Chapter 32

803 64 10
                                        

Siang hari ini semuanya bersiap untuk menemui kedua orang tua Grace. Baru berapa jam berkenalan, keluarga Bastian Sanders tampak begitu sangat dekat dengan Grace. Apalagi saat sarapan tadi pagi, tanpa sengaja Bastian merestui hubungan Grace dan Sean.

‘’Ini kita langsung ke cafe tempat Grace kerja aja ya, Sean Chilla Bryan dan Grace semobil ya sama Sean. Kalian jalan duluan aja, takut Grace telat ya nak. Jam 2 nanti papa sama mama nyusul,’’ intruksi Bastian.

‘’Kalo gitu, gua nanti kalo nyampe cafe minjem mobil lo ye tan mau balik bentaran lagian sekarang masih jam 11,’’ ujar Bryan.

‘’Chilla ikut Bryan,’’ yah, mereka menyediakan ruang untuk Sean dan Grace berduaan.

‘’La, nanti kita ke mall dulu, oke?” bisik Bryan tepat di telinga Chilla, dan dibalas dengan anggukan singkat oleh Chilla.

‘’Yaudah, kalau begitu Papa sama Mama berangkat duluan ya. Ada urusan sama teman SMP,’’ pamit Bastian.

***

Chilla menyandar di pundak Bryan, ia me-scroll layar ponselnya. Bryan mengamatinya, tanpa sadar Chilla membuka kembali isi pesan yang pernah Zayn berikan padanya. Sakit, sungguh sakit, suatu hal yang indah menjadi kenangan pahit, rasa cinta berubah menjadi rasa kecewa. Begitulah yang Chilla rasakan, Bryan mengacak rambut Chilla singkat.

‘’Apa?” tanya Chilla mendongak, sehingga kedua matanya saling bertatap dengan mata Bryan.

‘’Gimana bisa melupakan kalo chat dari dia aja masih dibacain satu persatu.’’

‘’Hapus, atau gua rusakin hp bagus lo itu,’’ sambar Sean.

Grace juga sudah mengetahui permasalahan yang sedang Chilla rasakan, Chilla sendiri yang menceritakannya sebelum mereka memutuskan untuk tidur. Hampir satu jam Chilla terus menangis mengingat kejadian itu, sangat menyakitkan dan membuat Grace lambat tidur. Seperti kisah cinta pertama Grace, si prianya hanya ingin menikmati kekayaan omah Grace walau tidak sama, tapi rasanya yang sama, s a k i t.

‘’Terkadang, perempuan hanya bisa berbuat seperti itu. Menyembuyikan luka, melihat kisah mereka yag dulu sempat indah. Dan pada waktunya mereka akan merasa lelah dan melupakan itu,’’ ujar Grace ikut menimbrung.

‘’Jodoh gua bijak banget, ya gak Yan,’’ canda Sean.

‘’Bacot lo jones,’’ maki Bryan terang terangan.

Chilla tidak mempedulikan mereka semua. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bryan, hatinya tidak bisa secepat itu melupakan Zayn. Kenangan manis mereka dulu masih sangat melekat di otak Chilla.

Bryan tau Chilla sedang menangis, walau isakkan tangisnya sama sekali tak terdengar, Bryan merasakan bajunya di bagian dada sudah basah.

Bryan memilih diam, membiarkan Chilla melakukan yang baginya tepat. Dengan lembut Bryan mengelus rambut Chilla. Chilla memeluk Bryan, senyum terbit di paras tampan seorang Bryan Darren Anderson.

Setidaknya, di saat waktu yang gua tentuin itu lo nolak gua kenangan manis ini akan selalu gua ingat, batin Bryan berucap.

Tanpa disadari mobil Sean telah diparkirkan di parkiran cafe tempat Grace bekerja.

‘’Turun atau langsung pergi ni kalian?’’ tanya Sean sebelum turun dari mobil.

‘’Langsung aja, turun sana lo berdua.’’

Sean mengeryit bingung, ‘’Chilla kenapa?” tanya Sean tanpa suara.

Bryan menggeleng, Grace tersenyum menenangkan memegang lengan Chilla.

NERDY GIRL [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang