Alano menghela nafas panjang, rasanya segar sekali mandi sore ini, ia mengusak rambutnya yang masih basah dengan handuk yang di kalungkan di lehernya.
"Alano cepat!" teriak Ayahnya dari lantai bawah
"Iya Yah!" balas Alano
Dengan segera ia memakai kaos dan kemeja biru sore ini, ia menyisir rambutnya yang masih sedikit basah dan membiarkannya agar kering dengan sendirinya.
Alano meraih tas lalu dengan segera melangkah menuju lantai bawah dimana Ayahnya menunggu, namun ia tak melihat siapapun di ruang tamu
"Loh mana Ayah?" gumam Alano sembari celingukan mencari keberadaan sang Ayah
"Yah! Ayah!" teriak Alano hingga suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan
"Ayah lagi di toilet, sebentar lagi nak!" balas Ahdi dari dalam toilet
Alano mengangguk, namun baru saja ia duduk di atas sofa ia melihat layar ponsel Ayahnya menyala dan menampakkan chat dari seseorang.
Alano bisa melihatnya, hanya melihat dari layar pop up.
"Shinta? Siapa dia?" Alano haya mengerutkan dahinya, meski penasaran pada akhirnya ia hanya mengedikkan bahu dan tak peduli.
Namun beberapa saat didiamkan chat terus muncul dan suaranya sangat berisik, dan pada akhirnya Alano mengambil ponsel tersebut dan membaca chat dari Shinta.
Ponsel Ahdi memang tak dikunci, ini memudahkannya agar cepat mengubungi seseorang saat sedang sibuk-sibuknya.
Shinta
Sayang
Malam ini kita bisa ketemu? Aku mau ngomong sama kamu
Ahdi jawab aku
Ini penting
Ahdi
Ahdi
Nafas Alano tercekat membacanya, jantungnya seakan berhenti saat itu. Sayang? Bertemu?
"Kamu udah siap Lano? Ayah udah sele-" Ahdi terpaku memandang putranya yang tengah sibuk memandang layar ponselnya
Dengan segera Ahdi meraih ponsel itu, "Lano kamu baca apa?"
"Siapa Shinta Yah?" lirih Alano, tatapannya turun begitu pula suaranya
"Nggak seharusnya kamu baca ini," jawab Ahdi, "ayo berangkat nanti kamu telat les lagi, nanti malam Ayah jemput ya!"
"Bukannya Ayah nggak bisa jemput?"
"Kamu ini bicara apa? Sudah ayo!" Ahdi menggandeng tangan putranya agar segera beranjak, namun baru saja dua langkah kini lengan Ahdi yang di tarik Alano
"Apa Ayah udah benar-benar lupa sama Bunda? Apa Ayah udah nggak cinta lagi sama Bunda? Ayah mengkhianati Bunda, Ayah-"
"Lano!" bentak Ahdi, seketika itu Alano terdiam dengan bibir yang bergetar dan matanya yang memerah, nafas Alano memburu tubuhnya melemas.
"Kontrol emosi kamu!" Ahdi menekan kedua bahu Alano lalu menepuknya dengan pelan, pada saat itu juga Alano mulai menetralkan emosinya dan dapat bernafas lebih tenang.
Ahdi kembali menggandeng lengan Alano, mereka berjalan keluar dan saat itu pula ada Rara yang diantarkan supirnya.
"Halo Om, hai Lano!" sapa Rara dengan sopan
"Eh Ra, sama siapa kamu kesini?" tanya Ahdi
"Sama pak Dirman, Om."
"Ooh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)