"Alano! Sini keluar bentar," pinta Avisha di ambang pintu kelas Alano, ia melambaikan tangan kanannya beberapa kali, ucapnya terdengar lirih seperti bisikan
Alano hanya melirik sekilas, dan mengedipkan matanya seakan kode agar dia diam, tetapi Avisha masih saja memanggil namanya dengan tangan kanan melambai dan tangan kiri membawa ice cream dark chocolate cornetto yang ia beli di kantin untuk Alano
"Alano pliiss!" ucapnya semakin keras hingga teman-teman Alano ikut melirik keberadaan Avisha di ambang pintu kelas 10 IPA 1
"Ekhem." Tiba-tiba seorang guru datang menghampiri Avisha dengan wajah garang, dan tangan kirinya membawa penggaris besar khas milik seorang guru fisika.
Tentu Avisha tak menyadari itu ia berdiri tepat di balik pintu sebelah kiri yang ternyata disamping pintu itu adalah tempat duduk guru yang mengajar. Avisha hafal betul sifat guru itu, guru yang sering jadi perbincangan anak IPA tentang kegarangannya dan jenis hukuman yang tidak main-main jika muridnya melakukan kesalahan
"Ehh ibu, saya ini mau mang-" ucapan Avisha yang diimut-imutkan sekarang berubah menjadi mimik muka penuh ketakutan, pasalnya guru itu menepuk-nepukkan penggaris besar itu di tangannya, setelah diam beberapa saat Avisha menelan salivanya dan berusaha menjelaskan yang terjadi. "Saya mau manggil Alano bu."
'Plakkk'
Avisha tersentak kaget saat penggaris itu mendarat tepat pada pintu dimana Avisha berdiri, jika saja Avisha maju selangkah mungkin tangan kanannya akan berdarah jika mengenai pukulan maut itu. "Kamu tahu kelas saya sedang sibuk ulangan harian? Dengan santainya kamu datang manggil-manggil Alano! Kamu pikir konsentrasi dia nggak buyar? Bukan cuma Alano yang lain juga merasa terganggu ada kamu!" Tegur guru itu dengan nada tinggi.
Mata Avisha memanas, rasanya ia ingin menangis sekarang ia ingin menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu meluapkan tangisnya, tapi Avisha berusaha menahan dan bersikap seakan-akan ia baik-baik saja
Avisha bukan hanya merasa bersalah tapi ia juga merasa malu karena semua pasang mata yang ada di kelas 10 IPA 1 menatapnya tak terkecuali Alano
"Apa itu?" tanya Bu Mei membuat Avisha mengangkat kepalanya refleks
"Ini ice cream Bu Mei," ujarnya sangat lirih
"Apa? Yang keras dong, tadi manggil Alano aja semangat banget kamu!"
"Ini Ice Cream Bu, buat Alano." Ketika Avisha mengucapkan kalimat yang begitu cepat dan lantang semua murid di kelas 10 IPA 1 itu tertawa, saat Avisha melirik ia melihat Alano tersenyum gemas, tanpa menampakkan gigi rapihnya
"Kamu ini masih kecil udah berani ngasih-ngasih cowok, sini ice creamnya!" Bu mei menyodorkan tangan kanannya dan mengambil ice cream yang perlahan Avisha serahkan
"Udah sekarang kamu ke kelas, tapi ini buat saya ya, bukan buat Alano." Bu Mei meninggalkan Avisha di depan kelas dan masuk membawa ice cream itu ke dalam kelas
Sungguh memalukan Avisha lari sekencang-kencangnya, hingga suara hentakan sepatunya terdengar di setiap penjuru kelas yang ia lalui
"Sa."
"Woii Apisa!" Bahu kiri Avisha di tepuk cukup keras hingga ia tersentak kaget dan membalikkan posisi badannya menghadap ke seseorang yang memanggilnya.
Sial Avisha melamun dan memikirkan kejadian memalukan itu, meskipun sudah seminggu berlalu rasa malu itu masih menempel di otaknya tak lupa kejadiannya pun masih Avisha ingat dengan jelas
"Hayoo lo pasti lagi mikirin omongan Revan kan? Ngaku lo!" goda Anya, seseorang yang telah membangunkan Avisha dari lamunannya
"Iih siapa juga yang mikirin Revan, orang gue mikirin Alano kok!" Bantah Avisha, kakinya melangkah menuju kursi taman
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Novela JuvenilKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)