Halo, selamat malam~
Berhubung ada satu chapter yang belum dipublish untuk minggu ini, aku bakal publish chapter 33 besok. Semoga kalian nggak bosen ya. Happy reading ♡♡♡
❄
❄
❄
“I’ve seen you, beauty, and you belong to me now, whoever you are waiting for and if I never see you again, I thought. You belong to me and all Paris belongs to me and I belong to this notebook and this pencil.”
—Ernest Hemingway—
Paris, September 29th
Salah satu acara pekan mode terbesar dan paling bergengsi di seluruh dunia, Paris Fashion Week, nyatanya memang membuat Rose sangat antusias. Ia meninggalkan Jaehyun yang melambai dengan muka cemberut di Incheon Airport—sangat berbanding terbalik dengan ekspresi cerahnya saat bertolak dari Seoul menuju Milan.
Rose sempat merasa sedikit terkejut ketika mengetahui kalau Irene sengaja mengunjungi Milan terlebih dahulu sebelum bertolak ke Paris. Wanita baik itu bilang kalau menghabiskan dua hari yang mereka miliki di Milan sama sekali bukan ide buruk. Dan Rose sangat setuju dengan hal itu—ditambah dia sama sekali belum pernah pergi ke salah satu kota mode ini sebagaimana ia juga tidak pernah pergi ke Paris. Saat dia tinggal di Edinburg, kota paling jauh yang sempat ia kunjungi adalah Amsterdam. Dia tidak pernah pergi lebih jauh lagi ke selatan. Rose kecil lebih menyukai sains dan sejarah ketimbang mode—bahkan dulu pun dia sama sekali tidak menaruh minat pada sejarah mode. Sangat mengejutkan bagaimana minat seseorang bisa berubah seperti ini.
Hari pertamanya di Paris dihabiskan untuk beristirahat dan sedikit jalan-jalan di sekitaran Place Vendôme. Fokusnya sedikit teralihkan oleh fakta bahwa Paris menyimpan sangat banyak cerita menarik yang membuatnya tidak berhenti berdecak kagum. Ia bahkan mengingat prediksi Karl Marx yang mengatakan tentang kejatuhan Vendome Column melalui pamplet Le 18 Brumaire de Louis Bonaparte tahun 1852. Dia dan Irene pergi berbelanja di Rue de la Paix pada hari kedua karena calon mertuanya itu tiba-tiba ingin membeli kalung dan jam tangan Cartier untuknya dan untuk Rose—yang sebenarnya tidak begitu ia perlukan.
Rose baru tahu kalau Irene ternyata sangat suka melakukan investasi pada perhiasan dan barang mewah. Dia juga punya selera fashion yang sangat tinggi. Tidak heran namanya hampir selalu masuk dalam daftar tamu undangan istimewa di tiap acara pekan mode dunia. Hal itu membuat Rose bertanya-tanya tentang berbagai kemungkinan yang tidak pernah menyambangi pikirannya sebelum ia masuk dan menjadi bagian dari Keluarga Choi. “Jika menikah dengan Jaehyun, apa aku harus menjadi seperti Tante Irene?”
Kendati merasa sangat antusias karena akan ada banyak desainer ternama yang menampilkan koleksi busana yang Rose sukai, ada sedikit perasaan gugup yang menghampiri dan mengganggu benaknya saat ini. Ia takut kalau tiba-tiba bersikap clumsy sehingga akan mempermalukan Irene serta dirinya sendiri. Saat dalam keadaan seperti ini, Rose justru teringat Jaehyun—padahal mereka sudah mengobrol lewat telpon sekitar lima jam yang lalu sebelum Jaehyun pamit tidur karena dia baru menyelesaikan beberapa laporan terkait rapatnya dengan rekan bisnis di Seattle.
“Seandainya Jaehyun ada di sini, aku mungkin tidak akan merasa segugup ini.” Rose hanya bergumam setelah menghembuskan napas berat. Ia masih duduk di kamar hotelnya, menunggu Irene selesai dengan persiapan ‘kecilnya’. Tidak sampai satu menit, Rose tiba-tiba memekik seraya bangkit dengan ekspresi yang sama cerahnya seperti saat ia mendengar suara Jaehyun dalam telpon. “Ah! Jaehyun’s note!”
Kakinya dengan cepat membawa tubuhnya ke salah satu meja tempat ia menyimpan sling bag hitam kesayangannya. Note yang diberikan Jaehyun sengaja ia simpan di tas itu—karena Rose paling sering memakainya. Dengan cepat dan penuh perasaan suka cita, ia membuka note yang dibuat Jaehyun seminggu sebelum keberangkatannya. Rose membaca note itu berulang kali—dan sebanyak itu pula ia dibuat tersenyum dan tersentuh dengan tiap kata yang Jaehyun sampaikan melalui goresan penanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosé ✔
Fanfic[COMPLETED] Jaehyun does sleeping with girls but he will never date. Meanwhile Rose is being too focus on pursuing her career and wanna use Jaehyun for a revenge. They make a complete crazy couple. "For the rose, though its petals be torn asunder...
