07. tidak sengaja

20.4K 1.3K 18
                                        

Oii oiiiii....
Hi! Aku kembali, semoga kalian semua suka sama part ini ya :)
Happy reading...

******

"Anjing! Canopus bangsat!" teriak Samuel semakin tertelan api amarah. Melihat tempat kumpulnya yang terletak tak jauh dari sekolah SMA Taruna Bangsa itu hancur tak tersisa. Warung Mpo Siti bisa di bilang seperti sudah hampir rata oleh tanah akibat ulah Canopus yang sudah pasti di ketuai oleh Dareen. Si sang ketua mereka itu sendiri.

Warung Mpo Siti berdiri tak jauh dari rumah kecilnya. Wanita parubaya itu tinggal seorang diri karena anak anaknya yang entah pergi kemana. Tetapi kalian tenang saja, Liberios adalah bagian dari keluarga Mpo Siti saat ini. Berani kalian macam macam dengan wanita itu? Akan berurusan dengan Aksara dan yang lainnyalah jawabannya.

"Gila kali ya si Dareen, kenapa mereka selalu ngincer orang orang di dekat kita? Kenapa Canopus gak nyerang gue aja langsung?!" kesal Farzan. Tempat ini sungguh banyak sekali kenangan yang tak dapat terlupakan oleh seluruh anggota Liberios.

"Mungkin mereka takut, jadi gak bisa berhadapan sama kita langsung." ujar Kenzo pelan namun menekan. " Dasar banci." katanya lagi dengan nada sedikit menggeram juga pandangan yang lurus kedepan.

Kemana Aksa? Cowok itu diam sedari tadi dengan kedua tangan terkepal kuat hingga buku tangannya meremang hebat, "Di mana Mpo Siti?" tanya Aksa dengan suara serak mengerikannya.

"Mpo Siti di bawa ke rumah sakit. Karena pingsan dan kita takut Mpo Siti kenapa napa. Mungkin dia syok sama kerusuhan yang Canopus buat barusan, tapi lo tenang aja Mpo Siti gak ada luka luar ko. Sebisa mungkin kita bakal jagain Mpo Siti." jelas salah satu anggota Liberios lainnya.

Mengeluarkan dompet tebalnya dari saku celana. Terpampang nyata Aksa yang menyodorkan kartu unlimited miliknya ke arah Saguna.

"Gue minta besok warung Mpo Siti udah kembali normal. Kalo perlu bikin lebih bagus dari sebelumnya, jangan ragu buat beli apapun karena gue gak perduli seberapa mahalnya barang itu, gue-mau-yang-terbaik." ujarnya menekan kata demi kata di akhir kalimat yang ia ucapkan barusan.

Kenzo melihat Aksa dan Saguna secara bergantian. Keduanya diam tak bereaksi sama sekali, Saguna ini sangat bodoh menurutnya. Karena apa? Karena saat di sodorkan kartu unlimited milik Aksa. Cowok dingin itu malah diam tak merespons.

"Gampang Sa. Gue bakal bikin warung Mpo Siti jadi keren, bagus, kalo perlu sama persis kaya cafe jaman sekarang!" sela Kenzo mengambil kartu berwarna hitam tersebut yang dengan cepat mendahului pergerakan lambat dari Saguna.

Telat si lu SAGUNA!

"Jangan khawatir kalo sama gue, semua bakal beres seberes beresnya!" katanya lagi dengan senyum ciri khas Kenzo, manis dan—lucu.

"Giliran masalah ginian aja grecep!" sarkas Farzan menimpali. Tidak lupa juga menggeplak kepala cowok bodoh tersebut dengan begitu kuat.

"Aduh, sakit anjir!" ringis Kenzo memicingkan pandangannya ke arah Farzan.

"Udah jelek mata duitan lagi." kata Farzan kembali.

"Untung gak denger." jawab Kenzo pura pura budek.

"Tau lo Zo, bukannya mikir gimana cara supaya kita bisa bales ulah Canopus. Menurut lo gimana, Na?" tanya Samuel kepada Saguna yang nampak datar.

"Terserah perintah dari Aksa." jawab Saguna sekenanya. Memang seperti inilah Saguna, selain dingin cowok itu juga males mikir.

Mungkin.

"Gimana Sa? Mau kita bantai sekarang? Hari ini juga, detik ini juga?!" heboh Samuel kembali.

AKSARA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang