Bagian 55|| Harapan

263 31 12
                                        

.
.

Alano mengangkat kepalanya saat kursi dihadapannya bergerak, seseorang yang ia tunggu telah datang.

"Kenapa?" tanya Avisha

"Aku udah sewa roof top kafe ini, kita bicara disana!" ujar Alano, lalu ia berjalan kesana diikuti oleh Avisha

Avisha bisa melihat jalanan yang sedikit ramai, langit yang sedikit gelap meskipun pagi hari, dan pepohonan yang lebat dari atas sini.

"Sa!" panggil Alano

Avisha menoleh, "ada apa, No?"

"Kenapa kamu terus nanya kenapa? Ada apa? Memangnya kamu lupa apa yang terjadi sama hubungan kita?"

Benar juga, Avisha benar-benar lupa apa yang terjadi pada mereka, bahkan saat bertemu seperti inipun ia lupa hubungannya ini seperti apa.

"Alasan aku kasih bunga ke kamu, saat aku masih MOS dulu itu karena aku liat sesuatu yang beda setiap kali liat kamu," ujar Alano, ia membicarakan awal pertemuannya dengan Avisha

"Aku nggak nyangka, kamu dulu yang deketin aku, aku nggak bisa bayangin sih kalo kamu nggak deketin aku. Mungkin kita nggak akan pernah ada hubungan seperti ini karena aku orangnya penakut."

Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba Alano memutar kembali awal mereka bertemu? Apakah ia akan memutuskan Avisha dengan cara yang halus, dan mengungkit kenangan agar Avisha tak bisa lupa?

Baiklah, jika iya Avisha pun kan mengiyakan untuk putus.

"Aku pikir, rasa cinta kamu ke aku akan terus bertahan bahkan sampai nanti kita pisah sekolah. Tapi, kayaknya aku salah!"

Avisha yang sedari tadi diam kini menatap Alano penuh tanda tanya, "maksud kamu apa?"

"Apa bener aku cuma pelampiasan? Apa benar kamu cinta sama Revan lagi?" tanya Alano

Avisha mengalihkan pandangannya, jantungnya berpacu lebih cepat, lebih tepatnya ia khawatir harus dengan kata apa ia menjawab.

"Terus, mau kamu gimana sekarang?" tanya Avisha

Pengecut. Avisha bersembunyi dari keinginannya, ia memutar kata agar Alano yang memutuskan hubungan ini, maka Avisha tak susah payah untuk merangkai kata untuk memutuskan hubungan. Percayalah ini adalah sifat seseorang yang kekanak-kanakan.

Alano memegang dadanya, ia menunduk sembari mencoba mengatur emosinya, pada saat itu Avisha khawatir lalu membantu Alano untuk duduk.

"Kenapa No?" tanya Avisha dengan panik

"Bahkan denger kamu manggil nama aku dengan sebutan Nano aja aku seneng," ujar Alano yang kini emosinya mulai stabil, "dari dulu sampai saat ini, aku masih cinta sama kamu."

Seketika, mata Avisha membola, apa yang ia duga ternyata salah. Ia kira Alano akan memutuskan hubungan tapi, ini.

"Aku masih mau menjalin hubungan sama kamu, kalo kamu nggak suka aku deket sama Rara aku akan jauhin dia," ujar Alano, "apapun Sa, aku lakuin karena aku sayang kamu!"

Avisha menurunkan pandangannya, lalu mengangguk, "iya aku ngerti."

"Kamu nggak mau mutusin aku kan Sa?"

Avisha terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk.

Tidak ada lagi masalah? Benarkah? Saat ini tubuh Avisha tengah dipeluk Alano namun ia tak tersenyum sama sekali, hei Alano kenapa tidak putuskan saja hubungan ini? Rasa percaya tidak akan kembali utuh begitupula Avisha.

Avisha tidak percaya Alano akan menjauhi Rara, bahkan ia kemari saja bersama Rara. Benar, Avisha tahu karena Rara menunggu di depan Cafe dan tak sengaja ia melihat Rara.

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang