Bagian 8|| Sosok Sahabat

996 75 0
                                        

🦄🦄🦄

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🦄🦄🦄

"Ihza," panggil Dikto Abidana

"Iya, Pah?" Ihza kecil merentangkan kedua tangannya dan kini tubuhnya diangkat oleh papahnya.

"Ihza mau ice cream? Liat deh yang rasa coklat kayanya enak!" Dikto menunjuk kearah pedagang ice cream

"Waahh iya, Pah Ihza mau, tapi turunin Ihza ya Pah! Ihza kan udah gede." Ihza merengek minta diturunkan

"Bagi Papah kamu itu anak kecil," ucap Dikto sambil menurunkan Anaknya. "Ayok!"

"Yang masih kecil itu Apisa Pah, Ihza udah gede."

Dikto hanya tersenyum, tak hanya ice cream yang ia beli ia membelikan semua kebutuhan sekolah Ihza dan makanan pribadi untuknya.

Kini mereka berada didalam mobil yang melaju menuju rumah, sesampainya di rumah Ihza langsung membuka makanan dan barang-barang mahal lainnya.

Avisha kecil mendekat kearah kakaknya, "Pah aku kok nggak diajak jalan-jalan sih." kini Avisha kecil mengerucutkan bibirnya. "Aku juga kan pengen, beli ice cream sama baju baru."

"Yaudah ini, minta Kakak aja." Ihza menyerahkan ice cream strawberry untuk Avisha

Namun tangan Ihza langsung ditepis kasar oleh Dikto, "jangan! Nih kamu beli gorengan sama Mama, ini semua punya Kakak kamu kamu ngga boleh minta!" suaranya sangat keras hingga membuat Avisha menangis sesenggukkan, sedangkan uang sepuluh ribu masih tergenggam ditangannya.

"Mama," rengek Avisha saat menangis

Shinta yang baru saja selesai memasak pun langsung berlari menuju ruang tamu, "ada apa lagi?" kini Shinta membelai lembut rambut putrinya

"Tolong ajari anakmu, apapun yang bukan miliknya jangan diambil!" cetus Dikto pada Shinta

"Anakmu? Ini anak kita mas! Sebenarnya apa yang membuat kamu memperlakukan beda pada anak kita?" bahu Shinta bergetar ia memeluk erat putrinya, mereka berdua sama-sama menangis.

Ihza kecil membuang sembarang ice creamnya, ia ikut memeluk kedua wanita berharga dalam hidupnya, "Mamahnya, Apisa jangan nangis!"

"Ihza ikut, Papah!" tubuh Ihza diseret kasar oleh Dikto mereka berdua pergi keluar rumah

"Pah, lepasin aku mau peluk Mama!" Rengek Ihza pada Dikto, tetapi Dikto tetap pada pendiriannya.

Jika sudah terjadi keributan di rumah, Dikto akan pergi meninggalkan rumah tak lupa ia selalu membawa Ihza pergi bersamanya.

***

Tatapannya kosong, tak ada senyum pagi ini fikiran Avisha masih terputar memori-memori menyedihkan, hari minggu yang menyebalkan.

"Avisha kamu masih tidur ya?" sepertinya sang pemilik suara mulai mendekat, segera Avisha menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.

"Heh dasar anak gadis, jam segini belum bangun." Shinta berlalu, meski hari minggu begini ia tetap bekerja, mungkin hari jum'at atau senin ia libur yang pasti ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang