"Memamerkan kehebatan adalah salah satu cara menutupi kekurangan yang takut di ketahui banyak orang."
-Aksara Gunadhya
******
"Ohh—jadi Liberios itu geng motor terkenal dari sekolah ini? SMA Taruna Bangsa?" tanya Meisya dengan kedua tangan memegangi beberapa buku paket tebal yang di ambilnya dari perpustakaan.
"Iya, banyak juga murid dari sekolah lain yang gabung ke Liberios. Cuman sebagian besarnya ya murid sekolah ini." jawab Freya menjelaskan. "Anggap aja SMA Taruna Bangsa itu pusatnya Liberios, gitu Sya!" kata Freya kembali hingga beberapa saat setelahnya Meisya mengangguk berkali kali sebagai pertanda bahwa ia paham.
"Contohnya Samuel, lo kenal kan sama cowok yang namanya Samuel?"
"Ohh, Samuel." mendengar itu, Freya kembali bernafas lega.
"Kenal?"
"Enggak." Meisya menggeleng polos.
Sudah Freya duga. "Dia awalnya dari sekolah lain, tapi karena dia udah nyaman sama Liberios dan gue gak tau pasti gimana ceritanya. Tapi intinya dia pindah sekolah biar bisa lebih deket sama temen temennya di geng itu." jelasnya lagi. Freya juga tengah memegangi buku paket karena sepuluh orang yang di maksud Meisya beberapa jam lalu itu bukan hanya dari kelas XII. Tetapi ada juga dari kelas X dan XI, rutin setiap tahunnya sekolah asal Meisya mengirimkan murid berprestasi ke SMA Taruna Bangsa.
"Paham gak lo?" tanya Freya. Ia takut sudah menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi kalau Meisya sendiri tidak paham bagaimana? Bisa mati berdiri dengan mulut penuh busa dirinya, percuma dong Freya menjelaskannya sedari tadi.
"Paham paham." Sekali lagi, Meisya kembali mengangguk mantap. "Aku sama sekali gak tau berita tentang ini semua."
"Cih! Gue udah duga." kesal Freya berdencih. "Lo mau tau gak siapa nama ketua Liberios itu?" kata Freya dengan nada pelan. Sangat pelan karena ia takut ketahuan kalau sedang membicarakan sesuatu yang menyangkut pautkan nama Liberios.
"Ketua Liberios itu namanya—" ucapan Freya terhenti kala Meisya menyela dengan wajah tak enak. Namun jika tidak di hentikan Freya akan terus berbicara tanpa henti kan?
"Freya, aku buru buru harus antar buku ini ke ruang persiapan Olimpiade." ujar Meisya dengan nada gusar.
"Yaudah, ayu kita anter buku ini sekarang." keduanya pun berlari menyusuri koridor menuju ruangan yang Meisya maksud.
Membuat Freya menelan bulat bulat ucapan tentang siapa nama dari ketua atau pemimpin Liberios itu.
******
Kembali menutup telinganya rapat rapat. Aksa menghela nafas pelannya melihat Samuel dan Kenzo yang bergelud merebut siapa yang berhak mendapatkan makan siang miliknya, sengaja Aksa tidak memakannya karena saat ini ia tidak bersela melakukan hal apapun—termasuk makan, padahal itu sangat penting kalau Aksa tidak mau stamina dan kekuatan tubuhnya menurun.
"Gue aja arghhhhhhh! Gue butuh makan lebih Zo!" bentak Samuel hendak berlari menghampiri makan siang yang terdapat di samping Aksa. Namun langkahnya terhenti kala Kenzo memeluk kaki jenjangnya begitu kuat. "Kenzo anjir! Lepas berat gue gak bisa jalan nih jadinya!" ujarnya lagi.
"Nggak mau, gue lebih butuh buat masa pertumbuhan Kaka Samuel yang bahenol!" kata Kenzo merengek bak anak kecil yang meminta mainan baru.
"Alah masa pertumbuhan dari Hongkong! Badan lo udah kaya gorila kebon aja pake ngomong masa pertumbuhan!" lihatlah tubuh tegap Kenzo yang tengah memeluk kaki Samuel saat ini, sukur sukur jika kalian tidak muntah detik itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Aksara Gunadhya, manusia berparas malaikat. Rupa wajahnya tak seindah perjalanan hidup cowok tersebut. Terlahir untuk bertanya, apa tujuan hidupnya? Kenapa Aksa harus terus bertahan? Untuk apa Tuhan menciptakannya? Di...
