Chapter 35

717 61 4
                                        

Sudah hampir dua bulan Chilla bekerja terlalu giat. Mengumpulkan uang untuk membantu ekonomi kelurganya yang sedang tak baik. Bryan telah tau permasalahan waktu itu, Sean yang menyeritakannya.

Semuanya membantu Chilla dan keluarganya, walau Chilla kembali mendapatkan bullying lagi dari siswa siswi julid SMA Dirgantara. Padahal Papa Chilla sudah terbukti tidak bersalah pada kasus itu.

Hari ini Chilla bersekolah seperti biasa. Semenjak kejadian itu, Chilla juga sering berbarengan ke sekolah dengan Gabriella. Gabriella, Bryan, Verrel, Reino, Shabilla, Queen dan Richard sangat berperan penting untuk menguatkan mental Chilla saat ini.

Karena sekarang adalah hari Senin. Yang mewajibkan untuk para pelajar berupacara, seluruh siswa siswi SMA Dirgantara menata barisan masing masing, dan bagi yang bertugas menggambil posisi mereka masing masing. Begitupun dengan Chilla dan Gabriella yang berbaris berdampingan.

Upacara dimulai, keadaan hening. Semua sangat khidmat menjalani upacara seperti biasanya. Saat di pertengahan upacara di langsungkan, muka Chilla terlihat begitu sangat pucat. Dari sebrang sana Bryan, Reino, Richard, Verrel, Queen dan Shabilla tak melepaskan tatapan mereka kepada wajah pucat Chilla.

Gerak gerik Chilla terlihat semakin mencurigakan, mengetahui hal itu dari sebrang sana dan dari samping Chilla mulai riuh. Mereka heboh sendiri, Bryan memberikan isyarat agar Gabriella memanggil petugas PMI yang berjaga didekat mereka untuk membawa Chilla ke UKS tetapi sayangnya Gabriella tak paham.

Chilla menunduk ketika merasakan kepalanya yang semakin pusing dan hidung yang terasa perih, perlahan Chilla menutup hidungnya ketika merasakan sesuatu akan mengalir dari sana. Karena darah yang semakin banyak keluar Chilla memutuskan untuk ke toilet. Chilla balik kanan dan ingin berlari dengan kepala yang semakin pusing dan darah yang semakin banyak keluar.

Hap!, baru beberapa langkah Chilla terjatuh tak sadarkan diri didepan Samuel, teman sekelasnya yang merupakan si es keturunan Richard.

Melihat hal itu Bryan, Reino, Verrel dan Richard langsung berbalik kanan menghampiri Chilla yang jatuh tak sadarkan diri. Bryan menggambil Chilla dari Samuel yang menangkap Chilla ketika jatuh pingsan. Upacara berjalan begitu riuh saat ini, melihat tumbangnya Chilla dengan darah yang begitu banyak.

Beberapa guru ikut membantu, sebelum memutuskan agar Bryan yang menggotong Chilla hingga sampai di UKS. Guru guru kembali menertipkan siswa siswinya. Samuel cuek, tak mempedulikan darah segar Chilla yang melekat di baju seragamnya. Sedangkan Reino, Verrel dan Richard telah kembali ke barisannya.

Sesampainya Bryan di UKS, Chilla langsung di tidurkannya di brankar yang tersedia. Menggambil tisu yang ada di ruang itu, mengelap darah mimisan Chilla walau darahnya masih saja mengair tetapi sudah tak begitu deras seperti sebelumnya.

‘’Ini kenapa? Olesin minyak kayu putih dulu nih, nih siapa yang mau olesin’’ Bryan menggambil minyak kayu putih dari Bu Sista, penjaga UKS.

Bryan mengoleskan minyak kayu putih di bagian kepala Chilla, sedangkan anak PMI yang berjaga di UKS sedang mencari untuk menghentikan mimisan Chilla. Bu Sista memeriksa keadaan Chilla, membersikan mimisannya.

‘’Ini dia kecapekkan loh, Bryan’’ ujar Bu Sista kepada Bryan yang stay disana.

‘’Dia butuh istirahat, mungkin bisa jadi dia akan masuk rumah sakit ini. Suhu badannya juga panas sekali. Seharusnya kamu sebagai pacarnya memberitahu supaya dia tidak boleh kecapekan seperti ini’’ lanjut Bu Sista.

‘’Belum pacaran, Bu. Umur saya belum cukup untuk pacar’’ jawab Bryan sekenanya membuat beberapa orang yang berada di UKS terkekeh geli mendengarnya.

NERDY GIRL [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang