Bagian 60|| Marga

287 25 0
                                        

Ahdi membuka pintu mobilnya dengan kasar, ia berlari masuk kedalam rumahnya ia sangat panik dengan keadaan Alano sekarang.

Saat dirinya masuk sudah ada dokter yang tengah mengobrol dengan suster, dan Alano terbaring di atas tempat tidurnya. Mengetahui Ahdi datang Dokter dan suster itu berdiri dan menyampaikan apa yang terjadi apada Alano.

"Gimana keadaan anak gue Ren?" tanya Ahdi pada Dokter yang tak lain adalah temannya sendiri, dokter Rendi juga yang mengobati Alano dari awal ia mengalami Bipolar, dan ia juga yang menyarankan agar Alano menjalani masa terapinya di Shanghai

"Alano mengalami stress berat, jadi Bipolar yang ia miliki kembali kambuh dan harus mengalami masa terapi."

"Masa terapi cuma rawat inap biasa kan?" tanya Ahdi penuh harap

"Tidak tentu juga, Alano ini sangat sensitif dengan berbagai kejadian bisa jadi Alano harus menjalani masa terapi di China."

Ahdi menghembuskan nafas berat, jadi ia harus berpisah dengan putranya lagi? Dulu ia sangat membenci jarak yang memisahkan dirinya dengan Alano, ia juga merasa sangat lelah karena sesekali harus mengunjungi Alano dan mengurusi bisnis kerjanya di Indonesia. Tapi, mau bagaimana lagi

"Gimana Ahdi?" tanya Dokter Rendi

"Berapa lama?"

"Tergantung perkembangannya, lagian dulu juga hanya satu tahun kan? Alano masih bisa kembali ke SMP lamanya dan benar-benar melupakan kejadian menyakitkan baik itu karena kepergian Bundanya dan kejahatan teman-temannya," ujar Dokter Rendi berusaha menenangkan Ahdi

"Dia memang kuat, tapi rasanya berat harus berpisah dengan jarak yang sangat jauh," keluh Ahdi

"Lo percaya aja Ahdi, gue yakin Alano pasti sembuh secepatnya, dan pastinya kesembuhannya juga tergantung support dari lo!"

Ahdi tersenyum, ia memandangi wajah putranya yang terlelap ingin sekali rasanya bahagia bersama anak tampan ini, tapi lagi-lagi rasa egois dan takdir menguji.

"Kira-kira aman nggak ya, gue minta izin atas pernikahan gue?"

"Ya ucapkan saja Ahdi, dan selamat ya orang yang lo cintai datang pada waktunya!"

Ahdi terkekeh, "bisa aja lo Ren, mentang-mentang tau semua tentang gue."

"Yah gitu lah, yaudah gue pergi ya!" pamit Dokter Rendi

"Oke, thanks ya!"

"Oh ya, kalo Alano udah siap ke Shanghai hubungi gue oke?"

"Siap!"

Rendi mengemasi barang-barang yang ia bawa, ia juga di bantu suster membawakan barang dan mengantarnya ke depan.

Ahdi mendekat kearah putranya, ia berlutut dan menundukkan kepalanya di bahu Alano, ia merasa gagal menjadi seorang Ayah yang baik. Entah apa yang kamu dengar dari mulut Dikto Alano, yang pasti Ahdi sangat menyesal sekarang karena membiarkanmu berbicara dengan orang yang sangat salah.

Ahdi memang tak selalu di samping putranya, ia juga sering memaksa Alano untuk belajar karena ia satu-satunya pewaris, Ahdi selalu tutup telinga dan enggan bertanya apa yang Alano inginkan? Ia hanya berfikir jika Alnao baik-baik saja karena telah selesai dengan masa terapinya.

Ahdi menangis di samping tubuh putranya, ia terisak dan tak sanggup mengatakan jika dirinya akan menikah.

"Maafin Ayah Lano," ujar Ahdi dengan suara seraknya, ia menangis sembari memeluk tubuh putranya

Ahdi mengangkat kepalanya lalu dibelainya surai sang putra, "Minggu depan Ayah mau menikah, beri izin Ayah ya? Meskipun nanti Ayah menikah lagi, Ayah akan tetap sayang sama kamu dan," kalimatnya tergantung karena ia tak sanggup memahan tangis

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang