Chapter 32

1.4K 157 110
                                        

Yosh up tahap dua mari mulai ehehehehehe mengejer biar Zero bisa tamat dan nyambut new book fufuufufu





"Minna atur makananya disitu..ah tunggu Ossan bantu bereskan sebelah sana.. ahh Sougo jauhkan benda merah keramat itu dari tanganmu" ujar seseorang yang sedari tadi ramai memberi komando kepada member lainnya

"Dan kau Tamaki bisa berhenti berkeliling menggigit jarimu aku pusing melihtamu mondar mandir" keluh Mitsuki yang sudah mencapai batasnya

"Ouhh sangat ramai." Ujar Nagi yang tampak tak terganggu dengan aktivitas menontonnya, "Nagiii matikan televisinya aastagaa"merasa jengah tak habis pikir dengan kelakuan partner satunya itu. Kalau dipikir pikir bahkan tidak ada yang beres dengan kedua parternya.

Dilihatnya Yamato yang masih setia bermalas-malasan meluruskan kedua kakinya dengan santai sambil menyesap minuman lucknut dalam kalengnya, sementara satunya sibuk berhalusinasi dengan loli pink yang tak diketahui berapa umurnya ditunggu sampai entah kapan makhluk fana itu akan menjadi nyata bagi Nagi. Dan untuk member lainnya tak perlu dijelaskan lagi

"Ahhh dan kemana perginya Iori dan Riku kenapa mereka lama sekali" teraknya menarik frustasi rambutnya

"Mitsu tenanglah, bersantai sejenak apa salahnya bukan" ujar Yamato dengan santainya tanpa sadar Mitsuki yang sudah menguarkan kekesalannya yang sudah diubun ubun

"Apa.yang.kau.katakan.barusan.ossan" ujar Mitsuki penuh penekanan di setiap katanya mengacungkan bilah centong tepat ke tenggorokan Yamato,

Digerakkannya bola mata itu melirik ke arah centong itu tertuju, ia tak menyangka centong bisa menjadi senjata mematikan di tangan Mitsuki, "Mitsu.. tenanglah oke.. jauhkan benda ini dariku.. pelan pelan saja" ujar Yamato berusaha membujuknya

"Ehh kenapa, kesayanganku ini sudah terlanjur mengunci tagetnya Ossan, ini sudah diluar kendali" ujar Mitsuki dengan santainya terkekeh keras,

merasa tak terhindarkan lagi Yamato meneguk birnya kasar untuk terakhir kalinya"Minna.. Onii-san sudah puas dengan hidup ini. Ingatlah onii-san tetap jadi onii-san yang terbaik untuk kalian" entah datang dari mana rasa percaya dirinya itu meski disaat-saat kritis seperti itu

"Yamato-san silahkan pergi" ujar Sougo tersenyum tenang menyembunyikan kelegaannya mengiringi kepergian Yamato yang akan segera tiba

"Oh Yamato.. pergilah dengan tenang"ujar Nagi dengan nada sedih yang anehnya tidak menampakkan kepeduliannya sama sekali dengan nyawa leadernya yang terancam

"Yama-san kau bukan onii-sanku" ujar Tamaki dengan santainya berhenti sejenak di tengah aktivitas mondar mandirnya

"Ahhh aku sungguh menyanyangi kalian apa adanya" sarkas Yamato menarik nafasnya bersiap-siap

"Behenti dengan drama murahanmu sialan" terak Mitsuki makin kesal mukulkan centongnya dengan penuh kasih sayang dan cinta ke kepala Yamato

.

.

.

"Ada apa sebenarnya" tanya Iori yang sudah tiba beberapa menit lalu melihat semuanya terdiam dengan aneh

"Ishh si cebol itu tidak menahan diri" gerutu Yamato mengusap benjolan besar di kepalanya,

"Kau sudah bosan hidup jika membiarkan Mitsuki-san mendengar itu Yamato-san" tegur Sougo memperingatkan

"Mikkiii.Yama-san menga-" uhmm teriakan pengaduan Tamaki pada MItsuki berhasil di cegah oleh tindakan reflek Yamato demi kelangsungan hidupnya,

"Tama apa kau mau pudding" bujuk Yamato

ID7 Fanfic-Zero [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang