"Pengkhianat itu, adalah orang terdekat kalian!" bentak Corben kemudian tertawa walau seluruh tubuhnya sudah mati rasa.
"Fuck! Not me—"
"Gue gak percaya. Lo dibalik ini semua?" sela Farzan memotong ucapan Kenzo dengan tatapan kecewanya. Penuh rasa yang menyesakan dada, hatinya bak di goncang kuat sebab Farzan tidak menyangka sahabat paling dekatnya lah yang melakukan ini semua.
Sahabat gilanya yang selalu membuatnya tertawa. Keduanya selalu bersenang senang bersama, mungkin kegilaan yang Farzan dan Kenzo miliki hampir sama rata. Membuat apa yang ada difikiran konyol Farzan juga dapat difikirkan oleh Kenzo walau dengan tatapan mata saja.
"Jadi lo pengkhianat itu, Zo?" tanya Samuel sama halnya seperti Farzan. Menatap Kenzo tak percaya. Bahkan Freya dan Meisya hanya mampu memandangi mereka tanpa mengeluarkan reaksi apapun.
Kondisi macam apa yang tengah terjadi sekarang? Freya bersumpah jika waktu bisa di ulang lebih baik ia pergi dari sini, dan tidak ingin menyaksikan hal ini bahkan sebelum semuanya bermulai.
"Gue—bisa jelasin—"
"Lo yang udah bocorin jalan rahasia Danu? Secara gak langsung lo bunuh sahabat lo, Zo!" kata Aksa yang merasa paling kecewa. Walau ia sudah menaruh curiga tetapi tidak pernah terbayangkan kalau pikiran negatifnya akan menjadi sebuah kenyataaan, sahabatnya sendiri yang menjadi duri di dalam daging?
Dadanya bak di hantam dengan kuat. Aksa memang sangat membenci peneror dan kaki tangan dari Canopus, tetapi ia akan lebih rela jika pelaku dari semua ini adalah orang yang tidak di kenal.
Bagaimana semua bisa terjadi kepada Liberios? Kenapa pengkhianat itu salah satu dari keluarga besar ini? Bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang cukup besar?!
"Sa, gue berani sumpah bukan gue! Pasti dia lagi mencoba buat nuduh gue!" kata Kenzo dengan wajah sendunya. Seperti berharap semua orang di sini akan percaya dengan apa yang ia katakan barusan.
"Lo yang udah lepasin Agam di basecamp? Lo juga ada ikut campur atas penculikan Meisya? Lo juga yang udah neror kita bareng Anjing ini?!" bentak Aksa menunjuk Corben di akhir kalimat.
Pelipisnya sudah mengeluarkan keringat, panas di tubuhnya telah membakar semua kenangan Kenzo sebagai sahabat dan anggota inti Liberios. Namun, Aksa akan terus menahan api besar itu sebelum semuanya terbakar tanpa sisa sedikitpun.
"Kita juga yang udah bikin ruang Olimpiade kebakaran. Buat nyelakain cewek sialan itu." kata Corben lagi lagi menunjuk Meisya.
Krak!
Entah tulang bagian mana lagi yang di patahkan Aksa karena mendengar Corben memanggil Meisya dengan sebutan cewek sialan. Jadi ini juga ulah Kenzo dan Corben? Pantas tidak di temukan kalau ada kerusakan di bagian apapun. Semua terlihat baik baik saja namun untuk membohongi semua murid dan lingkungan luar, pihak sekolah mengatakan bahwa telah terjadi korsleting lisrik.
Seperti biasa. Kabar tetang sekolah SMA Taruna Bangsa sudah tersebar luas. Dan jika sudah begini, pihak sekolah akan mengeluarkan pembongongan publik.
"Tapi itu ada videonya, Zo. Semua udah jelas, ini itu tanda bukti!"
"Please bilang ke gue kalo ini cuman bohongan!" bentak Farzan menatap ke bawah dengan tatapan kosong.
"Gue sangat amat kecewa sama lo." kata Saguna. Mendapat tatapan kecewa dari semua sahabatnya, membuat Kenzo benar benar murka kepada Corben. Manusia berwajah tampan namun berhati bak iblis itu telah menghancurkan persahabatannya!
"Sialan lo!" ketika Kenzo ingin memukul Corben. Farzan justru menahan lengan Kenzo secara tiba tiba.
"Pilihan lo. Lo masih mau jadi anggota inti Liberios atau pindah ke Canopus?!" tanya Farzan tanpa basa basi.
"ZAN! Lo gila?! Apapun yang terjadi, Kenzo tetep anggota inti Liberios!" bentak Aksa menarik Farzan menjauh.
"Lo bego?! Dia pengkhianat! Gue gak mau nerima orang yang udah khianatin kita! Lo tau, orang tua gue akan pisah karena sebuah pengkhianatan!" jawab Farzan tak kalah membentak.
Mendengar itu Aksa terdiam cukup lama. Sebuah pengkhianatan? Adalah salah satu hal yang sangat sangat Aksa benci. Semua akan hancur dan tidak akan bisa di bangun kembali karena orang yang berkhianat. Sebab apapun yang sudah hancur lebur tidak dapat dibentuk kembali seperti semula.
Pasti akan ada perbedaan walau dari semua pihak telah berusaha membuatnya seperti dulu lagi.
"GUE BUKAN PENGKHIANAT! Kalian semua sahabat gue harusnya kalian percaya sama gue!" kata Kenzo bak orang yang sudah tidak waras.
"Gue saranin buat gak ngomongin ini semua di depan dia." kata Saguna bermaksud untuk menyebut Corben yang masih tersungkur namun bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
Bruk!
Semua menatap Aksa. Cowok itu baru saja memberikan serangan terakhir yang membuat Corben tumbang tak sadarkan diri.
"Dia gak akan denger semuanya." ujar Aksa melihat Corben yang sudah menutup kedua matanya.
"Sa, lo harus percaya sama gue! Gue ini bukan pengkhianat! Gue bisa pastiin itu, gue—"
"Zo. Gue juga gak percaya, tapi video tadi udah jelasin semuanya." balas Aksa memandangi sahabatnya.
"Sahabat yang gue kenal. Orang yang bersama gue sejak dulu. Yang selalu semangatin gue apapun yang terjadi. Emang belum tentu menjamin kalau dia benar benar akan selalu ada di samping gue dan yang lainnya." ujar Aksa begitu menusuk dan merobek relung hati Kenzo. Ia tidak dapat berkata kata lagi, semua, persahabatan mereka akan segera berakhir untuk selamanya.
******
Suasana keadaan perkumpulan Liberios sangat tak baik baik saja. Aksa akan menahan semua mulut anggota yang ia miliki agar tidak terburu buru untuk membicarakan ini kepada mantan mantan ketua Liberios yang pernah memimpin perkumpulan tersebut sebelum dirinya.
Karena beginilah Aksa. Ia yakin, kalau dirinya mampu membereskan semua masalah yang ada. Sendirian.
Corben di temukan oleh salah satu staf sekolah. Namun tidak ada satupun yang tau kalau Aksa dan kawan kawannya lah yang telah membuat Corben sekarat, kecuali mereka sendiri dan dua gadis cantik yaitu Freya dan Meisya.
Lagipula Aksa bukan pengecut. Ia akan mengakui kalau dirinya lah yang membuat Corben hampir mati. Itu bukan masalah yang cukup besar baginya dibandingkan masalah yang saat ini Liberios alami.
"Sa,"
"Aksa." panggil Meisya entah yang sudah keberapa kalinya. Untuk pertama kalinya, Aksa duduk di taman sekolah karena diajak oleh Meisya agar bisa menenangkan diri serta fikirannya di sana.
"Kalau kamu lagi butuh waktu untuk sendirian dulu. Gak apa apa ko, aku pamit ke kelas dulu ya." ujar Meisya bangun dari duduknya setelah sempat menghela nafas pelan. Membenarkan rok seragam sekolahnya dan melangkah pergi. Namun baru langkah pertama, sangat terasa kalau ada seseorang yang mencekal pergelangan tangannya.
"Gue butuh lo." kata Aksa ikut bangun dan langsung memeluk Meisya. Mencurahkan semua kesedihan yang ia punya saat ini.
"Gue rasa, setia dalam bentuk apapun itu cuman omong kosong." kata Aksa di sela sela pelukannya.
Rasa sesak yang Aksa punya kini ikut merambat menerobos hati Meisya. Apa mungkin suara sedih yang Aksa keluarkan mampu menancapkan pisau tajam kepada para pendengarnya?
"Maaf. Maafin aku Aksa." lirih Meisya entah untuk apa. Aksa juga tidak bertanya, cowok itu hanya memeluk erat gadisnya hingga rasa sedih itu sedikit berkurang setiap seperdetik yang mereka lalui.
******
WOIIII GIMANA SAMA DUA PART TERAKHIR INI?
BILANG DONG SAMA GUA
CURAHIN SEMUA UNEK UNEK ATAU KATA KATA YANG PENGEN LO UNGKAPIN...
NEXT?
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA
Romantik[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Aksara Gunadhya, manusia berparas malaikat. Rupa wajahnya tak seindah perjalanan hidup cowok tersebut. Terlahir untuk bertanya, apa tujuan hidupnya? Kenapa Aksa harus terus bertahan? Untuk apa Tuhan menciptakannya? Di...
