Achazia membalas ucapan terima kasih Vannya dengan memperlihatkan senyum lembut di wajahnya. Tidak ada kesan arogan dan intimidasi. Seolah suasana hatinya berubah begitu sangat cepat dari waktu ke waktu.
Lalu setelah interaksi singkat tersebut. Suasana langsung kembali berubah ke titik mencekam sama seperti sebelumnya.
Achazia sedikit menggeser arah pandangannya pada Marcel. Menatap pria itu dengan tatapan penuh dengan aura permusuhan yang mendalam, yang bisa di lihat dari caranya menatap Marcel. Dari soroti matanya yang memungkinkan semua orang tahu jika dia tidak suka dengan orang yang di hadapannya saat ini. “Mengenai ucapanku yang mengatakan bahwa anda tidak bisa meminta Vannya menikahi anda, itu bukan lelucon. Saya serius mengatakan itu" Achazia mengatakan itu tanpa ragu sama sekali. Seolah itu adalah hal biasa, seperti merebut permen dari sorang anak. sedangkan untuk mengatasi tatapan kebencian yang Achazia/ Bara berikan pada Marcel sudah membuat Marcel berusaha keras menahan kakinya untuk tetap bisa menahan bobot tubuhnya dan terus berdiri pada posisi tegap, seolah ia tak terpengaruh. Tapi hanya tuhan dan dirinya yang tahu apa yang saat ini ia rasakan agar dia tidak jatuh akibat rasa tertekan dalam jiwanya karena sorot mata itu. Dan sekarang dengan kata-katanya yang terus terang, benar-benar membuat Marcel merasakan tubuhnya sedikit oleng, dan hampir jatuh jika dia tidak berpegangan pada meja yang ada di sampingnya.
“ Tunggu... tunggu... apa maksudmu? Melarang kakakku menerima lamaran Marcel?” Julian yang tidak mengerti situasi apa yang sedang terjadi saat ini Akhirnya bicara. Jujur saja dia bingung dengan hal terjadi hari ini. Sepengetahuannya tidak ada acara seperti ini di dalam rencana kedua keponakannya. Mereka hanya bicara kalau hanya ada pesta kejutan ulang tahun saja dan juga rencana Marcel melamar Vannya. Lalu kenapa sekarang muncul Bara yang datang dengan penampilan yang sangat berbeda mengatakan kalau Vannya tidak bisa menerima Marcel.
“Karena kau menanyakannya. Jadi sudah pasti aku harus menjawabnya bukan?” Achazia dengan santai menanggapi pertanyaan Julian. Tapi sayangnya apa yang bagi Achazia santai tapi saat di dengar oleh orang lain itu terdengar seperti sebuah kesombongan. Yang membuat Julian teringat satu hal. Melihat sikap dan tidak tanduk Bara saat ini, aura sombongnya, percaya dirinya, dan juga sikapnya yang cenderung dingin dan cuek terasa tidak asing bagi Julian. Itu terlihat seperti sikap seseorang yang ia kenal dan itu terlihat tidak jauh beda dengan......
“ Aku melarang tentu saja aku punya hak untuk melakukan itu" ucapnya
“ Hak apa yang anda punya? Kenapa anda dengan seenaknya mengatur hidup kakak saya? “ Julian kembali bertanya tapi kali ini cara bicaranya terdengar lebih sinis dari pada sebelumnya. Jika tadi Julian masih sedikit menujukan kesopanannya karena mengingat kalau hari ini adalah ulang tahun Vannya dan dia tidak mau membuat masalah di hari ini. Tapi sayangnya jawaban yang di berikan Bara sama sekali tidak memuaskannya. Dan justru membuat Julian merasa kesal di buatnya.
“Terserah kakak saya mau dia suka dengan pria mana saja dan menerima lamaran siapa dan bahkan menikah dengan siapa saja. Itu hak dia, tapi kenapa ada merasa keberatan. Memangnya anda siapa, dan punya hak apa” Julian semakin tidak bisa menahan emosinya ketika dia melihat senyum menghina yang di tunjukan Bara saat ini. Itu membuatnya makin kesal. Rasnya dia ingin sekali merobek wajah itu menjadi todak bisa di kenali lagi.
“saya tidak bilang Vannya tidak bisa suka dengan pria mana pun dan menerima lamaran pria mana pun. Atau bahkan jika dia ingin menikahi pria lain entah itu Marcel atau pria mana pun saya tidak akan keberatan. Jika.... kakakmu Vannya tidak melakukan kesalahan pada saya. Yang membuatnya harus bertanggung jawab dan lagi dia juga sudah membawa anak-anakku bersamanya. Tapi pada kenyataannya kakakmu membawa anak-anakku bersamanya”
“Jadi... karna anak-anakku bersamanya, dan dia juga perlu bertanggung jawab padaku atas kejadian 6 tahun lalu. Terlepas dari siapa pria yang dia suka, atau siapa pria yang melamarnya. Pada akhirnya dia tidak akan menikah dengan mereka semua. Karena Vannya hanya akan bisa menikahi aku sebagai suaminya. Dan lagi aku adalah ayah kandung sari Raja dan Kaisar. Ada juga tes DNA yang menguatkan hal ini. Apa itu cukup jelas?”
Ucapan Bara bagaikan ledakan kembang api yang tak ada hentinya di dalam diri Vannya dan juga Julian. Mereka masih bisa berpikir meskipun keduanya terlalu terkejut. Membuat mereka berdua menarik sebuah garis besar dari semua yang di ucapkan oleh Bara hari ini adalah . ‘ dia adalah Ayah kandung si kembar dan pria yang malam itu bersama Vannya ‘.
Tanpa sadar Vannya maju dua langkah lebih dekat di depan Achazia. Wajahnya masih menujukan ekspresi tidak percaya. Vannya saat ini memiliki berbagai jenis perasaan di hatinya yang membuatnya tidak tahu harus bicara apa pada pria di depannya ini. Meskipun Vannya tidak m4ngatakan apa pun tapi semua orang tahu jika wanita itu sedang sedih. Matanya yang indah sudah di penuhi dengan genangan air mata yang coba ia tahan agar tidak jatuh.
Vannya menatap pria yang ada di depannya itu penuh dengan 1000 macam perasaan. Di dalam hatinya yang begitu rumit. Di mana saat ini rasanya Vanny benar-benar begitu bodoh sehingga Vannya merasa hidupnya saat ini hanya dibuat tuhan sebagai sebuah lelucon belaka.
Di saat dia ingin mencoba keluar dari mimpi buruk itu dan memulai hidupnya lebih baik lagi. Tapi siapa yang akan menduga ternyata itu hanya sia-sia. Ternyata tuhan hanya sedang bercanda padanya saat ini. Dengan membawa orang itu lagi.....
“ aku tidak akan melarang kamu suka pada siapa pun . Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku mengatakan itu karena aku punya bukti bahwa yang mengatakan bahwa aku dan anak-anakmu memiliki hubungan darah. Antara ayah dan anak. Jadi maaf aku datang ke sini untuk mengambil anak-anakku. Jika pada akhirnya kamu memilih untuk bersama pria lain...”kali ini Achazia melirik pada Marcel “karena aku tidak yakin pria ini bisa menepati kata-katanya. Dan setidaknya kalau anak-anak bersamaku mereka bisa terjamin lagi pula aku ayahnya. Jadi. Tidak mungkin bagiku membuat mereka hidup dalam kesusahan “
Kata-kata Achazia membuat Vannya entah mengapa mendengar itu membuatnya mendengar sebuah lelucon yang paling tidak lucu di dunia. Tapi bersamaan dengan itu hatinya juga menangis. Memang benar selama ini mereka hidup dengan apa adanya. Tentu saja itu tidak bisa di bandingkan dengannya. Dengan sekali lihat saja. Semua orang sudah tahu jika dia adalah orang yang begitu kaya dan berkuasa. Bukan pemuda dari keluarga kaya biasa seperti ada di dalam pikiran Vannya sebelumnya
“Bisa kau ulang apa yang baru kau katakan?, Bara atau siapa pun namamu aku tidak peduli" kali ini Vannya menatap Achazia penuh dengan tekad dan keberanian.
Yang entah kenapa itu justru membuat hati Achazia sakit melihat wanitanya bersikap sikap seperti ini. Bersikap tegar dan memendam semua amarahnya seorang diri
“Aku...”Achazia yang berniat mengulangi kata-katanya seketika berhenti ketika sebuah tamparan keras m3ndarat di wajahnya dengan begitu keras. Hingga membuat Achazia merasakan pipi dan sudut bibirnya terasa panas dan perih setelah tamparan itu.
“Terserah apa yang akan kamu katakan, aku tidak akan pernah memberikan anak-anakku pada siapa pun. Terlepas dari kamu adalah Ayah kandungnya atau bukan. Selama aku hidup anak-anakku akan terus bersama denganku" Vannya mengatakan itu dengan amarah yang meluap. Sedangkan si kembar yang melihat ibunya marah dan menangis di saat yang bersamaan membuat kedua bocah itu langsung menghampiri Vannya dan memeluk pinggan ibunya dengan erat seakan tidak ingin berpisah dan juga berharap jika ibunya cepat kembali tenang.
Tapi siapa yang akan mengira di dalam adegan sedih itu, kedua bocah itu masih sempat melemparkan tatapan ancamannya pada Achazia secara diam-diam.
Bagi dua bocah itu. Siap pun yang membuat ibu mereka menangis adalah orang yang jahat!
Melihat dua putranya yang sudah sangat lama tidak di temuinya, rasa rindu di dalam hati Achazia rasanya berontak minta di lepaskan. Tapi, baru saja berniat untuk melangkahkan kakinya lebih dekat. Suara cempreng melengking milik Raja membuat Achazia mengurungkan niatnya“ Paman bukan Daddy kami, paman orang jahat....”
“Paman jahat.... “
Lalu, Setelahnya pelukan Raja terlihat lebih kuat di banding sebelumnya.
Sakit. Itulah yang saat ini Achazia Rasakan ketika melihat adegan ini di depan matanya secara langsung. Melihat dua anaknya sendiri terlihat ketakutan dan mengapanya sebagai orang jahat. Padahal Achazia hanya ingin mereka tahu kalau dia ayahnya “Apa kalian tidak rindu pada Daddy? Apa kalian tidak ingin di peluk Daddy....” sayangnya kalimat itu hanya bisa Achazia ucapkan pada dirinya sendiri.
.....
“apa pun yang jamu katakan. Aku tidak akan pernah menyerahkan anak-anakku pada siapa pun. Termasuk kamu! Dan aku tidak peduli dengan hasil tes itu" Vannya memeluk dua putranya makin erat saat melihat tangan Achazia yang hendak mencoba menyentuh salah satu putranya di saat yang bersamaan Julian sudah berdiri tepat di depan Vannya, menjadikan dirinya sebagai benteng perlindungan untuk mereka.
Sekaligus mengisyaratkan secara tidak langsung pada Achazia. Jika dia mencoba menyentuh atau mendekati Vannya dan anak-anaknya pemuda itu tidak akan sungkan pagi untuk berbuat kekerasan padanya.
Terlepas dari siapa Bara/Achazia ini. Baginya tidak ada yang boleh menyakiti keluarganya.
“Oke... oke... “ senyum mencibir sekaligus kagum di perlihatkan Achazia saat melihat tindakan Julian yang cukup berani. Menjadikan dirinya tameng dan mencoba memprovokasinya. Tapi Julian sepertinya memilih kawan yang salah kali ini.
“Di mana cucuku “
Tidak ada yang tidak mengalihkan pandangan mereka yang awalannya terfokus pada Vannya dan Achazia. Kini beralih ke arah di mana secara itu berasal.
Di mana seorang wanita dengan penampilan anggun berjalan mendekat ke arah mereka semua. Yang membuat beberapa pekerja yang asa di belakang Vannya berbisik-bisik tentang wanita yang saat ini berdiri di samping pemuda yang mereka kenal sebagai Bara.
“Bukankah wanita itu yang beberapa hari lalu kemari bukan?”
“Ia, kalau tidak salah. Dia tidak mau pergi bahkan saat toko hampir tutup. Bukan?”
“ tapi kenapa wanita ini datang kemari?”
“Apa mungkin wanita itu adalah ibu, Bara?”
Sura bisik-bisik yang saat ini terjadi di antara karyawan, tentu saja bisa Vannya dan Julian dengar. Karena mereka bicara cukup keras jadi tidak mungkin bagi orang lain tidak mendengar apa yang mereka katakan
KAMU SEDANG MEMBACA
SESUATU YANG BERHARGA
Romancedi jebak adik sendiri di sebuah club malam , yang berakhir terkapar di dalam kamar bersama pria misterius . benar-benar awal dari segala kemelut dalam hidup mulai dari fi usir , mengetahui dirinya hamil, di rampok dan harus hidup terlunta-lunta di...
