Satu

9.3K 796 125
                                        

H U L Y A
━━━━━━━⊰✿🌹✿⊱•━━━━━━━
Saat cobaan datang dan terasa begitu berat, artinya Allah sedang mempersiapkan kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

"Ck, belum juga sejam pulang, eh balik lagi udah luka begini. Kenapa sih?"

Bukannya menjawab, orang yang ditanya justru meringis pelan saat dinginnya alkohol membasahi kulit bahunya yang terluka akibat tergores dengan ujung kursi tunggu. Sekarang bahunya jadi sedikit robek dan harus dijahit.

"Terus perempuan itu siapa? Lo nggak mau gue mikir kemana-mana kan? Jadi pertanyaan yang ini harus dijawab nih biar nggak salah paham, Ka."

Arka, pria yang tengah dijahit bahunya itu hanya menjawab seadanya, "Nggak kenal."

Matanya tak sengaja menangkap kemejanya yang tersampir di kursi lain, bercak darahnya mulai mengering dan menjadikannya begitu kontras.

"Yan, tolong dijahit secepatnya deh. Rasanya saya mau buru-buru pulang buat tidur dan rendam baju itu."

Disela kegiatannya Rian tertawa kecil. "Hari-hari lo juga liat itu. Kenapa sekarang kayak jijik begini?"

Arka mendengus. Itu sih beda cerita, ia memang sudah biasa dengan cairan kental berawana merah milik para pasiennya. Tapi tetap saja ia merasa terganggu pada bau anyir darahnya sendiri.

"Eh, jawab dulu yang jelas. Siapa dia?"

"Tadi di stasiun dia hampir jatuh. Timing-nya pas banget kereta udah tinggal beberapa meter. Kayaknya penumpang yang lain nggak ngeh, soalnya dia berdiri di pojok. Jadi saya tarik aja bahunya."

"Oh ya? Nggak sengaja jatuh atau emang ... ?" Kalimatnya menggantung saat terlintas sesuatu yang agak menyeramkan untuk ditebak.

"Nggak tau."

"Dan habis itu dia pingsan?"

Arka kembali meringis. Kali ini bukan karena merasa perih atau sakit, tapi mengingat bagaimana kasarnya ia menarik bahu perempuan itu sampai menghantam tiang peron dan jatuh. Maka dari itu Arka langsung meminta maaf, meski sejujurnya itu tindakan refleks dan tak bermaksud kasar sama sekali. Memang siapa yang tak kaget melihat orang masuk lintasan kereta saat KRL hampir tiba?

"Iya. Saya nggak sengaja narik dia sampai kebentur tiang. Belum sadar juga?"

"Belum mungkin," balas Rian lalu meletakkan needle holder.

"Udah selesai?"

"Wait a minute," katanya. "Lain kali kalau lo mau balik kesini tuh bawa kabar yang bikin gue seneng dong, mau sukarela bantu jaga IGD misal. Ini sih lo nambah-nambahin kerjaan gue namanya."

Mudah sekali Rian berkata begitu tanpa melihat kantung mata Arka yang sebelas dua belas dengan panda. Kemarin jam sift-nya bertambah lebih lama akibat adanya kecelakaan di ujung jalan.

"Sepi begini masa iya dibantu. Lagian lusa mau ambil cuti, kan? Harus semangat lah."

Mata Rian membulat kaget. "Hush! Lo ngomongnya rese banget deh!"

Melihat wajah Rian yang panik sekaligus kesal membuat Arka tertawa. Di kalangan tenaga medis, ada mitos yang mengharamkan mengucap sepi saat berjaga di IGD. Layaknya mantra tak terlihat yang bisa memanggil banyak pasien dan keramaian atau drama medis.

HULYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang