Chapter 64

569 46 1
                                        

Chilla langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuk apartemen yang omah-nya berikan beberapa tahun yang lalu, tanpa seorang pun yang mengetahuinya selain yang bersangkutan.

Baru saja ingin memejamkan matanya, pintu apartemen Chilla di gendor dengan cara tak hormat. Chilla mengepal kedua tangannya, kenapa minggu ini sangat menyebalkan?

Chilla keluar dari apartemen-nya, bersandar pada dinding pintu menatap tak suka tetangga barunya ini, siapa lagi kalau bukan Richard.

''Gak bisa apa lo satu hari aja gak cari masalah sama gue?'' kata Chilla menatap dalam manik mata pria sialan ini.

Richard berdecih remeh dan menendang koper Chilla dan menjatuhkannya asal barang-barang Chilla, sekarang Richard hanya tersenyum smirk dan berlalu begitu saja menuju apartemennya.

Sedangkan Chilla sedang meringis atas perbuatan Richard, bagaimana bisa Richard menendang koper sampai mengenai tukang keringnya dan menjatuhkan barang yang akhirnya menimpa kakinya. Harusnya dari awal Chilla menolak ini.

''Gue doain lo—''

''Apa?'' tanya Richard yang langsung muncul dihadapan Chilla.

Dengan gerakan refleks Chilla mengusap lalu mendorong wajah Richard membuat pria itu sedikit terhuyung ke belakang.

''Untung calon bini sahabat gue,'' gumam Richard dan masuk ke apartemen barunya.

Tidak terlalu mewah, dan tidak terlalu menyedihkan. Richard menyukai konsep yang minimalis seperti ini, dan orang sekitarnya juga ramah selain Chilla tetapi. Richard mengatakan mereka baik sebab baru satu jam berada di sini ada seorang tetangga yang memberikannya makanan.

Sesuai apa urusannya di sini, Richard membuka laptopnya dan menuntaskan beberapa pekerjaan agar di waktu deadline dirinya tak begitu pusing. Berbeda dengan Richard, Chilla sudah tertidur lelap karena lelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan.

***

Chilla meregangkan otot-otot tubuhnya saat baru saja bangun tidur. Ia berdiri dan membuka gorden kamarnya setelah itu ia membersihkan kamar dan pergi mandi. Delapan tahun terakhir ini Chilla di ajarkan mandiri oleh omah-nya, ia tak mau melihat Chilla selalu bergantungan dengan seseorang siapa pun itu. Bagaimana pun, kenyataannya manusia akan ditinggal dan meninggalkan, omah-nya tak ingin Chilla menjadi putus asa karena hal itu.

Chilla menguncir rambutnya, pagi ini ia akan berolahraga seperti biasanya, tanpa seorang pun yang mengganggunya.

Chilla memutar-mutarkan tubuhnya di depan cermin. Chilla puas dengan penampilannya pagi ini, ia mengintip dari jendela tempat dan keadaan lapangan olahraga yang berada tak jauh dari apartemennya.

Chilla berlarian menuruni anak tangga, tentu ia sangat pasi dalam hal ini. Sebab Chilla suka bangun kesiangan yang membuatnya telat kuliah, ia mempelajari hal ini dari salah satu teman yang memiliki sama sepertinya.

Chilla tersenyum, ia mulai berlari dari pintu gerbang apartemen, Chilla juga menyapa beberapa pejalan kaki yang melintasinya. Semua orang ramah begitu juga dengan Chilla.

Chilla menghirup dalam udara lapangan olahraga pagi hari ini sebelum ada seseorang yang memegang pundaknya begitu saja, membuat Chilla sedikit kaget.

Chilla tersenyum ke arah pria yang sempat membuatnya kaget, ''Alvero? Dari mana aja lo?'' tanya Chilla sembari terkekeh geli.

''Diem gak lo, harusnya pertanyaan itu lo kasih sama diri lo sendiri,'' sarkas pria yang bernama Alvero ini kepada Chilla.

Alvero adalah salah satu temen Chilla di sini, ah tidak Alvero yang paling dekat dengannya. Alvero juga yang membantu Chilla untuk mandiri. Alvero sudah mengajarkan banyak hal kepada Chilla walau umurnya lebih muda dan sikapnya yang sedikit kekanak-kanakan. Alvero lah yang mengajarkan Chilla turun tangga dengan cepat, bangun tanpa dibangunkan, berlari dengan cepat tanpa henti, berbaur kepada semua orang, dan banyak lagi.

NERDY GIRL [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang