!!!
Ada beberapa kata-kata kasar, saatnya lebih bijak dalam membaca(•‿•)
.
.
Seisi rumah tengah ramai saat ini, bahkan keluarga Radifka dan Aldelardo sedang disini. Yah tak lain anak mereka juga disini.
Mereka berkumpul untuk membicarakan pernikahan Shinta yang akan di laksanakan minggu ini.
Sebenarnya ada apa lagi ini, kenapa hari-hari Avisha menjadi hambar padahal ia seharusnya bahagia sekarang. Mungkin karena ia mengetahui kenyataan bahwa Alano sudah tidak lagi di Indonesia.
Entah dimana dia sekarang, bahkan saat pergipun Avisha tak dapat kabar dan ia tahu Alano pindah karena ia tanya kepada teman-teman sekelasnya lalu yang mereka hanya mengatakan bahwa Alano pindah ke luar negri. Entah dimana itu.
Akun Instagram tidak aktif, nomor WhatssApp dan telepon sudah tidak terdaftar, sebenarnya kamu kenapa Alano? Apakah sebegitu sulitnya berpamitan denganku?
Avisha semakin merasa bersalah, ia sadar betul bagaimana sikapnya terhadap Alano yang cuek dan terus mengabaikannya, bukannya tak peduli tapi perasaan Avisha sudah tidak seperti dulu lagi, dan kepercayaannya sudah tidak utuh Namun, bukan seharusnya kita saling diam bukan?
"Avisha"
"Sa!"
Panggilan itu membuat dirinya tersadar dari lamunannya, kini ia menatap beberapa orang yang ternyata memperhatikannya sedari tadi.
"Kenapa kamu kok nglamun?" tanya mamanya Bisma
"E eh, nggak kenapa-kenapa kok tan!" jawab Avisha
"Mending kamu kedepan, mungkin kamu lebih enjoy kalo sama Revan dan Bisma!" ujar mamanya Bisma
Ah iya benar, siapa tahu mereka tahu sesuatu tentang kepindahan Alano. Akhirnya Avisha ke depan dan menghampiri kedua teman cowoknya yang ternyata masih sibuk dengan layar ponselnya masing-masing, tak ada suara apapun dari mulut mereka yang ada hanya suara game yang sengaja mereka besarkan volumenya.
"Woi!" sapa Avisha
Bahkan mereka berdua mengabaikan Avisha yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ah shit!" umpat Bisma pada game yang sedang ia mainkan
"Ngga menghargai banget ya kalian!" ujar Avisha
"Bentar deh Sa, lima menit lagi!" ujar Bisma tanpa mengalihkan tatapannya
Revan tidak mengatakan apapun, matanya menyipit dan wajahnya sangat serius, sial kalo begini apa bedanya dengan duduk bersama para orang tua di dalam? Sama-sama diam dan tidak melakukan apapun.
Bisma bilang sebentar lagi, oke sudah sepuluh menit menuju sebelas menit mereka belum juga selesai. Sebenarnya Avisha sangat malas menunggu mereka, tapi mau bagaimana lagi namanya juga mengahargai tamu.
"Yeess akhirnya, huuh!" lega Bisma sembari melempar ponselnya ke atas meja, lalu ia menuang teh ke dalam gelas dan meneguknya.
Bisma melirik Revan sejenak, "semangat mas bro!"
"Ekhem!" kode Avisha yang tersadarkan oleh Bisma
"Ehh."
"Bisa bicara?" tanya Avisha
"Bisa bisa, euumm mbaknya punya keluhan apa?" ujar Bisma sembari berpura-pura sibuk memegang kertas dan pena
Dengan lengan yang ringan, telapak tangan Avisha mendarat sempurna di bahu Bisma. Rasakan
"Aaa aa!" rengek Bisma dengan lebay
"Lebay lo!"
"Lagian lo kenapa sih? Ngomong tinggal ngomong kek!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)