Chapter 40

2.3K 158 129
                                        

‘Perih.. rasanya tubuhku hancur hingga aku tak bisa mengatakan apapun’

‘Ah benar juga.. aku masih harus diam’

‘Agar tidak ada yang terluka lagi.. bukankah lebih baik aku diam untuk selamanya’

‘Tapi ini.. tangan yang terasa hangat melingkupi tubuhku dengan nyaman’

‘Siapa? Siapa pemilik tangan ini?’ pikirannya terasa kosong

“Nase-san. Nanase-sann” sayup sayup panggilan keras Iori berhasil ditanggap pendengarannya, perlahan ia mengangat wajahnya diangkat dengan lembut untuk menatapnya langsung

‘Manik itu.. manik yang selalu mengawasiku dengan baik, tapi apa-apaan tubuhnya. Dia terluka parah’

‘Dasar bodoh.. iie aku yang bodooh karena lagi lagi melukai orang yang berharga bagiku’

‘Apa yang dia bicarakan.. aku tidak bisa mendengarnya dengan baik’ seolah tak kenal menyerah lagi-lagi Iori mengajaknya bicara untuk mendapatkan perhatiannya

“Nanase-san.. apa masih ada yang sakit? Bagaimana dengan lukamu? Apa kau kambuh?” tanya Iori beruntun makin khawatir tak mendapati jawaban apapun

‘Bukankah dia terlihat sama buruknya? Untuk apa mengkhawatirkan orang sepertiku’ pikir Riku dalam masih belum memperoleh suaranya

“Nanase-san kumohon katakan sesuatu” ujar Iori memohon padanya, melihat tatapan kosong Riku seolah dirinya entah ada dimana

“I-ori” ujar Riku terbata menatap orang didepannya

“Ya ini aku.. ini aku Nanase-san” ujar Iori merengkuhnya erat tak bisa menyembunyikan kelegaannya

‘untuk sekali bolehkah aku bertindak egois.. aku masih ingin bersamanya’ujar Riku dalam hati mengalah menenggelamkan diri dalam pelukannya

“Aku akan selalu disini Nanase-san, semuanya akan baik baik saja sekarang” ujar Iori lembut menumpahkan kelegaannya

“Ja-jangan pergi...” bisik Riku lemah membuat Iori mengangguk mantap sebelum

“Hei awas Izumi Iori” teriak Kujo keras, yang hanya dibalas senyuman tenang Iori. Tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan lagi, setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk melindungi partnernya

“Ini yang terbaik Nanase-san.. aku tidak akan melepaskanmu lagi” bisik Iori menahan ringisan pelan merasakan logam tipis itu menyanyat kulit punggungnya

Dengan gemetar Riku memegang bagian punggung Iori merasa cairan hangat di tangannya,melihat warna merah pekat di tangannya membuat ketakukannya makin menjerit. “Iie,, Jangan lagi kumohon.. pergi dariku..” racau Riku berusaha meronta sebisanya

“Tenanglah.. aku baik baik saja” ujar Iori mendekap erat tubuhnya menyembunyikan wajah Riku di dadanya menghalanginya untuk melihat dirinya yang tampak menyedihkan

“Menjauh dari mereka bangsat”teriakan seseorang menggema bersamaan bunyi letupan keras dari senjata api

Derap langkah terdengar mendekati mereka, “Hei kau baik baik saja” tanya Momo melepaskan ikatan Kyoka yang tampak masih syok, dalam diam Yuki juga melakukan hal yang sama pada ikatan Kujo

“Iori.. “ teriak Mitsuki segera menghampiri adiknya

“Riku kau baik baik saja” tanya Tenn segera menghampirinya

“Nagi bantu Iori” ujar Mitsuki panik melihat adiknya bersimbah darah yang kini sudah tak sadarkan diri

“Riku heii kau baik baik saja” tanya Tenn lagi yang tak kunjung mendapat jawaban dari adiknya yang masih setia mendekap erat tubuh Iori begitu juga sebaliknya

“Oh Riku.. biar aku membawa Iori” ujar Nagi lembut berusaha membawanya

Dengan erat Riku berusaha menahannya, “Jangan pergi..” ujar Riku lirih yang masih dapat di dengar semuanya

ID7 Fanfic-Zero [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang