Extra Part

2K 248 82
                                        

Dear all, kesayangan aku. Hahaha
Makasih ya sudah manggil aku buat balik ke cerita ini lewat vote dan komentar kalian. Yuk drop komen kalian!

____________

Bulan terakhir di tahun ini Hulya habiskan dengan berkutat mengurus orderan yang melonjak sejak tanggal kembar dan flash sale yang ia adakan menjelang akhir tahun. Ia bahkan meng-hire dua karyawan lagi untuk membantu urusan drop barang serta packing.

Tak banyak yang berubah setelah menikah, ia masih menikmati waktunya bekerja. Namun jika dulu ia bisa hingga larut mengerjakan orderan dan tertidur di tumpukan packing atau meja kerja, sekarang ia selalu kembali ke rumah sore hari. Kalau pun lewat malam, ada yang akan menyusulnya ke sini.

Sedangkan Arka, ia biasa saja, namun ada satu fakta baru yang Hulya ketahui, yaitu jam kerjanya kadang tak dapat diprediksi. Di awal pernikahan, Hulya pernah menaruh curiga saat tak sengaja ikut terjaga jam satu dini hari ketika Arka bangun untuk mengangkat telepon.

"Nesa? Ya, kenapa?"

Hulya mendengar suara khas bangun tidur di sampingnya menyahut panggilan setelah berulang kali dering telepon mengganggu. Detik berikutnya kasur bergerak, sepertinya Arka merubah posisinya langsung duduk, namun Hulya masih acuh. "Oh ok, mungkin ... empat puluh menit lagi?"

Kali ini Arka berdiri menghidupkan lampu sambil terkekeh. "Ini buktinya saya angkat, kan? Makanya jangan mi–"

Kalimatnya terputus saat terkejut mendapati Hulya yang tiba-tiba bangun dengan mata setengah terbuka.

"Ok, saya tutup dulu buat siap-siap. Kamu pantau terus semuanya." Arka mengakhiri sambungan dengan salam dan menghampiri Hulya yang berusaha duduk dengan rasa kantuknya yang kuat. "Kebetulan kamu bangun, saya mau pergi dulu ya?"

"Nesa siapa?" tanyanya dengan suara parau.

"Ners." Arka mengusap surai panjangnya yang kusut dibawa tidur. "Kamu mau tidur lagi?"

"Kamu mau kemana sih sebenernya?" Ulang Hulya, masih belum konek. Rasa kantuk menguasainya hingga ia bersandar sambil mengalungkan kedua tangannya di leher pria tersebut. "Pergi  ... pergi kemana?"

"Rumah sakit, Ya. Saya ada panggilan buat CITO."

"Sekarang?"

Arka mengangguk, walau tak yakin Hulya melihat sebab matanya tidak benar-benar terbuka sejak tadi.

"Rumah sakit ... bukan ke rumah Nesa, kan?" sahutnya asal.

"Nggak boleh ya kalau itu."

"Rumah kamu yang cuma ada akunya aja."

Lihat, ia bicara layaknya habis menenggak bir dua botol. Dan bila besok Arka bercerita tentang tingkahnya pasti ia akan menyangkal tak percaya atau bahkan melemparinya dengan kotak tissue seperti yang sudah-sudah.

"Saya lagi buru-buru juga, kamu ngapain ngawur begini sih?"

"Nggak ada dokter lain, Ka? Kamu kan baru pulang jam sembilan tadi." balasnya dengan mata terpejam, masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arka. "Kamu ... kerja melulu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HULYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang