Bagian 70|| END

554 26 7
                                        

"Bisma!" panggil Rani, Mamanya Revan dengan nafas tersengal-sengal

"Loh Tante? ada apa kesini pagi-pagi?" tanya Bisma yang khawatir karena Sarah ini berlari dari mobil menuju ke dalam rumahnya

"Syukurlah kamu masih di rumah," ujarnya sembari mencoba menetralkan nafasnya, "Tante butuh bantuan kamu."

Bisma yang baru saja akan berangkat sekolah itu mengurungkan niatnya yang sudah memegang kunci mobil, "ada apa, Tante?"

"Tante minta tolong, temukan Revan dan Avisha, dia sama sekali belum ketemu sejak mau berangkat ke Amerika. Tolong, Bisma Tante dengar Avisha ada di rumah Papahnya, tolong kamu jemput dia dan bawa di ke Bandara ya?"

"Kok? Bandara Tante?"

"Iya, Revan udah berangkat tadi. Papahnya benar-benar nggak mau ngasih waktu buat Revan bicara sama Avisha."

"Iya, Tante."

***

Memang dasar egois, keras kepala. Kenapa mereka harus bersikap seolah-olah mereka itu kuat? Kenapa mereka selalu mementingkan diri sendiri dan tidak memikirkan bagaimana akibat dari perilakunya.
Kalau saja Tante Sarah tidak datang dan meminta bantuan agar mempertemukan Avisha dan Revan mungkin mereka harus menahan rindu bertahun-tahun, dan terpisah tanpa ucapan selamat tinggal.

Avisha terus saja menangis di sepanjang perjalanan menuju bandara, tangisannya semakin keras saat Bisma terus membentaknya dan menyalahkan atas keegoisannya. Padahal sudah beberapa kali Bisma bilang jika kejadian di perpus hanyalah salah paham, itupun Bisma tahu dari kekasihnya, Adel. Tapi, yang namanya keras kepala Avisha sama sekali tak mempercayai ucapannya.

"Bisma, lo.. lo bisa cepet nggak sih?!" teriaknya di balik tubuh Bisma

"Diem lo! Siapa suruh jadi orang egois!" bentaknya tak kalah seru.

Bisma sudah menyuruhnya diam berkali-kali, dan itu akan membuat Bisma semakin tersulut emosi untuk memarahi Avisha atas perilakunya yang kekanak-kanakan.

Setibanya di Bandara, Avisha langsung berlari kencang. Namun, di depan dia di hadang oleh dua security.

"Maaf, kamu bukannya pelajar ya? Kenapa kamu bolos?" tanya security itu

Avisha sama sekali tak mengindahkan pertanyaan security itu, ia terus melihat ke dalam dan berharap menemukan sosok Revan disana.

Bisma yang baru saja datang setelah memarkirkan kendaraannya langsung membujuk security agar mereka di izinkan masuk.

"Pak, tolong. Dia mau ketemu Ayahnya yang mau operasi di luar negri. Dia takut apakah operasinya gagal jadi apakah ini hari terakhir dia bertemu Ayahnya?" ujar Bisma berbohong dengan dramatis

Avisha sama sekali tidak peduli dengan celoteh Bisma bersama security itu, matanya memerah dan terus melihat ke dalam.

"Baik, tapi saya sarankan agar kalian tidak berbuat onar."

"Siap, Pak!"

Mereka langsung berlari, dan sesampainya didalam pertama kali yang Avisha lihat adalah papan keberangkatan, sial pesawat Revan take off lima menit lagi.

Bisma terus menunjukkan jalan untuk penumpang yang akan take off, namun mereka kembali di hadang karena mereka bukan penumpang.

Mata Avisha liar mencari Revan di kerumunan orang-orang, ia benar-benar kesal, bahkan penjaga disini sulit dibohongi oleh Bisma tidak seperti security di depan tadi.

Avisha putus asa, jika dia tidak menemukan Revan disini, dia pasrah.
Namun, ia akan tetap nekat melakukan ini, dan berharap Revan mendengarnya walau hanya satu kata.

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang