Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Avisha ikut terkekeh dengan ucapan Mbak Mian barusan, dirinya memang belum ganti baju bahkan belum mandi dari awal pulang sekolah, tadinya ia akan pulang setelah melahap satu porsi ayam, tapi ketika kakaknya mengirim pesan dan akan menjemputnya Avisha jadi menunggu lama di toko.
Mbak Mian sudah pergi dari tadi, hanya ada pelayan toko yang tak lain adalah mas Dio, pelayan dengan tatapan datar dan tak banyak bicara, tugasnya memang dibelakang tapi karena jadwal kerja mbak Mian sudah selesai sementara digantikan oleh mas Dio sambil menunggu Shinta datang ke toko.
Benar kata mbak Mian makin malam makin ramai saja, tak jarang mereka membawa pasangan dan setiap kali masuk pasti melirik Avisha yang tengah duduk sendiri apalagi ia masih mengenakan seragam sekolah meski dibalut cardigan namun ciri khas seragam OSIS SMA masih terlihat.
Avisha merasa risi, kini dirinya menenteng tiga bungkus ayam untuk di bawa pulang, ia melangkah menuju kehadapan mas Dio yang tengah sibuk menuliskan pesanan pengunjung, sebelum akhirnya selesai dan menatap Avisha.
"Mas Dio gue pulang dulu ya!" ujarnya pada Dio
Dio hanya mengangguk paham.
"Nanti bilangin ke Mama tadi gue kesini, sekalian bilangin gue mau keluar sama Abang. Bilangin ya mas?!"
Dio menatap datar Avisha, membuat Avisha menduga jika ucapannya terlalu panjang sampai-sampai mas Dio tidak bisa mengingatnya, tapi jika tidak tahu kenapa harus diam dan tidak bertanya kembali?