Pagi ini Avisha mengenakan hoddie hitam, ia menutup kepalanya agar semua orang berhenti menatapnya, ia berjalan menuju kelas sembari memainkan ponsel, ia sudah menunggu sedari malam kenapa Anya tak kunjung membalas? namun tidak lama kemudian chatnya di baca lalu nomornya di blokir.
Avisha menghembuskan nafas panjang, ia memasukkan ponselnya kedalam saku hoddie namun beberapa saat kemudian tangannya di tabrak oleh seseorang, hingga ponselnya ikut terjatuh karena tadi ia masih menggenggamnya.
Cepat-cepat Avisha mengambil ponselnya, lalu di tatapnya orang yang berani menabrak dirinya. Rara?
Rara tampak menatap Avisha dengan penuh kebencian, bahkan nafasnya tampak memburu saat melihat Avisha sekarang. Apa masalahnya?
Setelah beberapa detik saling menatap tanpa kata, Rara melanjutkan jalannya dan berjalan dengan angkuh.
Avisha mengedikkan bahunya, setelah itu ia tersadar sesuatu, bukannya Rara sering berangkat dengan Alano? Tapi ini Avisha bahkan tidak melihat Alano beberapa hari terakhir.
Sial. Avisha sudah tak lagi peduli sekarang, entahlah rasa percayanya sudah pudar dan perasaannya sulit untuk kembali seperti dulu.
"Sa!" teriak seseorang orang dari kelas sebelah
Avisha menoleh, dan saat itulah ia melihat Bisma melambaikan tangannya kearahnya, "sini Sa!" suruh Bisma
Avisha melangkah menghampiri Bisma, "kenapa?"
"Istirahat kita bicara ya di taman?" ujar Bisma, sepertinya dia sangat sibuk sekarang buktinya ia membawa setumpuk buku di kedua lengannya.
"Ada apa emang?" tanya Avisha
"Ada lah Sa, pokoknya gue tunggu ya, bye!" ujar Bisma, lalu berlalu menuju ruang guru
Lagi-lagi Avisha mengedikkan bahunya, ia melanjutkan langkahnya menuju kelas, dan setibanya ia di kelas semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun, yang paling menarik perhatian Avisha adalah Anya dan Ariala yang terdiam, tumben sekali Ariala, biasanya dia heboh setiap Avisha datang. Biarlah
Avisha duduk, lalu melepas hoddienya ia membuka bukunya dan membaca beberapa catatan, ada ulangan harian hari ini jadi dia harus belajar.
***
Avisha menatap lurus ke arah pohon, musik yang mengalun melalui earphone sedikit menghilangkan stress saat selesai ulangan tadi. Sekarang dirinya tengah berada di taman menuruti apa kata Bisma
"Hei!" ujar Bisma yang tiba di hadapan Avisha
Avisha melepas earphone nya, lalu menyuruh Bisma duduk disebelahnya, "ada apa sih?"
"Gue mu ngomong, hal penting nih!"
"Apa?"
"Gue tanya nih Sa, lo?" Bisma menggantung kalimatnya
"Gue apa?"
"Lo mau ke luar negri?" terka Bisma dengan wajah sedikit tak percaya
"Hah? Lagi nyindir nih ceritanya? Nyindir gue nggak bisa bahasa Inggris?"
"Ehh bukan gitu!" elak Bisma
"Terus?"
"Kan emang lo nggak bisa bahasa Inggris," ujarnya membuat Avisha kesal
"Heh dasar lo ya!"
"Sorry, sorry. Tapi beneran deh gue liat paspor atas nama lo kemaren di tas Bang Ihza!"
"Hah serius lo? Kenapa bisa gue punya paspor?"
"Kayanya, berkas-berkas yang diminta Bang Ihza itu syarat buat paspor deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)