah lebih baik. Itu bukan luka di kepala, seharusnya Jaehyun bangun lebih cepat. Tapi mungkin ada beberapa hal yang menyebabkan dia trauma. Kita akan selalu menunggunya. Terutama Noa, kurasa putra kami masih enggan keluar karena menunggu papahnya sadar. Jaehyun tidak bisa membiarkanku mengandung Noa lebih dari 40 minggu, kan?”

“Tentu saja, Jaehyun itu lebih kuat dari yang kita kira. Saat ini dia hanya sedang malas dan ingin tiduran sepanjang hari. Kurasa ini hanya akal-akalannya saja karena dia sedang tidak mau diganggu oleh tumpukan pekerjaan dari Alpha Inc.,” sahut Eunwoo sedikit menambahkan nada bercanda.

“Aku benci mengatakannya, tapi kurasa itu merupakan pikiran yang sangat masuk akal,” kata Rose sambil menunjukkan tawa kecil.

Hati pria itu selalu merasakan keteduhan tiap kali sebaris senyum terulas di wajah Rose. Itu selalu jadi senyum paling tulus, manis, dan hangat yang pernah ia lihat dan terima sepanjang hidupnya. Eunwoo akan menggoreskan senyum simpul hanya untuk mengusir segunung keirian pada Jaehyun karena keberuntungannya yang bisa mencintai dan balas dicintai seorang wanita sempurna seperti Roseanne Park.

Keduanya berbincang selama beberapa lama. Membahas tentang masa residensi Rose di Johns Hopkins Hospital yang akan dimulai akhir bulan ini, kemudian membahas tentang kerjasama Alpha Inc. dengan Étoile, tentang hubungan Lisa, tentang Jungkook yang semakin menikmati pekerjaannya, lalu paling banyak tentang June dan Bambam yang tetap sering terlibat dalam pertengkaran. Bahkan saat baru tiba di rumah sakit, Bambam yang menangis tersedu-sedu masih sempat memarahi June. Untungnya, June tidak meladeni si kurus pendek yang sedang berada dalam fase melankolis itu. Alih-alih meladeni, ia justru diam sambil menepuk-nepuk pundak Bambam sedikit kasar.

Rosé ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang