Avisha telah sampai di depan gerbang rumahnya, tak lupa sebelum mobil Alano melaju ia melambaikan tangan dan tersenyum kearah kaca mobil yang terbuka.
"Dari mana kamu?" pertanyaan itu keluar dari mulut Shinta Ilyana yakni mama dari Avisha. Ia sedari tadi membaca majalah pun mulai menepis majalah itu dan menatap tajam anaknya.
Avisha kini melangkah menuju sofa coklat yang diduduki mamanya, "darii, emm jalan-jalan samaa," ucap Avisha di buat seperti meledek Mamanya agar penasaran apa yang akan di katakan anaknya.
"Apa? Kamu pergi sama cowok? Oh jadi sekarang udah punya pacar?"
"Bukan pacar kok, tapi Mama doain aja biar," Avisha menaik turunkan alisnya dan menatap Mamanya itu dengan tatapan penuh permohonan, ia tahu jika mamanya tak suka anaknya itu berpacaran, mungkin Avisha sedang merayu agar Mamanya itu luluh.
"Biar apa? Biar pacaran?" Shinta menghela nafas kasar, anaknya begitu bandel dan ingin sekali memiliki pacar, larangannya seakan tak dihiraukan oleh anaknya, "selama anak itu baik buat kamu, Mama izinin."
"Ouuu makasi Mama, dia baik kok ganteng pula, mama pasti seneng punya mantu se-ganteng dia," Avisha memeluk erat tubuh Shinta diiringi senyum kegirangan
"Ya terserah kamu, yang kamu harus tahu ganteng aja ngga cukup buat jaga hati kamu, apalagi dia ganteng, banyak yang suka nggak?" Shinta tersenyum kecil setelah melihat anaknya yang tiba-tiba berubah ekspresi saat ia mengatakan demikian. "Hehe, Mama ngga bahas pacar kamu lagi deh."
Perilaku Avisha dan Mamanya itu lebih tepat seperti seorang teman, karena sikap Avisha bisa meluluhkan rasa lelah dan kecewa yang mengulum di hati Shinta. Begitupun sebaliknya Avisha sangat senang bertingkah layaknya anak kecil di depan Mamanya.
"Mama mah gitu, oh ya Mah Om yang kemaren kesini siapa?" akhirnya Avisha berhasil memberanikan diri untuk menanyakan siapa lelaki itu.
Shinta tampak mengubah lekung senyumnya menjadi ekspresi datar, "kemaren mau mamah kenalin, eh kamu malah lewat belakang."
Hanya itu yang terlontar dari mulut Shinta, ia paham betul apa maksud dari 'dikenalkan' ia hanya mengubah ekspresi bingung menjadi senyum ringan, mungkin terpaksa senyum
"Avisha mandi dulu."
***
Avisha tengah mencatat tugas, mungkin karena ia menyalin jawabannya dari google tatapannya tak fokus dan rasanya ingin sekali membuka WatsApp untuk menyapa Alano.
"Akhirnyaa," ucapan Avisha terdengar gusar, segera ia membaringkan tubuhnya dan mengecek apakah ada pesan masuk.
Tidak. Satupun tak ada chat masuk, meski ia menatap malas layar ponselnya itu ia mencari nama Alano di room chat miliknya.
Baru saja ia akan mengetikkan pesan untuk menyapa, layar ponselnya menunjukkan nama 'Alano ganteng' panggilan suara
Seketika Avisha dengan sigap mengangkat telpon
"Hai, lagi ngapain?" sapanya pada Avisha
"Eh tumben kamu nelfon?" Avisha heran sendiri, karena tak biasanya Alano menghubunginya lebih dulu.
"Kenapa ngga suka ya?"
"Ngga kok, suka pake banget malahan, tapi kan biasanya jam segini aku chat pasti kamu nggak bales."
"Iya, baru selesai belajar soalnya"
"Oh gitu, oh ya kenapa kamu telfon?" tanya Avisha
"Cuma mau nanya, capek nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)