Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
No post.
🌹 Happy reading❤️
🦄🦄🦄
Anya mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap wajah Avisha yang begitu masam, bukankah tadi pagi bertemu Alano? Tapi kenapa bisa sesedih ini?
"Sa! Are you okey?"
Avisha masih saja sibuk menscrool beranda Instagram, meskipun sebenarnya ia ingin sekali keluar dari aplikasi tersebut karena kuotanya yang mulai menipis, namun keinginan dan rasa penasarannya melihat video EXO dan beberapa video lokal yang sedang viral membuatnya enggan beralih.
"Woi Apisa!" seru Anya
Seketika Avisha terperanjat, matanya melotot hingga bola matanya seperti ingin keluar.
"Serem amat," lirih Anya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mencoba mencari tahu apa penyebab sahabatnya termenung. Ah dapat
"Lo sedih nggak bisa ngerjain tugas MAT? kalo lo mau ntar malem gue kerumah lo deh, gue ajarin!"
"Apaan si." Avisha memutar bola matanya malas, "oke gue mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya kepada nyonya Anya yang sudah mengajarkan materi tadi, tapi sepertinya saya sudah cukup paham untuk mengerjakan sendiri," ucapnya di sopan-sopan kan
"Hmmm padahal gue lagi malesss," gerutu Avisha di manja-manjakan seperti anak kecil
"Yaudah gue sendiri aja ke kantin."
"Eeh eh iya iya, elah ngambekkan amat lu, Nya!" jawab Avisha secepat kilat, ia sangat takut Anya merajuk
Langkah mereka beriringan, menyusuri koridor sekolah, namun saat tiba si samping toilet tiba-tiba ada seseorang perempuan yang menabrak tubuh Avisha, untung saja tabrakannya lemah hingga tak membuat tubuh Avisha terhuyung sedikitpun.
"Ehh maaf maaf," seseorang yang menabrak Avisha sedikit mengangkat kepalanya, "Avisha? Maafin aku, Sa!"
"Aril?" tanya Avisha dengan alis yang terpaut
"Maafin aku ya? Aku nggak sengaja beneran!" mohonnya
"Iya, tapi kenapa lo buru-buru banget, dan lo abis nangis ya?" tebak Avisha yang melihat mata Ariala yang begitu sembab
"Sa!" peringat Anya dengan sedikit memukul pergelangan tangan Avisha
"Nggak, kalo gitu aku duluan!"
Ariala berlalu meninggalkan mereka yang tengah menatapnya, langkahnya cepat masih sama dengan kepala yang tertunduk.