Chapter 54

579 44 5
                                        

Shabilla, Queen, Richard, Reino, Bryan, Verrel dan Alvian datang lebih dulu. Sedangkan Jesicca, Kane dan Gildan belum ada tanda-tanda mereka sampai di cafe yang telah mereka tentukan tentunya. Jika Diandara, mereka sengaja diam-diam tanpa mengajak wanita itu.

Semalam, Bryan meminta teman-temannya untuk datang ke cafe ini. Sebab dirinya terlalu depresi jika hanya berada di rumah berhari-hari dan terus saja belajar mendalami semuanya.

''Gimana?'' tanya semuanya ke arah Shabilla yang baru saja menghubungi Jesicca.

Ya, Shabilla, Queen dan Jesicca berteman secara mudah. Baru saja bertemu kemarin, mereka tampak sudah sangat akrab dengan satu sama lain. Terkecuali dengan Diandara, Jesicca sempat emosi ketika melihat wajah Diandara. Makanya mereka membuat suatu grup tanpa Diandara.

''Ah mereka kena macet,'' ucap Shabilla menutup layar ponselnya lalu meminum segelas coffee yang ia pesan.

''Kita berangkat barengan, mungkin dia ngambil jalur depan. 30 menit lagi sampai maybe,'' ucap Richard.

''Gila aja kita udah nunggu 30 menit lebih kali disini,'' kata Queen, Queen memang orang yang tak sabaran jika menunggu sesuatu. Sebagai sang kekasih Verrel selalu siap kapanpun itu.

''Hai?'' sapa seorang barista cafe yang berdiri di dekat mereka.

Semuanya menoleh tanpa terkecuali tentunya, ''Kak Grace?'' panggil Shabilla dan Queen sedikit kuat.

''Udah pulang kalian? Udah lama ya gak ketemu, apa kabar hm?'' tanya Grace begitu ramah dengan semuanya.

''Baik kak, but why masih kerja disini?'' tanya Shabilla agak canggung, tak maksud untuk menyingung tetapi kabar yang ia dengar Sean melarang Grace menjadi barista cafe.

''Eum.. Bukan apa-apa, gue juga udah balik sebulan yang lalu sebelum Sean jadi makin frustasi kayak sekarang,'' kata Grace lalu melepaskan rompinya.

''Maksudnya?'' tanya Queen, ya memang suka begitu yang wanita bertanya dan sang pria hanya duduk diam menyimak dengan seksama.

Grace menghela nafas berat, ''Udah 6 tahun kalian tau itu, semua keluarga lagi berupaya tentang hal itu. Neneknya sakit tapi gak bisa dicenguk,'' jelas Grace.

''Gue duluan ya, di minum coffee-nya itu gue yang buat,'' ucap Grace berlari menuju pintu cafe.

Tanpa sadar sebab terburu-buru, Grace menabrak seorang pelanggan cafe yang baru saja mau masuk.

''Oh sorry saya sedang buru-buru, sekali lagi maaf.'' Grace menunduk mengucapkan maaf dan kembali berlari ke arah mobilnya.

Pria yang ditabrak ini hanya memutar bola matanya malas, dan berjalan kearah teman-temannya.

''Dasar tuh cewek, cantik sih tap—''

''Kakak pacar gue kenapa lo?'' tanya Richard menatap datar ke arah Gildan yang baru saja ingin protes.

''Kagak Chard hehe,'' ucap Gildan terkekeh canggung.

Semuanya sedikit terkekeh melihat itu.

''Lama banget lo,'' kata Alvian begitu saja dan sibuk meminum coffee miliknya.

''Macet, lupa jalan sini,'' ucap Kane yang baru saja datang dan menyeret kursi duduk dihadapan Jesicca.

''Goblok kali,'' hina Reino.

''Kenapa gak pake GPS?'' tanya Shabilla ke Kane.

''Hp gue ketinggalan, mereka gak ada inisiatif,'' ucap Kane begitu saja.

''Lah kok pundung?'' kata Jesicca menatap begitu saja ke arah Kane.

''Bukan begitu maksudnya,'' ujar Kane menyangkal ucapan Jesicca.

NERDY GIRL [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang