Halo teman-teman tersayangku, maaf baru update. Heuheu
Siapin diri ya, chapter ini bakal dipenuhi sama keunyuan Noa dengan segala pesonanya. Please show your support to encourage this little girl who try be stronger and healthier. Stay healthy guys, I love you, and happy reading~
❄
❄
❄
“The only love that I really believe in is a mother’s love for her children.”
—Karl Lagerfeld—
Wednesday, July 16th
“Mama, I want to dance. But I can’t play any song and I don’t have an iPad right now.” Noa mengatakan itu sambil memeluk kedua kaki Rose dari depan. Ia tersenyum saat tangan ibunya terulur—mengacak rambutnya yang baru dipotong kemarin sore. Noa sangat menyukai gaya rambut barunya yang tidak terlalu panjang maupun pendek—Rose selalu mencukur sendiri rambut putranya dan untungnya itu selalu berakhir baik. Saking sukanya, bahkan Noa beberapa kali menunjukkan rambutnya pada Irene sesaat sebelum wanita itu menaiki pesawat menuju Baltimore tadi malam. Ini sudah memasuki minggu ke-40, Isabelle seharusnya sudah lahir dua minggu lalu atau paling lambat minggu kemarin. Tapi, adik kecilnya itu masih suka diam dan bersantai di dalam perut sambil menyaksikan kakaknya merajuk karena ingin berdansa. “I have to practice and show my dance to Nana and Dada this evening.”
“Yes, my love. I do understand it really well. But can you please wait a little longer? I have to make my smoothie first and feed the baby,” tutur Rose sambil mengelus perutnya. Ia tertawa saat melihat Noa meraba perutnya sendiri kemudian menyuarakan argumennya dengan ekspresi berkerut yang membuatnya kelihatan sangat lucu.
“My baby is not hungry mama,” kata Noa sambil menggeleng dan menunjukkan perutnya.
“Then wanna wait and help mama making smoothie, my love? Isabelle must be very happy to see her beloved brother making it for her.”
Noa mengangguk. Ia bergegas mengambil kursi kecilnya, kemudian berdiri di atas kursi itu karena mejanya sedikit terlalu tinggi untuknya. Sambil menunjuk susu almond yang dibawa Rose, Noa bertanya dengan sopan, “Mah, boleh kutuangkan susunya ke dalam sini?”
“Tentu saja, sayang. Kau butuh gelas kecil untuk menakarnya?” tanya Rose sambil meletakkan tangan di belakang pinggangnya. Isabelle cukup berat, berdiri terlalu lama kadang membuatnya agak pegal.
“Tidak usah,” tolak Noa. Ia menuangkan susu almond ke dalam blender dengan hati-hati sesuai arahan dari Rose. Wajahnya menyiratkan kebanggaan kecil karena ia melakukan semuanya dengan cukup baik. “It smells like a nut!”
“Because it made from a nut, sweetheart.” Rose menyahut sambil meletakkan protein powder yang dibawanya dari dalam pantry.
“Luar biasa!” kata Noa penuh ketakjuban.
Ia mengetahui hal baru pagi ini. ‘Ternyata susu bisa dibuat dari kacang,’ pikirnya. Noa kerap mengagumi sejumlah hal yang dilihat dan ditemuinya—terutama yang dirasa agak ganjil dan di luar nalar. Hembusan angin, terik matahari, debur ombak, suara burung, badai yang diberitakan di TV, hingga eksistensinya di dunia tak pernah luput dari perhatian Noa. Dia biasanya akan duduk di atas pangkuan Jaehyun sambil menonton kartun atau berita—sesekali juga dia akan bermain catur meskipun baru belajar sekitar satu bulan yang lalu—lalu menanyakan banyak hal yang kurang dipahaminya. Noa merasa puas tiap kali papah atau mamahnya memberikan jawaban yang membuatnya merasa paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosé ✔
Fanfiction[COMPLETED] Jaehyun does sleeping with girls but he will never date. Meanwhile Rose is being too focus on pursuing her career and wanna use Jaehyun for a revenge. They make a complete crazy couple. "For the rose, though its petals be torn asunder...
