Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Revan tak mengindahkan pertanyaan Vino, atensinya beralih ke seseorang yang baru saja datang dari pintu masuk. Cantik
Vino dan Raikhan yang sadar akan tatapan Revan, mereka mengikuti arah pandang Revan, ada Avisha disana ia menggandeng seorang kekasih.
"Itu Avisha yang sering ke rumah lo dulu kan?" tanya Raikhan sembari menatap
"Cantik ya sekarang, bukannya dulu lo pernah suka ya sama dia!" ujar Vino
Revan langsung mengeplak dahi Vino, kenapa bisa begitu cablak mulut lelaki ini, "bisa diem nggak lo!"
"Oh iya gue inget," sahut Raikhan tiba-tiba, membuat mereka menatap kearahnya, "dulu pas kita main ke rumah lo ada si Avisha tuh, eh dianya langsung kabur pas kita dateng. Lo inget nggak, Vin? Lo dulu nanya namanya sama Revan katanya lo mau deketin dia."
"Kapan? Kok gue nggak inget?" sahut Vino
"Ehhh pas kelas sembilan SMP, terus Revan langsung ngaku-ngaku kalo Avisha itu pacarnya, hiyaaaaa."
Mereka tergelak, menertawakan Revan dahulu yang sering mengaku-ngaku sebagai pacar Avisha, padahal yang Revan lakukan itu agar mencegah Vino untuk mendekati Avisha. Atau emang bener-bener ekhem
"Eh gimana kalo kita panggil Avisha?" ujar Vino
"Boleh, boleh. Ehh tapi lo pura-pura baru liat dia ya," sahut Raikhan
"Oke oke."
Vino memanggil Avisha agar datang kesini, dan benar saja kini ia melangkah kemari namun seseorang yang di gandeng Avisha itu membuat Revan malas menatapnya, padahal Avisha sangat cantik malam ini.
Vino dan Raikhan terus saja mengeluarkan cuitannya, sudah Revan lerai namun tetap saja mereka seperti tidak pernah melihat cewek cantik.
Mungkin karena cuitan mereka membuat Alano tak nyaman, benar saja ia menarik lengan Avisha dan membawanya ke salah satu meja tamu.