End

5.2K 432 80
                                        


New journey was unlocked

Sesuai list yang mereka susun tadi malam, pagi ini diawali dengan berkunjung ke makam ayah Arka. Tepatnya agak jauh dari rumah Oma, Arka bilang sekitar delapan ratus meter. Keduanya sepakat berjalan kaki ke sana, menelusuri desa yang masih asri ini sekaligus menggerakkan otot-otot kaki.

Mindfull di pagi hari seperti ini jarang sekali bisa dirasakan ketika hari-hari kerja di Jakarta. Namun sepanjang jalan pulang, Arka lebih banyak diam. Entah apa yang ia pikirkan setelah dari makam.

"Berarti mama setiap bulan ke sini ya, Ka?" Hulya membuka obrolan dengan mata yang menyusuri kembang liar yang berada di sepanjang jalan. Warna-warninya menyejukkan mata.

"Iya kalau sibuk banget. Kalau engga, dua minggu sekali. Bahkan dulu tiga bulan awal meninggalnya ayah, mama menetap di sini."

"Oh ya?" Hulya agak tertarik mendengarnya. "Kamu masih kuliah waktu itu?"

"Semester akhir kalau nggak salah. Airin baru kelas tiga SD. Rendy baru kelas dua SMP."

"Terus gimana?"

"Airin tetap di sini sekolah, diurus Tante waktu itu. Cuma tiga kali nyusul ke Bali pas libur. Saya jarang pulang juga semester akhir."

"Tapi itu kelas tiga loh. Masih kecil. Sorry but ... apa yang bikin mama tinggalin Airin di sini? Maksud aku, kenapa juga mama harus sampai menetap?"

"Mama terpukul banget, Ya. Saya paham sih kenapa, dua bulan sebelumnya mereka bertengkar hebat. Bahkan hampir nggak terselamatkan lagi. Tapi akhirnya baikan juga. Mungkin itu yang bikin mama menyesal."

Pantas saja kemarin Oma berpesan padanya dengan inti yang sama. "Aku baru ingat sesuatu. Ayah satu-satunya yang muslim dari keluarga besar, kan? How can it be? Padahal ayah anak laki-laki pertama, Hindu, di Bali pula."

Kebudayaan Bali itu sangat kental dengan ajaran agama Hindu. Di mana budaya Bali dilakukan, di sana pulalah nilai agama Hindu itu disebarkan.

Keterikatan antara budaya Bali dengan agama Hindu ini dimulai ketika agama Weda ini memengaruhi cipta, karya, dan karsa penduduk Bali Dwipa sejak berabad-abad silam.

"Apa ... mama jadi salah satu alasannya?" Lanjutnya sedikit hati-hati.

Arka menggeleng pelan. "Mama nggak ada kontribusinya di jalan spiritualitas ayah. Dia peluk islam pure karena takjub sama apa yang dia liat sehari-hari."

"Apa memangnya?" Di tengah matahari yang mulai terasa terik, ia berharap cerita Arka bisa meringankan langkah mereka untuk segera sampai ke rumah Oma.

Yang ditanya diam sejenak, melempar pandangan jauh ke depan. Mengikis ingatan lawas yang tersimpan apik. "Ayah bilang, tubuh kita-manusia, tiap satuan unitnya rumit. Saraf itu kecilnya minta ampun. Tapi kenapa bisa runut dalam otak dengan jumlahnya yang hampir miliaran? Siapa sih yang bisa kendalikan sistem sebanyak ini selama manusia hidup?"

"Ayah juga selalu penasaran kenapa jantung bisa kerja keras tanpa berhenti. Banyak pertanyaan lain tiap kali dia bedah pasien-pasiennya. Tentu dia paham ilmunya, tapi bagi dia mustahil keajaiban sebesar ini Tuhan kasih cuma-cuma."

"Cuma-cuma?" Hulya mengerutkan alis. Menuntut jawaban lebih luas.

"Ayah bilang, dia lebih takut hidup sia-sia dibanding hidup nggak jadi apa-apa. Dunia nggak butuh orang sukses yang nggak berguna. Dunia butuh orang-orang yang hidupnya bermanfaat, entah bagi sesama, lingkungan, atau makhluk hidup lain."

"Ketika kita meninggal, orang-orang nggak mengingat berapa banyak harta yang berhasil ditimbun atau pangkat yang sempat kita emban. Mereka akan lebih ingat sikap seseorang semasa hidup. Apakah dia anak yang berbakti ke orang tua? Ayah yang penyayang ke anak-anaknya? Suami yang baik? Tetangga yang ramah? Saudara yang akur? Apa lisannya menyenangkan dan menenangkan? Apakah dia gigih dalam mengejar impiannya? Apakah dia pernah berlaku buruk dan curang? Atau mungkin dia sombong dan kikir?"

HULYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang