Avisha merasa isi perutnya sedang tidak baik hari ini, apa karena ia memakan makanan pedas semalam? Iya tentu saja apalagi dalam porsi yang banyak, huh dasar Revan.
Ia mencoba untuk mengatur nafasnya, sebentar lagi ia sampai ke kelas. Ayo Avisha kamu pasti tahan
Ketika memasuki ruang kelas, semua mata tertuju pada Avisha bahkan yang tadinya melakukan sesuatu kini berhenti dan menatap Avisha yang tengah kebingungan. Ada apa?
Namun Avisha terus melanjutkan langkahnya, dan sesuatu yang tak terduga terjadi di atas mejanya. Mejanya penuh dengan buah Apel yang di tempel kertas memo, dengan pelan Avisha meraih satu apel dan disitu tertulis 'Maaf' Avisha meraih apel lainnya 'maafin aku ya' 'i'm so sorry'
Tak lama kemudian semua teman sekelasnya memeluk Avisha sembari mengucapkan kalimat maaf, "maafin kita ya Sa," ujar Nuri
"Sorry Sa, nggak seharusnya kita menghakimi lo!"
"Maafin gue Sa, gue yang udah nyuruh kelas 11 nulis di blog sekolah tentang toko ayam nyokap lo!" ujar Somi, "maaf, gue bener-bener minta maaf!"
Begitulah ucap seisi kelas, Avisha tersenyum mendengarnya meski hatinya masih sakit atas pembullyan itu, tapi sepertinya mereka tulus mengucapkan maaf.
"Gue nggak tahu kalo Bokapnya Anya yang udah bikin lo kaya gini!" ujar Somi
Seketika Avisha melirik Anya yang masih terdiam di mejanya, dari semua teman sekelas hanya Anya dan Ariala yang duduk dan tidak meminta maaf, untuk murid lelaki mereka hanya memberi apel dan ucapan maaf di kertas memo.
"Iya Sa, gue juga masih nggak nyangka!" sahut yang lain
"Padahal kalian deket banget kan?" tanya Nuri
Avisha tahu perasaan Anya sekarang, pasti ia merasa dihukum padahal ia tak melakukan kesalahan apapun.
"Menurut gue, siapapun dan apapun yang orang perbuat entah itu salah atau benar, kalian nggak berhak menghakimi orang tersebut," ucap Avisha pada mereka.
Mereka hanya mengangguk, Avisha tahu mereka adalah tipe yang suka mencampuri urusan orang dan tipe yang suka menghakimi seseorang, maka dari itu Avisha takut mereka akan membully Anya seperti mereka membully dirinya.
"Selamat pagi semua!" salam Miss Ranta, guru bahasa Inggris yang baru saja masuk.
Seketika itu semuanya kembali ke mejanya, begitupula Avisha yang sibuk merapihkan apel dan memasukkannya ke dalam tas, saat merapihkan apel-apel tersebut ada satu amplop yang berada di posisi paling bawah. Avisha melirik Miss Ratna sepertinya tengah menerangkan sesuatu, jadi ia membuka surat itu dan membacanya.
Avisha.
Maaf
Surat sebesar ini hanya berisi dua kalimat? Kenapa tidak menempelkan memo saja di mejanya, ah sudahlah entah dari siapa tidak ada namanya yang pasti kamu saya maafkan.
Namun, setelah diamati lebih dalam sepertinya Avisha mengenal tulisan ini, dari huruf A yang sangat tidak asing ini, Anya? Itu kamu bukan? Kita satu bangku cukup lama tidak mungkin Avisha lupa tulisan ini.
"Hei! Penghuni meja belakang!" panggil Miss Ratna, namun Avisha masih saja fokus mengamati surat itu
"AVISHA!" panggil Miss Ratna dengan suara lantangnya
"Aah iya kenapa Bu?" ujar Avisha gelagapan
"Baca teks yang sudah saya jelaskan tadi!"
Avisha menggigit bibirnya, ia panik dan tangannya berusaha meraih buku dari dalam tas dengan hati-hati
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)