Chapter 46

1.8K 149 93
                                        

Surai ravennya yang agak memanjang disisihkan ke belakang telinganya, jepit rambut berwarna merahnya terpasang rapi menahan helaian surainya agar tidak tertarik gravitasi bumi. Ketukan bolpoin yang tersemat di jemarinya bergerak seirama menandakan pemikirannya yang sedang fokus saat ini. Maniknya bergerak naik turun mengikuti barisan huruf-huruf yang tercetak di kertas putih.

Helaan nafas lelah ia hembuskan, menyandarkan punggung tegangnya pada sandaran kursi yang cukup empuk untuknya saat ini. "Waktu kita semakin sedikit" gumamnya memandang langit-langit kamarnya. Memijit pangkal hidungnya ia mencoba meredakan kantuknya saat ini

Suasana hening di ruangan itu membuatnya terlena dan hampir terpejam sepenuhnya sebelum ketukan pintu menyadarkannya. Maniknya melirik jam dindingnya yang sudah menunjukkan waktu larut, membuatnya menerka-nerka siapa yang mengetuk pintunya selarut ini

Kedua alisnya terangkat memperhatikan sosok sepantaran dirinya yang kini tertunduk, memeluk erat bantal orange kesayangannya. Bibirnya menggumamkan kata-kata acak yang dapat ia simpulkan bahwa sosok di depannya sedang gugup saat ini. "Mudah di tebak seperti biasa" pikirnya menahan geli melihat sosok di depannya

"Ada apa kau kemari.. Nanase-san" tanyanya tersenyum kecil membuat sosok yang sedari tadi tertunduk mengangkat wajahnya terkejut

"Ano.. bisakah.." gumamnya lirih membuat Iori menautkan alisnya bingung mencoba menangkap apa yang ingin ia katakan, "Hanya untuk malam ini, bolehkah aku menumpang tidur disini"ujarnya lagi hampir seperti bergumam

"Heh.. kau akhirnya menyerah juga" godanya lagi, "Apa segitunya kau merindukanku"tanyanya lagi mulai terhibur mencoba menggodanya lebih jauh

Segumpal udara berhasil ia raup saat membuka mulutnya dan kembali terkatup saat ia mengurungkan niatnya untuk membalas perkataannya membuat gumpalan udara tertahan dalam pipinya, menatap kesal sosok di depannya, "Aku akan menginap ke tempat lain" ketusnya segera berpaling sebelum tarikan kencang menahannya

"Ini sudah malam.. jangan mengganggu yang lain" balasnya segera menariknya ke dalam mengunci pintu kamarnya sendiri

Seolah sudah di persilahkan, pemilik surai merah itu bergerak lincah segera naik ke ranjang menggulung dirinya ke dalam selimut. Terbiasa melihat tingkah kekanakannya ia hanya bisa mendengus geli, "Untuk sesaat aku merasa sangat frustasi, tapi sekarang aku bahkan lupa apa beban pikiranku tadi" pikirnya tersenyum lembut ikut bersiap untuk tidur.

"Apa kau masih belum mau tidur?" tanya Riku penasaran, menyadari tumpukan kertas di meja Iori

"Iie.. aku akan tidur sekarang" jawab Iori tenang segera menyusulnya

"Hmph.. masih saja membawa bukumu Izumi-san" dengus Riku menatap datar Iori, "Apa-apaan panggilan itu" tanyanya heran mendengar penuturannya

"kau juga memanggil kami dengan nama belakang, jadi aku ingin mencobanya sesekali" balas Riku seperti menggerutu

"Jadi apa yang membuat orang sekeras batu sepertimu menyerah untuk tidur sendiri Nanase-san" tanya Iori duduk tenang di sampingnya mulai membuka buku bacaannya sebelum tidur

"Aku gugup.. bertemu dokter" jelas Riku memandang langit-langit kamar Iori yang sedari tadi sudah tidur telentang

"Nanase-san.. jangan bilang kau takut di suntik" ujar Iori menutup mulutnya seolah terkejut, sontak mendapat delikan protes dari Riku, "Bukan itu Iori.." ketusnya merasa kesal

"Aku akan menemanimu.. apa masih belum cukup" tanya Iori tenang,

"Iie.. sebenarnya bukan itu.. aku bohong" sela Riku cepat, membuat Iori menatapnya penuh tanya

ID7 Fanfic-Zero [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang