Lima Puluh Lima

4K 350 92
                                        

a not-so-romantic date

Penat terbayarkan setelah dua jam perjalanan ke arah Selatan Bali, dimana terletak sebuah rumah di tepi pantai dengan hiasan kerang yang bergantungan mengayun. Mereka saling bertubrukan saat angin berhembus dan serentak menimbulkan gemercik yang tak bosan di dengar oleh telinga.

Di sinilah semua berkumpul, di Bale Sekapat. Yaitu tempat yang berada di tengah rumah dengan empat tiang yang berfungsi sebagai penyangga, lalu bagian atapnya berbentuk pelana.

Bentuknya sangat unik karena tidak menyatu dalam satu atap tetapi terbagi menjadi beberapa bangunan yang berdiri sendiri. Bambu, kayu, dan alang-alang menjadi material utama, dipadukan dengan tangan-tangan terampil untuk membangun struktur yang kokoh dan nyaman.

Bukan hanya tempat berkumpul, Bale Sekapat yang berada di tengah rumah ini menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan pada masyarakat Bali. Salah satu nilai filosofi adalah menjadi pengingat bagi keluarga untuk selalu menjaga komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah bersama.

Cucu-cucu mengerubungi Opa mereka yang duduk di kursi careflex sambil membuka kado yang dibawa oleh masing-masing. Entah apa saja isinya, tapi mereka bersorak heboh tiap kali menunjukkannya.

Di sudut lain, Hulya duduk bersama Oma yang sedang merajut sambil sesekali membenarkan kacamata lawasnya yang hampir melorot.

"Kalau suatu hari nanti sesekali bertengkar itu wajar. Manusia memang terlalu kompleks pikiran dan hatinya. Tapi ingat-ingat lagi nanti, apa yang membawa kalian sampai bisa berada dalam rumah yang sama, menghabiskan waktu dari hari ke hari dengan orang yang sama." Ia berkata di sela tangannya yang sibuk menarik benang.

Hulya baru saja selesai bercerita bagaimana ia bisa bertemu Arka. Di penghujung kisah, wanita itu baru menanggapi dengan petuah.

"Dulu Ishma dan ayahnya Arka pun sempat ingin berpisah." Ucapnya, membuat jantung Hulya mencelus.

"Oh ya? Benar itu, Oma?" katanya setengah tak percaya.

"Iya. Hanya karena mereka sibuk bekerja. Banyak sekali waktu itu yang membuat mereka makin renggang. Tapi akhirnya semuanya baik-baik saja. Bahkan liat Ishma sekarang? Semenjak suaminya meninggal, hidupnya sisa separuh jiwa. Lama duduknya di makam masih sama seperti awal suaminya dikubur. Saking rindunya."

Benar kata Airin, dalam sebulan ia hanya bersama ibunya sebanyak dua sampai tiga minggu saja. Sisanya terbang ke Bali.

"Oma harap kalian pun jangan membesarkan ego masing-masing hanya untuk merasa benar atau menang sendiri. Hidup yang rukun. Itu pesan paling melekat dari orangtua kami terdahulu." Wanita dengan penuh uban itu tersenyum tulus di akhir kalimatnya.

"Oh ya, malam ini kalian ikut menginap di sini, kan?"

Hulya sudah sumringah hendak menjawab dengan lantang, namun Arka yang tiba-tiba muncul mencuri start duluan.

"Oma, kebetulan kami dapat tiket bundling pesawat sekaligus hotel. Jadi maaf, kami sampai sore saja di sini. Besok datang lagi."

Percakapan itu akhrinya di dengar oleh telinga-telinga lain.

"Ah... Tanpa alasan seperti itu pun kami jelas paham. Sudahlah Oma, mereka mau mengasingkan diri untuk bermesraan berdua."

HULYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang