Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
(Coba kalian puter lagunya pas baca part ini, wkwk menurutku pas banget si ama chapter ini)
🦄🦄🦄
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
No post
🦄🦄🦄
happy reading gays🤗
🌹
Ada dua manusia yang saling termenung, menatap satu bungkus ayam di atas meja, bukan itu yang membuat mereka canggung tetapi kehadirannya secara tiba-tiba membuat pemilik rumah termenung.
Suara langkah kaki yang amat cepat itu mendekat ke arah mereka yang tengah duduk di sofa, "Hai, lo udah dateng ternyata. Bagus kalo gitu lo temenin adek gue!"
Indah membuka tas minimalis yang ia kenakan malam ini, dandanannya begitu mencolok mengenakan dress warna merah menyala serta, riasan wajah yang menor membuat Avisha mengerutkan dahinya tak percaya, itu Indah?
Indah men-tuch up bedak padat yang ia raih dari dalam tasnya, ia melirik kaca yang terdapat pada bedak tersebut. "udah oke kali ya? Hmm kayanya udah deh," gumamnya
Kini tatapannya beralih menghadap dua orang yang tengah menatapnya, "gue pergi bentar ya, ada acara tunangan temen gue, bentar doang kok ngasih selamat trus balik."
Indah memasukkan kembali bedak touch-up ya, mereka masih terdiam melihat aksi Indah yang begitu membingungkan, "Sa gue minta tolong, Mama Papa gue pergi ada acara lelang gitu, trus gue juga mau pergi ama cowo gue. Gue minta tolong jagain adek gue yah!"
"Ha?" ucap mereka bersamaan
"Widih kompak kali, jodoh kalian!" ujar Indah pada mereka, "oke, nikmati waktu bersantai, jagain dia ladenin ya Sa, dia lagi sakit."
Setelah mengatakan demikian kini Indah melangkah cepat meninggalkan mereka berdua, "woii! Maksudnya apaan?" teriak Avisha yang tak lagi di gubris oleh Indah
Tubuh Indah tak lagi nampak dalam pandangan mereka, rasa menyesal menyelimuti hati Avisha yang memanas, bisa-bisanya ia tertipu dengan ucapan manis Indah di telfon, dan yang lebih parahnya lagi Ihza mau-mau saja mengantarnya ke rumah Revan.
"Kenapa lo?" sinis Revan
Avisha memutar bola matanya malas, sakit apaan, masih bisa duduk tenang dan berbicara santai, bukankah jika sakit seharusnya terbaring di tempat tidur? Ya meski tubuhnya terbalut jaket tebal dan wajahnya sedikit pucat.
"Jadi lo sakit? Fisik lu Pan. lemah banget cuma liburan dua hari," ucapnya datar. "dan lo mau muncak? Yang ada lo pulang tinggal nama."
"Maksud lo apa? Ini semua juga gara-gara lo, karena lo ja-" Revan menghentikan pembicaraannya tiba-tiba, hampir saja ia keceplosan